Tren dan Penyebab Ketimpangan Ketahanan Pangan dan Nutrisi
Foto: Alice Young di Unsplash.
Makanan sangat penting untuk kelangsungan hidup kita. Namun, bukan sekadar makanan, tubuh kita membutuhkan makanan dengan takaran dan nutrisi yang tepat pada waktu yang tepat. Namun, hal ini masih merupakan sebuah kemewahan bagi jutaan orang di berbagai belahan dunia akibat adanya ketimpangan dalam hal ketahanan pangan dan nutrisi. Oleh karena itu, mengurangi ketimpangan ketahanan pangan dan nutrisi merupakan prioritas untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Tantangan Terbesar
Pada tahun 2022, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan, ada sekitar 691 hingga 783 juta orang mengalami kelaparan. Bagi anak-anak, kekurangan nutrisi dan makanan selama masa pertumbuhan mereka akan menyebabkan stunting dan wasting, sehingga berdampak pada banyak aspek penting lainnya, termasuk kognitif. Selain itu, pola makan yang tidak sehat dapat memicu obesitas dan masalah kesehatan lainnya.
Krisis pangan masih menjadi tantangan terbesar saat ini. Untuk mengatasi permasalahan ini, kita perlu melihat ketimpangan dalam ketahanan pangan dan nutrisi di seluruh sistem pangan. Terkait hal ini, Panel Ahli Tingkat Tinggi Ketahanan Pangan dan Nutrisi (HLPE-FSN) menerbitkan laporan utama “Mengurangi ketimpangan dalam ketahanan pangan dan nutrisi”. Laporan tersebut memaparkan gambaran yang lebih jelas mengenai tren, penyebab, dan rekomendasi mengenai ketimpangan dalam ketahanan pangan dan gizi.
Ketimpangan dalam Ketahanan Pangan dan Nutrisi
Ketimpangan dalam sistem pangan terjadi ketika orang-orang dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan geografis yang berbeda memiliki kesehatan dan akses yang berbeda terhadap aspek-aspek terkait sistem pangan, seperti pasokan dan distribusi pangan. Ketimpangan mengacu pada masalah sistemik yang menyebabkan perbedaan tersebut.
Ketimpangan ini terjadi di seluruh dunia dalam tingkat yang berbeda-beda. Namun, data dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa kasus kelaparan, kerawanan pangan, dan malnutrisi lebih banyak terjadi di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. Misalnya, wilayah Afrika memiliki prevalensi kelaparan tertinggi (20% dari populasi) dan kerawanan sedang atau parah (57,9% dari populasi).
Setali tiga uang, Asia Selatan, Melanesia, dan beberapa wilayah Afrika Sub-Sahara termasuk wilayah dengan kasus stunting dan wasting tertinggi. Sementara itu, prevalensi tertinggi obesitas orang dewasa terdapat di Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Selandia Baru.
Sementara itu, laporan tersebut menunjukkan bahwa kerawanan pangan lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Perempuan, anak perempuan, dan masyarakat di daerah pedesaan seringkali tidak mampu mendapatkan makanan yang sehat. Perempuan yang menderita anemia juga lebih mungkin berasal dari daerah pedesaan, dengan kondisi ekonomi yang buruk dan kurangnya pendidikan formal.
Memahami Kaum Terpinggirkan
Dalam sistem pangan, ketimpangan terjadi pada sumber daya produksi pangan, rantai pasok, lingkungan pangan, dan perilaku konsumen. Misalnya, perbedaan lokasi geografis, akses terhadap pengetahuan dan fasilitas pendukung pertanian, dan keterlibatan pasar dapat mempengaruhi cara orang-orang memperoleh pangan.
Selain itu, ketimpangan dalam ketahanan pangan dan nutrisi juga didorong oleh faktor-faktor di luar sistem, seperti pendidikan, sistem kesehatan, konflik global, dan perubahan iklim. Faktor-faktor ini turut memperburuk keadaan, terutama dalam hal dampak kesehatan yang berkaitan dengan pangan dan nutrisi.
Lantas, bagaimana cara mengatasi masalah sistemik ini? Pertama-tama, kita harus mengenali kelompok yang terpinggirkan, bagaimana, dan mengapa itu bisa terjadi. Kita harus memahami bagaimana ketimpangan itu bersifat interseksional dan antargenerasi serta ditentukan oleh ruang dan tempat.
Oleh karena itu, laporan tersebut mengusulkan kerangka kerja untuk membantu pemerintah, dunia usaha, dan kelompok masyarakat sipil mengatasi ketimpangan dalam ketahanan pangan dan nutrisi:
- Pengakuan: mengakui secara spesifik sejarah ketidakadilan dalam setiap konteks.
- Keterwakilan: memastikan bahwa kelompok-kelompok yang terpinggirkan benar-benar diberdayakan agar mendapatkan hak untuk menentukan pilihan tindakan untuk mengatasi ketimpangan.
- Redistribusi: memastikan kesempatan dan sumber daya dialokasikan secara adil, dan memastikan bahwa kerugiannya tidak ditanggung oleh mereka yang tidak memiliki kekuasaan politik.
Yang terpenting, tindakan untuk mengatasi masalah ini harus berpedoman pada prinsip-prinsip hak asasi manusia dan keadilan serta dengan mempertimbangkan seluruh data, konteks, dan bukti yang ada. Pada akhirnya, menghapus ketimpangan dalam ketahanan pangan dan nutrisi merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, sehingga memajukan pembangunan berkelanjutan secara keseluruhan.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut