Akselerasi Instrumen Keuangan yang Responsif Gender
Peluncuran laporan “Pedoman Teknis Penandaan Anggaran Perubahan Iklim yang Responsif Gender”. | Foto: UNDP.
Setiap langkah dalam pembangunan berkelanjutan harus dilakukan dengan semangat tidak meninggalkan siapa pun (leaving no one behind). Mencapai kesetaraan gender dalam semua aspek merupakan bagian integral untuk menciptakan perubahan sistemik yang bermakna. Di Indonesia, Innovative Financing Lab di bawah naungan UNDP, meluncurkan rangkaian laporan tentang instrumen keuangan yang responsif gender untuk menciptakan peluang yang lebih besar dan memberikan jaring pengaman bagi perempuan.
Kesetaraan Gender di Indonesia
Kesetaraan gender belum benar-benar terwujud di Indonesia. Survei pemerintah terhadap angkatan kerja menunjukkan bahwa partisipasi perempuan masih berada di angka 53% pada tahun 2022, masih jauh lebih rendah dibandingkan partisipasi laki-laki sebesar 84%. Perempuan juga masih menerima gaji yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Meskipun lebih dari 60% UMKM di Indonesia dimiliki oleh perempuan, mereka masih menghadapi hambatan dalam mengakses bantuan keuangan serta menyeimbangkan antara tuntutan bisnis dan pekerjaan rumah.
Berinvestasi dalam meningkatkan kesetaraan gender merupakan salah satu dari enam prinsip implementasi dalam program UNDP Indonesia. Pada tahun 2018, Innovative Financing Lab (IFL) didirikan sebagai ruang strategis untuk mengembangkan solusi pembiayaan SDGs dengan berkolaborasi dengan pemerintah, sektor swasta, organisasi keagamaan, masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan lainnya. IFL berfokus pada enam kelompok yang saling terkait: Keuangan Berbasis Iman, Kerangka Pembiayaan Nasional Terintegrasi (INFF), Pembiayaan Iklim, Utang & Pinjaman yang Selaras dengan SDG, Investasi Berdampak, dan Kewirausahaan Pemuda.
Instrumen Keuangan yang Responsif Gender
Ketahanan finansial adalah jaring pengaman yang penting, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan lainnya dalam keadaan darurat global dan iklim. Pada 6 April 2023, IFL mengadakan acara “Pemaparan Program-Program yang Responsif Gender dan Peluncuran Laporan” di Jakarta. Acara dibuka dengan sambutan oleh Sujala Pant, Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, dan menghadirkan pembicara dari lembaga pemerintah, perusahaan fintech Amartha, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan perusahaan edutech Cakap.

Empat laporan diluncurkan atas kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan non-pemerintah. Laporan-laporan yang diluncurkan mengeksplorasi topik seputar instrumen keuangan yang responsif gender untuk meningkatkan ketahanan terhadap krisis. Laporan Badan Kebijakan Fiskal dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bertujuan untuk mempercepat pengarusutamaan penandaan anggaran perubahan iklim yang responsif gender. Badan Kebijakan Fiskal juga meluncurkan laporan lain yang menganalisis upaya peningkatan akses perempuan ke layanan keuangan formal. Laporan ini sejalan dengan Strategi Nasional Keuangan Inklusif (Strategi Nasional Keuangan Inklusif).

Laporan kebijakan lainnya mengeksplorasi bagaimana pembiayaan campuran (blended finance) dapat digunakan sebagai solusi alternatif untuk mendukung ketahanan UMKM di saat krisis. Laporan terakhir merupakan kerjasama antara Center of Economics and Development Studies (CEDS) Universitas Padjadjaran, Rumah Zakat, dan UNDP, menggali potensi manfaat zakat untuk meningkatkan perlindungan sosial bagi perempuan.

Perlu Perbaikan Berkesinambungan
Di tengah ancaman berbagai krisis, inovasi dan pengembangan yang berorientasi pada penciptaan kesempatan yang sama dan akses ke kelompok rentan sangat penting untuk menciptakan kemajuan yang berarti bagi pembangunan berkelanjutan. Selain peluncuran laporan, IFL juga menampilkan program Kebijakan dan Advokasi, Pengembangan Kapasitas, dan Akses Keuangan yang responsif gender. Pada acara tersebut, lebih dari 150 bisnis menerima peningkatan kapasitas, dan lebih dari 1.000 orang yang termasuk dalam kelompok rentan menerima bantuan.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut