PBB Luncurkan Prinsip-Prinsip Global untuk Integritas Informasi
Foto: Andrew Neel di Unsplash.
Perkembangan teknologi membuat informasi menyebar dengan sangat cepat. Setiap orang dapat mencari, berbagi, dan menerima informasi kapanpun dan dimanapun. Namun, pada saat yang sama, kemajuan teknologi juga membuat misinformasi dan ujaran kebencian semakin meningkat. Pada 24 Juni 2024, PBB meluncurkan Prinsip-prinsip Global untuk Integritas Informasi untuk menjaga ekosistem informasi yang sehat.
Tantangan Saat Ini
“Dunia harus mengatasi bahaya yang disebabkan oleh penyebaran kebencian dan kebohongan online dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam acara peluncuran Prinsip-Prinsip Global untuk Integritas Informasi.
Misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian dapat meningkatkan kerentanan yang dialami kelompok marginal, termasuk diskriminasi gender dan rasisme. Selain itu, ketiganya juga dapat memicu konflik, mengancam demokrasi dan hak asasi manusia, merusak kesehatan masyarakat, dan mengancam upaya aksi dan advokasi perubahan iklim, misalnya berupa bantahan bahwa hal tersebut ‘tidak nyata’ atau ‘tidak cukup parah’.
Pertumbuhan risiko tersebut didorong oleh pesatnya perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), sehingga meningkatkan ancaman terhadap kelompok-kelompok yang sering menjadi target di ruang informasi, termasuk anak-anak.
Prinsip-Prinsip Global untuk Integritas Informasi merupakan pedoman holistik bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat integritas informasi dan mencapai ekosistem informasi yang lebih sehat.
“Pada saat miliaran orang terpapar narasi palsu, distorsi, dan kebohongan, prinsip-prinsip ini memberikan jalan yang jelas ke depan, yang berakar kuat pada hak asasi manusia, termasuk hak kebebasan berekspresi dan berpendapat,” kata Sekretaris Jenderal PBB.
Menjaga Integritas Informasi
Pada intinya, kerangka kerja ini terdiri dari lima prinsip untuk memperkuat integritas informasi, yaitu kepercayaan dan ketahanan masyarakat; media yang independen, bebas, dan pluralistik; transparansi dan penelitian; pemberdayaan masyarakat; dan insentif yang sehat.
Integritas informasi merujuk pada keberagaman ruang yang mendukung hak asasi manusia, mewujudkan masyarakat yang damai, dan masa depan berkelanjutan. Hal ini memungkinkan setiap orang untuk memiliki ruang informasi dan menjaga pendapat dan ide secara aman dengan privasi dan kebebasan.
Beberapa negara, termasuk Indonesia, berkontribusi dalam proses penyusunan prinsip-prinsip tersebut. Pada Desember 2023, Pusat Informasi PBB (UNIC) mengadakan konsultasi di Jakarta yang menyoroti pentingnya penegakan hukum dan etika, dukungan terhadap media independen, dan program literasi digital. Acara ini dihadiri oleh pejabat Kementerian Komunikasi dan Informatika, perwakilan perusahaan media, jurnalis, akademisi, dan perwakilan organisasi masyarakat sipil.
Ruang Informasi yang Lebih Aman untuk Semua
Prinsip-prinsip Global untuk Integritas Informasi ini memuat sejumlah rekomendasi bagi para pelaku utama, khususnya pemerintah, perusahaan teknologi, pengiklan, dan media, untuk mengembangkan ruang informasi yang lebih sehat dan aman yang berpusat pada hak asasi manusia. Beberapa di antaranya:
- Pemerintah, perusahaan teknologi, pengiklan, media, dan pemangku kepentingan lainnya harus menahan diri untuk tidak menggunakan, mendukung, atau memperkuat disinformasi dan ujaran kebencian untuk tujuan apa pun.
- Pemerintah harus menyediakan akses informasi yang cepat dan tepat, menjamin lanskap media yang bebas, layak, independen, dan plural, serta memastikan perlindungan yang kuat bagi para jurnalis, peneliti, dan masyarakat sipil.
- Semua pemangku kepentingan yang terlibat di pengembangan teknologi AI harus mengambil langkah-langkah yang mendesak, segera, inklusif, dan transparan untuk memastikan bahwa semua aplikasi AI dirancang, digunakan, dan dimanfaatkan dengan aman, terjamin, bertanggung jawab, dan beretika, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Pada akhirnya, penguatan integritas informasi sangat penting untuk mewujudkan dunia yang lebih baik dimana tidak ada seorang pun yang tertinggal di belakang. Menjaga ruang di mana informasi dapat dipercaya dan masyarakat dapat berinteraksi dengan aman dapat memperkuat suara orang-orang yang belum terdengar dan memobilisasi upaya kolektif untuk mengatasi berbagai tantangan mendesak yang ada di tengah masyarakat.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan