Kenya Bentuk Komisi Khusus untuk Pemulihan Sungai Nairobi
Photo: Catherine Sheila di Pexels.
Kerusakan lingkungan telah menyebabkan banyak sungai di berbagai belahan dunia tercemar. Salah satu sungai yang paling tercemar adalah Sungai Nairobi di Kenya. Kondisi Sungai Nairobi yang telah lama tercemar dan terkontaminasi, pada gilirannya berdampak buruk terhadap orang-orang yang tinggal di sekitarnya.
Sebagai upaya untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah Kenya membentuk Komisi Sungai Nairobi sebagai inisiatif untuk memulihkan sungai tersebut.
Pencemaran Sungai Nairobi
Sungai Nairobi mengalir di jantung Nairobi, ibu kota Kenya. Sungai ini adalah sungai utama dari Lembah Sungai Nairobi, dengan beberapa aliran lainnya mengalir secara paralel. Pada awal 1990-an, anak-anak bebas berenang di sungai tersebut. Tetapi sekarang, air sungai tersebut menjadi hitam dan sangat tidak layak untuk aktivitas manusia.
Lemahnya sistem pengelolaan limbah yang efektif merupakan faktor utama pencemaran Sungai Nairobi. Limpasan pertanian, limbah industri dan rumah tangga yang tidak terkelola, dan pembuangan plastik, turut mencemari sungai tersebut. Penelitian menemukan bahwa air Sungai Nairobi mengandung kadar logam yang jauh melampaui standar WHO dan pemerintah Kenya. Dalam 100ml air Sungai Nairobi, ditemukan satu juta unit bakteri E-coli tingkat tinggi.
Mirisnya, masyarakat yang tinggal di sekitar sungai masih tetap memanfaatkan air sungai tersebut, bahkan bergantung padanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para petani mengairi tanaman mereka dengan air yang terkontaminasi. Sedangkan masyarakat lainnya terpaksa mencuci pakaian mereka dengan air kotor dari sungai tersebut karena membeli air bersih membutuhkan biaya yang cukup mahal.
Komisi Sungai Nairobi
Selama beberapa dekade, banyak inisiatif telah dilakukan untuk memulihkan Sungai Nairobi. Namun, sungai dan lingkungan sekitarnya masih saja mengalami pencemaran berat. Pada Februari 2023, Presiden Kenya meluncurkan Komisi Sungai Nairobi sebagai upaya terbaru untuk memulihkan cekungan Sungai Nairobi dan semua badan air di sekitarnya, termasuk Sungai Ngong, Sungai Nairobi, dan Sungai Mathare.
Inger Andersen, Wakil Sekretaris Jenderal UNEP, mengatakan bahwa inisiatif yang satu ini berbeda dari yang sebelumnya karena “kita semua tahu kita tidak boleh gagal.” Lebih lanjut, ia menekankan bahwa inisiatif ini perlu “pelibatan sektor swasta, bisnis lokal, peradilan, dan masyarakat.”
Menerapkan sistem pembuangan limbah yang tepat adalah salah satu agenda dari inisiatif ini. Komisi Sungai Nairobi akan memanfaatkan pelajaran yang didapat dari inisiatif sebelumnya. Komisi ini menggandeng pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, aktor sektor swasta, dan pemangku kepentingan terkait lainnya untuk berkolaborasi mengawasi pemulihan Sungai Nairobi. UN-Habitat, Program Lingkungan PBB (UNEP), dan World Research Institute akan dilibatkan sebagai anggota Kelompok Penasihat.
Menanti hasil
Restorasi sungai sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Pendekatan baru yang ditempuh pemerintah Kenya ini diharapkan dapat memulihkan kondisi sungai dan meningkatkan kehidupan masyarakat di Nairobi. Pemantauan dan evaluasi yang tepat sangat penting untuk memastikan efektivitas program seiring berjalannya rencana.
“Keadaan (ketercemaran Sungai Nairobi)) ini harus diakhiri, dan situasi lingkungan yang tidak aman dan tidak sehat harus diperbaiki untuk mengembalikan jati diri Nairobi yang sebenarnya. Kami telah memutuskan bahwa kota ini tidak hanya harus merebut kembali kejayaannya sebagai kota hijau Afrika di bawah sinar matahari, tetapi juga harus menghidupkan identitas leluhurnya sebagai sungai dengan air yang sejuk, segar, dan aman,” kata Presiden Kenya William Ruto.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional