Krisis Pendidikan Anak di Yaman yang Diliputi Konflik
Foto: World Humanitarian Summit di Flickr.
Perang dan konflik selalu memakan korban, baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Sejarah mencatat bahwa perang dan konflik telah menyebabkan banyak orang mengungsi dan memperburuk kondisi kehidupan, terutama bagi kelompok yang paling rentan seperti perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Di Yaman, perang saudara yang berkepanjangan berdampak buruk pada kesejahteraan dan pendidikan anak-anak.
Konflik Yaman
Yaman adalah sebuah negara di Asia Barat dengan jumlah penduduk sekitar 33,7 juta jiwa. Negara ini telah mengalami perang saudara akibat konflik politik sejak tahun 2014, yang menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah. Pada tahun 2023, terdapat sekitar 4,5 juta pengungsi internal di Yaman.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan gencatan senjata nasional di Yaman pada April 2022, yang berlangsung hingga Oktober 2022. Meskipun gencatan senjata enam bulan telah membawa perbaikan dalam banyak aspek, termasuk bantuan kemanusiaan, peluang ekonomi, dan pengurangan kekerasan dan korban jiwa, masih banyak warga Yaman yang berjuang dengan kondisi kehidupan yang sulit hingga hari ini. Anak-anak dan remaja, misalnya, berjibaku dengan sistem pendidikan yang semakin buruk di negara tersebut.
Tahun 2024 menandai dua tahun sejak gencatan senjata diumumkan. Dalam laporan barunya, organisasi nirlaba Save the Children mengungkap bagaimana perjuangan anak-anak Yaman untuk memperoleh pendidikan inklusif dan berkualitas. Laporan tersebut menggabungkan survei, wawancara mendalam, dan focus group discussions (FGD) untuk lebih memahami kondisi pendidikan anak-anak di negara tersebut.
Pendidikan Anak di Yaman
Gencatan senjata nyatanya tidak meningkatkan akses terhadap pendidikan berkualitas dan inklusif di Yaman, sebagaimana disarankan oleh 58% pengasuh anak. Pada saat yang sama, angka putus sekolah masih menjadi tantangan utama. Laporan tersebut mencatat bahwa setidaknya satu anak di 34% keluarga Yaman terpaksa putus sekolah dalam dua tahun terakhir. Anak-anak yang menjadi pengungsi memiliki tingkat putus sekolah yang lebih tinggi (58%) dibandingkan dengan anak-anak di komunitas tuan rumah (27%).
Pekerja anak menjadi penyebab 44% kasus putus sekolah. Secara keseluruhan, konflik yang berkepanjangan telah memberikan dampak buruk terhadap perekonomian Yaman, dan pada akhirnya berdampak pada pendidikan anak-anak. Anak-anak seringkali harus menyeimbangkan antara belajar dan membantu keluarga mereka secara ekonomi, mengurangi fokus mereka dalam belajar dan meningkatkan risiko putus sekolah.
“Banyak anak di sini yang bekerja pagi-pagi sekali. Jika kau tidak memulainya sejak dini, kau akan ketinggalan dan tidak mendapat bayaran,” kata Khalid, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang membantu keluarganya dengan mengumpulkan barang rongsokan. Pekerjaan ini membuat Khalid sering bolos sekolah.
Ketidakterjangkauan juga turut menyebabkan 22% angka putus sekolah di Yaman. Meskipun pendidikan dasar di negara ini gratis, banyak keluarga masih harus membayar biaya lain, termasuk buku pelajaran, transportasi, alat tulis, dan seragam. Selain itu, 14% murid yang putus sekolah menyebutkan bahwa kurangnya rasa aman akibat konflik sebagai alasan mereka tidak kembali ke sekolah.
Guru Juga Terimbas
Selain berdampak pada pendidikan anak-anak, konflik dan krisis ekonomi di Yaman juga berdampak pada kesejahteraan guru. Banyak dari mereka yang harus mengambil pekerjaan sampingan untuk menghidupi keluarga mereka. Bahkan ada yang mempertimbangkan untuk pensiun dan bergabung dengan militer, karena gajinya yang lebih terjamin.
“Kami seringkali harus pulang lebih awal untuk melakoni pekerjaan lain, yang berarti lebih sedikit jam sekolah bagi anak-anak, sehingga membatasi waktu belajar mereka. Kami tidak pernah punya waktu untuk mempersiapkan pelajaran secara memadai, jika kami mempersiapkannya seperti biasa, hal ini juga mempengaruhi kualitas pengajaran dan keterlibatan murid di kelas,” kata Majed, seorang guru berusia 51 tahun. Ia mendapat penghasilan 89.000 riyal Yaman, setara dengan USD 55 (sekitar Rp892 ribu) per bulan.
Pendidikan di Tengah Konflik
Pendidikan adalah hak asasi manusia yang mendasar. Anak-anak dan remaja punya hak untuk memperoleh pendidikan inklusif dan berkualitas, bagaimanapun kondisi mereka. Oleh karena itu, menjaga akses ke pendidikan di tengah konflik sangat penting untuk menjamin pendidikan bagi semua orang.
Laporan tersebut diakhiri dengan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan pendidikan anak-anak di Yaman, beberapa di antaranya adalah:
- Pihak berwenang harus berkomitmen penuh terhadap proses perdamaian yang diperbarui dan inklusif untuk mengurangi dampak konflik, melanjutkan kegiatan ekonomi yang penting, dan memberikan gaji yang memadai bagi para guru.
- Negara-negara dan lembaga-lembaga donor harus meningkatkan dan mempertahankan dukungan untuk intervensi pendidikan dan memastikan anak-anak menerima pendidikan yang berkualitas dan protektif di sekolah-sekolah di seluruh penjuru Yaman.
- Para aktor kemanusiaan harus meningkatkan dan memperkuat intervensi perlindungan anak yang terintegrasi dan multi-sektoral untuk menjangkau lebih banyak murid dan guru yang membutuhkan.
Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit