Proyek Wild Deserts di Australia Berhasil Kenalkan Kembali Spesies yang telah Punah
Bandekut emas. | Foto: Wild Deserts di Facebook.
Ketika berbicara tentang kepunahan, pikiran kita biasanya tertuju ke hewan-hewan yang hidup pada zaman dinosaurus. Kenyataannya, kepunahan hewan merupakan fenomena yang sedang berlangsung saat ini. Namun, kita masih memiliki harapan. Di Australia, Proyek Wild Deserts dari Universitas New South Wales berhasil melakukan reintroduksi spesies yang telah punah dan mempromosikan ekosistem gurun.
Kepunahan dan upaya yang dibutuhkan
Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memperkirakan lebih dari 42.100 spesies di dunia terancam punah saat ini. Hilangnya habitat, yang disebabkan oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia, merupakan salah satu penyebab utama kepunahan. Akibatnya, penurunan keanekaragaman hayati menjadi salah satu masalah yang paling genting saat ini.
Banyak upaya telah dilakukan untuk menghentikan penurunan keanekaragaman hayati dengan harapan dapat mengembalikan yang telah punah. COP15 baru-baru ini meluncurkan kerangka kerja untuk menghentikan penurunan keanekaragaman hayati, dan berbagai upaya pemulihan ekosistem berlangsung di berbagai belahan dunia. Selain itu, upaya untuk mengembalikan spesies yang telah punah ke habitat aslinya juga dilakukan di seluruh dunia sebagai bagian dari translokasi konservasi.
IUCN mendefinisikan translokasi konservasi sebagai “perpindahan organisme secara sengaja dari satu lokasi untuk dilepaskan ke lokasi lain” yang dimaksudkan agar manfaat konservasi dapat diukur di dalam kawasan. Reintroduksi spesies adalah jenis translokasi konservasi di mana spesies yang punah diperkenalkan kembali ke dalam wilayah alaminya untuk membangun kembali populasinya. Melalui reintroduksi spesies, proyek Wild Deserts di Australia dimaksudkan untuk memulihkan mamalia lokal yang punah dan mengembangkan ekosistem gurun lebih lanjut.
Proyek Wild Deserts
Proyek Wild Deserts bertujuan untuk memahami, memulihkan, dan mempromosikan ekosistem gurun melalui manipulasi ekosistem, reintroduksi, dan kemitraan kolaboratif. Proyek ini dijalankan oleh Pusat Ilmu Ekosistem, sebuah unit penelitian di Universitas New South Wales (UNSW Sydney), dan bermitra dengan Ecological Horizons dan Departemen Perencanaan, Industri, dan Lingkungan NSW, bekerja sama dengan Taronga Conservation Society Australia.
Wild Deserts memulihkan ekosistem gurun di New South Wales dengan memperkenalkan kembali mamalia yang telah punah, mengendalikan spesies invasif, dan mengelola kanguru. Proyek ini dimaksudkan untuk mengembalikan tujuh mamalia lokal yang telah punah ke area seluas 40.000 hektare. Proyek ini memanfaatkan area pelatihan berpagar besar untuk mempelajari kemampuan bertahan hidup spesies-spesies tersebut dalam menghadapi predator, dilengkapi dengan kontrol predator dan teknik penelitian.
Setelah mensterilkan area tersebut dari hewan liar seperti kelinci, kucing, dan rubah, proyek ini pertama kali memperkenalkan mulgara berekor jambul pada Agustus 2020. Hingga 2022, proyek ini berhasil memperkenalkan kembali bilbies, bandekut teluk hiu, dan bandekut emas, dan masih berencana untuk memperkenalkan kembali tikus bersarang tongkat, bettong tanah (tikus kangguru), dan quoll barat.
Reintroduksi spesies untuk konservasi keanekaragaman hayati
Reintroduksi spesies dapat menjadi salah satu cara untuk membalikkan keadaan di tengah gelombang kepunahan flora dan fauna yang semakin hari semakin besar. Namun, upaya ini membutuhkan komitmen, pemantauan, dan evaluasi menyeluruh untuk menghindari bumerang dan kecelakaan serta untuk memastikan kemajuan berarti bagi pembangunan berkelanjutan.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan