Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan untuk Perikanan yang Berkelanjutan
Foto: Riddhiman Bhowmik di Unsplash.
Laut Indonesia memiliki sumber daya yang begitu kaya. Namun, sumber daya tersebut tidak terbatas. Pengelolaan sumber daya laut yang baik harus diterapkan untuk menjaga ekosistem tetap sehat dan memanfaatkan potensinya, termasuk penggunaan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan untuk mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh sejumlah peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mengungkap aspek-aspek yang berkontribusi terhadap penggunaan alat tangkap ikan ramah lingkungan oleh nelayan di Indonesia.
Dampak Alat Tangkap Ikan
Menangkap ikan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia selama ribuan tahun. Bagi masyarakat pesisir, menangkap ikan adalah salah satu sumber pendapatan dan penghidupan utama. Selain ikan, hewan laut lainnya yang ditangkap biasanya adalah kepiting, kerang, udang, lainnya, untuk dimakan dan dijual. Kail pancing, jaring insang, pukat-hela (trawl) udang, dan kapal keruk adalah beberapa alat tangkap yang paling umum digunakan untuk menangkap ikan.
Seiring berjalannya waktu, penggunaan alat tangkap ikan yang tidak sesuai dengan tujuan memaksimalkan tangkapan telah menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap satwa laut dan rusaknya habitat mereka. Misalnya, pukat hela (atau sering dikenal sebagai pukat harimau)—menyeret jaring sepanjang dasar laut dengan kapal—yang merusak terumbu karang, lamun, dan habitat kehidupan laut lainnya.
Lebih lanjut, World Wildlife Fund menyatakan bahwa 40% (38 juta ton) tangkapan laut global setiap tahunnya merupakan tangkapan sampingan atau tangkapan yang tidak diinginkan dan tidak dimanfaatkan, yang disebabkan oleh alat dan praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Hal ini dapat menyebabkan penurunan populasi keanekaragaman hayati laut. Oleh karena itu, penggunaan alat tangkap ikan yang berkelanjutan harus didorong untuk meminimalkan eksploitasi laut namun tetap memberikan nilai ekonomi yang tinggi.
Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan
Penelitian berjudul “Pengaruh Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan terhadap Kesejahteraan Nelayan dan Perikanan Berkelanjutan” memaparkan beberapa aspek yang berkontribusi terhadap pemanfaatan alat tangkap ikan ramah lingkungan (Eco-friendly fishing gear/EFFG) di Indonesia. Penelitian tersebut mengidentifikasi perangkap ikan dan jaring insang sebagai EFFG, sedangkan kapal keruk dan pukat harimau dianggap bukan EFFG.
Berdasarkan sampel dari 647 nelayan rajungan di dua wilayah pesisir Indonesia, Cirebon dan Demak, penelitian tersebut menemukan pentingnya sumber daya keuangan. Karena pembelian alat tangkap ramah lingkungan memerlukan dana yang besar, nelayan yang memanfaatkan EFFG biasanya memiliki kemampuan finansial dan akses kredit terhadap sumber daya keuangan yang lebih baik.
Lebih lanjut, penelitian tersebut menemukan bahwa nelayan yang menggunakan EFFG memiliki keterlibatan dan interaksi yang lebih tinggi dalam kelompok perikanan dibandingkan nelayan yang tidak menggunakan alat tangkap ramah lingkungan. Pemahaman mengenai perikanan berkelanjutan antara nelayan dan pelanggan juga dapat berkontribusi pada pemanfaatan EFFG, karena tuntutan pelanggan akan pertimbangan lingkungan dapat mendorong nelayan untuk menggunakan peralatan yang lebih ramah lingkungan.
Ekosistem Laut Berkelanjutan
Pemanfaatan EFFG berkontribusi terhadap kesejahteraan nelayan dan kelestarian dan kesehatan ekosistem laut. Menurut penelitian tersebut, nelayan yang memiliki EFFG menghasilkan tangkapan dan pendapatan tahunan lebih banyak dibandingkan nelayan non-EFFG. Selain itu, penggunaan EFFG mengurangi kemungkinan menangkap sasaran yang tidak diinginkan, seperti kepiting yang sedang bertelur.
Penelitian tersebut diakhiri dengan seruan kepada Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya untuk merancang kebijakan dan strategi yang efektif dalam penerapan alat tangkap ikan ramah lingkungan. Memfasilitasi akses kredit, memperluas penyebaran informasi EFFG, dan mengembangkan inisiatif penangkapan ikan yang berkelanjutan sangat penting untuk mendukung upaya global untuk ekosistem laut yang berkelanjutan.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan