Kamboja Luncurkan National Cooling Action Plan untuk Dukung Konsumsi Energi Berkelanjutan
Foto: Alexandre Lecocq di Unsplash.
Suhu Bumi semakin panas, dan kita membutuhkan cara untuk mendinginkan diri. Umumnya, orang-orang menggunakan AC dan kipas angin listrik untuk menangkal panas, terutama di daerah tropis. Namun, komitmen global untuk beralih ke konsumsi energi berkelanjutan mengubah cara kita dalam menggunakan pendingin. Terkait hal ini, Kamboja meluncurkan Rencana Aksi Pendinginan Nasional (National Cooling Action Plan) untuk menghadirkan sektor pendinginan yang ramah iklim.
Penggunaan Listrik dan Emisi Karbon
Selain untuk diri sendiri, kita umumnya menggunakan pendingin untuk berbagai sektor, mulai dari bangunan, makanan, hingga produk medis. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), penggunaan AC dan kipas angin listrik menyumbang hampir 20% dari total listrik yang digunakan di seluruh dunia. Ditambah dengan penggunaan lain, sektor pendinginan mengambil porsi signifikan dari sistem kelistrikan, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap emisi karbon.
Di Kamboja, konsumsi listrik dari sektor pendinginan mencapai 4.738 gigawatt-jam (GWh) pada tahun 2020. Angka tersebut setara dengan menghasilkan 6,27 juta ton emisi karbon dioksida (CO2). Tanpa tindakan yang tepat dalam mewujudkan sektor pendinginan yang berkelanjutan, konsumsi listrik diperkirakan akan berlipat ganda dan emisi menjadi hampir tiga kali lipat pada tahun 2040.
Penting bagi kita untuk mengatasi peningkatan penggunaan listrik di sektor pendinginan. Pemerintah Kamboja, bermitra dengan UNEP (Program Lingkungan PBB) dan UNESCAP (Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik), mengembangkan National Cooling Action Plan. Kemitraan ini berjalan di bawah Kementerian Lingkungan Hidup Kamboja dan selaras dengan NDC Kamboja tahun 2020 yang telah diperbaharui.
National Cooling Action Plan
National Cooling Action Plan (NCAP) Kamboja bertujuan untuk membuka pintu transisi menuju sektor pendinginan yang ramah iklim. Rencana Aksi ini meliputi pengurangan permintaan pendinginan, peningkatan efisiensi energi dari penggunaan alat pendingin, dan promosi refrigeran Potensi Pemanasan Global rendah untuk membantu mengurangi emisi GRK.
NCAP berfokus pada lima bidang utama: Pendinginan Ruang Gedung, Rantai Pendinginan Makanan, Rantai Pendinginan Alat Kesehatan, Pendingin Udara Mobile, dan Pendinginan Proses. Intervensi di bawah NCAP dibagi menjadi tiga periode utama: jangka pendek (5 tahun), jangka menengah (10 tahun), dan jangka panjang (20 tahun). Di bawah skenario intervensi, diperkirakan 23% dari konsumsi listrik akan lebih hemat. Ini setara dengan 2.075 gigawatt-jam.
“Seiring meningkatnya permintaan pendinginan, Kamboja memiliki peluang penting untuk mengadopsi jalur baru pendinginan, menunjukkan kemungkinan dan potensi pendekatan seluruh sistem untuk pendinginan yang adil, efisien, dan ramah iklim,” kata Dechen Tsering, Direktur dan Perwakilan Regional UNEP untuk Asia dan Pasifik.
Konsumsi Energi Berkelanjutan
NCAP pertama kali dikembangkan pada tahun 2022 dan diluncurkan pada Maret 2023. Rencana Aksi tersebut mengusulkan beberapa langkah yang harus diambil untuk mencapai transisi tersebut:
- Kurangi permintaan pendinginan melalui perencanaan kota dan desain bangunan yang lebih baik dengan solusi berbasis alam seperti ruang publik hijau serta atap dan dinding hijau.
- Beralih ke pendinginan berbasis energi terbarukan, pendekatan pendinginan distrik, rantai dingin (cold chain) bertenaga surya, dll.
- Tingkatkan pendinginan konvensional dengan meningkatkan efisiensi AC dan peralatan pendingin serta langkah-langkah respons permintaan.
- Lindungi kelompok rentan dari panas ekstrem dan konsekuensi rantai dingin medis dan pertanian yang tidak dapat diandalkan.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest