Daur Ulang Limbah Tekstil dengan Infrastruktur dan Sistem yang Lebih Baik
Foto: Karolina Grabowska di Pexels.
Pakaian telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Namun, bagaimana akhir dari pakaian yang tidak terpakai? Untuk pakaian yang memiliki kualitas baik, mungkin orang-orang dapat mendonasikannya atau dijual kembali. Namun, sebagian besar limbah tekstil masih dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Oleh karena itu, diperlukan infrastruktur dan sistem yang lebih baik untuk mendorong daur ulang limbah tekstil.
Jutaan Ton Limbah Tekstil
Ada miliaran potong pakaian yang diproduksi setiap tahun. Meskipun tidak ada angka pasti, data yang tersedia menunjukkan bahwa jumlahnya berkisar antara 80 hingga 150 miliar. Perubahan tren yang cepat turut mendongkrak produksi massal fesyen berbiaya dan berkualitas rendah—yang umumnya dikenal sebagai fast fashion.
Limbah fesyen merupakan masalah yang mendesak namun menantang untuk diatasi. Sekitar 92 juta ton limbah tekstil dibuang ke TPA setiap tahunnya, sehingga menciptakan tumpukan sampah yang sangat besar seperti yang terjadi di Gurun Atacama, Chile. Limbah tekstil yang menumpuk akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai, dan jika dibakar akan menimbulkan pencemaran udara yang dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan sekitar.
Cerita Praktik Daur Ulang Limbah Tekstil
Daur ulang tekstil dilakukan dengan memanfaatkan kain, bahan, dan serat yang ada untuk menciptakan produk baru. Hal ini merupakan aspek penting dari gerakan sirkularitas fesyen, yang bertujuan untuk meminimalkan limbah fesyen dan mendukung fesyen berkelanjutan.
Banyak inisiatif, baik dalam sekala besar maupun kecil, yang telah diterapkan untuk mendukung daur ulang limbah tekstil di seluruh dunia. Dalam artikelnya, reporter Sarah Johnson menyoroti empat wirausahawan yang mengubah limbah fesyen menjadi sepatu, permadani, dan garmen. Mereka berasal dari Ghana, Pakistan, dan Chile—negara-negara yang menghadapi darurat limbah fesyen.
“Saya sedang berjalan-jalan di pasar Kantamanto, pasar pakaian bekas di Accra, pada tahun 2017, ketika saya melihat beberapa pakaian olahraga dengan bekas sundutan rokok di lantai. Saya melihat banyak pakaian berserakan di lantai dan saya merasa frustrasi,” kata Yayra Agbofah dari Ghana, seperti ditulis oleh Johnson. Agbofah lantas mendirikan The Revival, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada daur ulang limbah tekstil global yang dikirim ke Ghana.
Di sisi lain, dunia usaha dan organisasi juga berperan penting dalam mendorong daur ulang limbah tekstil. Di Australia, organisasi nirlaba Australian Fashion Council membentuk National Clothing Product Stewardship Scheme (Skema Penatagunaan Produk Pakaian Nasional) yang bertujuan untuk mewujudkan sirkularitas fesyen pada tahun 2030. Contoh lain, perusahaan pengelolaan limbah tekstil Reverse Resources dan National Textile University di Pakistan baru-baru ini bermitra untuk memperbaiki ekosistem tekstil negara tersebut dengan dengan menetapkan kerangka kerja terkait pasokan dan permintaan limbah tekstil.
Contoh lainnya adalah SuperCircle, sebuah startup berbasis teknologi yang bertujuan untuk menjadi platform penghubung antara aktor-aktor utama dalam industri fesyen dan ritel serta menjembatani kesenjangan dalam daur ulang dan sirkularitas tekstil.
Perlu Infrastruktur dan Sistem yang Lebih Baik
Meskipun telah banyak upaya yang dilakukan di berbagai belahan dunia, daur ulang limbah tekstil masih merupakan tantangan karena banyaknya keterbatasan. Kurangnya infrastruktur yang menghubungkan antara produsen garmen, merek fesyen, dan pelaku pengelolaan limbah merupakan beberapa faktor yang menghambat kemajuan fesyen sirkular.
Dalam wawancara dengan Textile Exchange, tim SuperCircle juga mencatat kurangnya kesadaran dan pendidikan mengenai sirkularitas sebagai hambatan utama bagi startup. “Kesenjangan pendidikan ini dapat dimengerti—rantai pasokan sirkular merupakan hal yang baru dan rumit, sehingga memerlukan lebih banyak pendidikan dan reorientasi bagi merek dan pemimpin keberlanjutan (sustainability leaders),” kata tim tersebut.
Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa meningkatkan daur ulang tekstil memerlukan infrastruktur, sistem, dan peraturan yang lebih baik. Dalam hal ini, peran pemerintah dan pembuat kebijakan sangat penting dalam membangun lingkungan yang mendukung para pelaku utama dalam industri fesyen untuk melakukan transisi menuju praktik yang lebih baik. Hal ini termasuk menetapkan peraturan keberlanjutan yang ketat mengenai fesyen sirkular. Selain daur ulang, produsen dan konsumen harus berpartisipasi dalam mengubah keseluruhan pola produksi dan konsumsi fesyen melalui upaya seperti merancang pakaian yang tahan lama dan mengurangi konsumsi.
Pada akhirnya, peralihan ke praktik fesyen yang lebih tahan lama, berkelanjutan, dan sirkular memerlukan upaya kolaboratif untuk menciptakan perubahan sistemik bagi semua orang.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan