ADB Luncurkan Kemitraan Baru untuk Dukung Ketahanan Ekonomi Laos
Foto: Simon Berger di Unsplash.
Republik Demokratik Rakyat Laos merupakan negara kecil di Asia Tenggara yang kaya akan sumber daya alam dan potensi energi terbarukan. Namun, perekonomian negara yang tidak memiliki laut ini dikenal rapuh. Merespons hal ini, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) meluncurkan strategi kemitraan lima tahun untuk Laos yang bertujuan untuk mendukung ketahanan ekonomi negara tersebut.
Ketahanan Ekonomi Laos
Laos merupakan rumah bagi lebih dari tujuh juta penduduk. Negara ini telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dalam dua dekade terakhir berkat investasi skala besar, khususnya di bidang pertambangan, pembangkit listrik tenaga air, dan transportasi. Pertumbuhan ini ditandai oleh beberapa faktor seperti pencapaian akses listrik yang hampir universal dan peningkatan angka penyelesaian pendidikan dasar.
Namun, terlepas dari pertumbuhan tersebut, Laos masih kesulitan dalam menciptakan lapangan pekerjaan, serta menanggung beban utang yang meningkat dan juga risiko iklim. Pandemi COVID-19 menyebabkan hilangnya pendapatan dan lapangan pekerjaan sebesar 5% PDB pada tahun 2022, seiring runtuhnya pariwisata dan menurunnya permintaan ekspor di Laos. Selain itu, ketidakseimbangan makroekonomi, seperti inflasi yang tinggi dan meningkatnya utang pemerintah, juga menambah kerapuhan perekonomian Laos.
Kemitraan Strategis ADB-Laos
Ketahanan ekonomi merupakan hal penting dalam upaya pembangunan berkelanjutan suatu negara. Pada Maret 2024, Bank Pembangunan Asia (ADB) meluncurkan strategi kemitraan baru untuk Laos. Strategi ini akan berlangsung selama lima tahun, mulai tahun 2024 hingga 2028, untuk membangun landasan yang lebih kuat demi perekonomian yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berketahanan di Laos.
Kemitraan ini bertujuan untuk mendorong pendanaan publik yang berkelanjutan, memungkinkan akses yang adil terhadap layanan, dan memajukan komitmen iklim. Strategi tersebut juga akan mencakup berbagai aspek lintas sektoral, seperti kesetaraan gender, tata kelola, ketahanan terhadap bencana, dan kerja sama regional.
“Bekerja sama dengan pemerintah, strategi kami dirancang untuk membantu Republik Demokratik Rakyat Laos menghadapi tantangan ekonomi dan keuangan untuk membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, dengan menekankan pentingnya stabilitas makroekonomi, peningkatan penyediaan layanan, dan ketahanan iklim sebagai pilar kerja sama kami,” kata Scott Morris, Wakil Presiden ADB untuk Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik.
Untuk mengatasi utang dan mendorong keuangan publik yang berkelanjutan, ADB akan berkolaborasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia untuk memperkuat tindakan kebijakan, mengembangkan keterlibatan sektor swasta, dan mereformasi pengelolaan utang. ADB juga mendukung inisiatif yang mengatasi keterbatasan layanan kesehatan dan pendidikan, mengatasi kerawanan pangan, dan meningkatkan akses keuangan untuk UMKM.
Lebih lanjut, strategi ini berencana untuk memajukan komitmen iklim di sektor iklim melalui investasi dan dukungan pengetahuan di bidang pertanian, pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan polusi dan limbah, serta manajemen risiko bencana.
Landasan Kuat untuk Pembangunan Berkelanjutan
Perekonomian merupakan salah satu pilar penting pembangunan berkelanjutan. Perekonomian yang kuat dan tangguh akan memungkinkan negara-negara memobilisasi sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan dan mempercepat aksi pembangunan berkelanjutan di bidang sosial, lingkungan, budaya, dan aspek lainnya. Dengan menyelaraskan strategi ini dengan tujuan, komitmen, dan strategi nasional Laos serta melanjutkan kemitraan sebelumnya, kemitraan ADB dengan Laos ini diharapkan akan mempercepat dan memperkuat ketahanan ekonomi di negara tersebut.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut