Langkah Slow Food Lestarikan Sistem Pangan Lokal yang Baik, Bersih, dan Adil
Foto: Peter Wendt di Unsplash.
Makanan adalah sumber kehidupan kita, dan bagaimana proses produksinya juga merupakan hal yang penting. Umumnya, orang jarang berbicara tentang bagaimana makanan diproduksi dan dari mana asalnya, termasuk hubungan antara makanan dengan budaya, lingkungan, dan bahkan politik. Organisasi global Slow Food saat ini sedang mencoba mengusung diskusi tentang sistem pangan lokal.
Baik, Bersih, dan Adil
Sejak 1989, Slow Food telah berupaya melestarikan budaya makanan lokal dan mengembalikan minat masyarakat terhadap makanan yang mereka makan, termasuk soal di mana dan bagaimana makanan di piring kita diproduksi.
Slow Food percaya bahwa pilihan makanan masyarakat dapat mempengaruhi bagaimana makanan dibudidayakan, diproduksi, dan didistribusikan. Memilih makanan yang bersumber, diproduksi, dan didistribusikan secara berkelanjutan dapat menjadi pilihan yang baik bagi orang-orang yang memiliki sarana dan sumber daya untuk mengaksesnya. Ada tiga prinsip panduan dalam misi Slow Food:
- Baik, menunjukkan bahwa cita rasa suatu makanan harus merupakan hasil kerjasama antara kompetensi produsen dengan mutu bahan baku dan cara produksi, tanpa mengubah kealamiannya.
- Bersih, menunjukkan bahwa mempraktikkan keberlanjutan dan menghargai lingkungan harus dilakukan di setiap tahap rantai produksi, mulai dari pertanian hingga pemasaran dan konsumsi.
- Adil, menunjukkan bahwa menciptakan kondisi kerja yang saling menghormati dan bertanggung jawab adalah keharusan untuk mencapai keadilan sosial.
Menjaga sistem pangan lokal
Organisasi yang berbasis di Italia ini telah memiliki cabang di lebih dari 160 negara, melibatkan jutaan orang dalam gerakan globalnya. Setiap daerah memiliki proyek sendiri untuk melindungi sistem pangan lokal.
Di Filipina, Komunitas Slow Food di Pulau Negros, bermitra dengan Slow Food dan Departemen Pariwisata Wilayah VI Filipina, baru saja menyelesaikan tahun kedua proyek “Makanan dan Pariwisata untuk Pembangunan Pedesaan di Visayas Barat, Filipina” dengan hasil baik. Proyek ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mempromosikan, dan melestarikan beragam sistem pangan lokal Visayas Barat sebagai insentif tambahan bagi wisatawan internasional dan domestik. Kegiatan awal pemetaan keanekaragaman hayati berhasil mengidentifikasi 161 keanekaragaman hayati lokal.
Daerah lainnya mendirikan Slow Food Earth Markets, sebuah ruang bagi produsen dan pengrajin lokal untuk memamerkan produk lokal sambil berinteraksi langsung dengan pelanggan mereka. Dengan cara ini, produsen dapat menjelaskan siapa mereka, bagaimana mereka membuat produknya, dan bagaimana mereka menetapkan harganya. Ini juga merupakan upaya untuk melibatkan konsumen dalam ekonomi sirkular yang melindungi mata pencaharian mereka dan planet Bumi.
Memperkuat ketahanan pangan
Secara global, berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan. Agar benar-benar berhasil, diperlukan perubahan sistemik berskala besar yang akan memungkinkan masyarakat yang paling rentan mendapatkan akses yang layak ke makanan bergizi. Namun, beralih ke gaya hidup dan kebiasaan makan yang lebih sadar dan berkelanjutan bila memungkinkan adalah langkah yang dapat kita ambil sebagai individu untuk berkontribusi pada ketahanan pangan.
“Sistem pangan hanya dapat diubah jika kita berpikir secara global tanpa mengisolasi diri kita sendiri dalam struktur nasional dan tanpa memikirkan batas-batas politik kita sendiri. Itu harus dilakukan dengan semangat kolaborasi yang benar, terbuka, inklusif, dan suportif. Jaringan ini memiliki peran penting sebagai contoh keterbukaan dan semangat global,” kata Edie Mukiibi, Presiden Slow Food International.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan