APRIL2030: Menerapkan Praktik Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Foto oleh Yogi Agusta di Unsplash.
Hutan merupakan fondasi utama kehidupan di bumi. Selain menyediakan oksigen dan menyerap karbon, hutan juga menghasilkan kertas yang kita gunakan sehari-hari. Itu sebabnya, produksi kertas harus beriringan dengan pelestarian hutan. Sebagai produsen pulp dan kertas terkemuka, APRIL meluncurkan inisiatif APRIL2030 untuk menunjukkan komitmennya terhadap kelestarian hutan.
Komitmen keberlanjutan APRIL
APRIL menggunakan pohon dari Provinsi Riau, Indonesia, untuk memproduksi kertas. Pada tahun 2015, perusahaan ini menetapkan komitmen keberlanjutan melalui Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan/Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0. SFMP 2.0 adalah kerangka kebijakan yang mencakup komitmen untuk menghentikan deforestasi dan pengembangan lahan gambut, melakukan penilaian untuk pengembangan kawasan non-hutan, dan menghentikan penebangan kayu keras campuran.
Lima tahun kemudian, APRIL melanjutkan komitmen ini melalui APRIL2030. Target tersebut diumumkan pada tahun 2020, dengan fokus ke dampak positif pada iklim, alam, dan manusia sambil mengubah bisnisnya.
“Investasi berkelanjutan untuk iklim, alam, dan pembangunan berkelanjutan mengasumsikan urgensi yang lebih besar jika ekonomi global ingin benar-benar pulih dari dampak COVID-19. Meskipun situasi saat ini menantang, hal ini memberikan peluang bisnis jika dimanfaatkan dengan benar, demi mengubah masa depan menjadi lebih baik,” kata Anderson Tanoto, direktur Royal Golden Eagle.
Empat indikator keberlanjutan
Dengan APRIL2030, APRIL mendasarkan komitmen keberlanjutan melalui empat indikator berdasarkan laporan kinerja tahun 2019. Indikator-indikator ini merupakan perluasan misi mereka untuk menyasar berbagai aspek keberlanjutan, termasuk pendidikan, sumber penghidupan, pemberdayaan perempuan, dan lingkungan.
- Iklim Positif: Mencapai emisi nol bersih dalam penggunaan lahan, mengurangi emisi produksi sebesar 25%, dan menggunakan sumber terbarukan untuk pembangkit listrik dan operasi serat dengan target berbasis sains.
- Lanskap yang Berkembang: Berupaya mencapai kesejahteraan lingkungan, ekosistem, dan penghuni satwa liar melalui investasi dan memprioritaskan upaya konservasi. Selain itu, studi ilmu lahan gambut tropis dilakukan untuk meningkatkan produktivitas serat hingga 50%.
- Kemajuan Inklusif: Memberantas kemiskinan di desa-desa dalam radius 50 km dari lokasi perkebunan, mempromosikan pendidikan dan perawatan kesehatan yang berkualitas, mengurangi stunting hingga 50%, dan mendorong partisipasi perempuan dalam bisnis.
- Pertumbuhan Berkelanjutan: Meningkatkan efisiensi penggunaan air dan bahan kimia, menggunakan 20% tekstil daur ulang, dan mengurangi 80% limbah padat yang dikirim ke tempat pembuangan sampah.
Menerapkan bisnis sirkular dan etis
APRIL2030 telah dimulai dengan memasang fase pertama situs panel surya pada tahun 2021 sebagai bagian dari komitmen energi terbarukan. Ini diproyeksikan menjadi salah satu situs panel surya terbesar di Indonesia ketika selesai pada tahun 2025. Selanjutnya, pengembangan pada aspek lain juga telah dimulai, mulai dari penggunaan alat SMART untuk identifikasi risiko satwa liar, hingga memberikan dukungan untuk 172 sekolah di dekat perkebunan.
Pada dasarnya, manusia menciptakan benda-benda untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun, memastikan bahwa kita tidak memproduksinya dengan mengorbankan orang lain, adalah sama pentingnya. Bisnis, di antara banyak pemangku kepentingan lainnya, memiliki kewajiban untuk terus mengupayakan praktik sirkular dan lebih etis yang tidak hanya akan memperbaiki kerusakan lingkungan saat ini tetapi juga mencegahnya.
Editor & Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan