Minimnya Perkembangan Energi Terbarukan ASEAN di Tengah Potensi yang Melimpah
Foto: Freepik.
Transisi energi merupakan bagian fundamental dari upaya mitigasi iklim. Salah satu hal penting dalam transisi energi adalah penggunaan energi terbarukan. Berbagai negara di dunia telah menyatakan komitmen untuk meningkatkan integrasi energi terbarukan, termasuk di Asia Tenggara. Laporan terbaru Global Energy Monitor mengungkap perkembangan terkait integrasi energi terbarukan ASEAN saat ini, khususnya tenaga surya dan angin.
Energi Terbarukan ASEAN
ASEAN memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah, khususnya tenaga surya dan angin. Negara-negara Anggota ASEAN telah menetapkan target untuk mencapai 23% energi terbarukan dalam bauran energi primer dan 35% kapasitas terpasang energi terbarukan pada tahun 2025. Namun, ASEAN masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk memenuhi permintaan energi yang terus meningkat.
Menurut laporan bertajuk “A Race to the Top Southeast Asia 2024” yang diterbitkan oleh Global Energy Monitor (GEM), kapasitas pengoperasian energi terbarukan di bidang tenaga surya dan angin di ASEAN telah tumbuh seperlima sejak tahun 2023. Saat ini, kawasan ini memiliki lebih dari 28 GW kapasitas pengoperasian tenaga surya dan angin skala utilitas, yang merupakan 9% dari total kapasitas pembangkit listrik negara-negara ASEAN.
Dengan seluruh sumber energi terbarukan yang ada, ASEAN saat ini memiliki 32% kapasitas terpasang energi terbarukan. Kawasan ini masih perlu menambah 17 GW kapasitas tenaga surya dan angin skala utilitas untuk mencapai target 35%.
Tantangan
Di antara semua negara anggota ASEAN, Vietnam memiliki kapasitas pembangkit listrik tenaga surya dan angin terbesar, yaitu 19.501 MW, diikuti oleh Thailand (3.133 MW) dan Filipina (3.018 MW). Lebih lanjut, laporan tersebut menyatakan bahwa ASEAN saat ini memiliki total 220 GW pembangkit listrik tenaga surya dan angin skala utilitas, 80% di antaranya berlokasi di Vietnam dan Filipina.
Meskipun demikian, hanya 3% (6,3 GW) yang sedang dalam tahap konstruksi dari total kapasitas yang diharapkan. Menurut laporan tersebut, kurangnya pembiayaan menjadi penyebab utama rendahnya pembangunan. Misalnya, hampir 40 GW proyek di Vietnam tidak mengalami kemajuan sejak tahun 2022 karena kurangnya insentif. Lemahnya kebijakan pendukung dan implementasi kemitraan internasional seperti Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (JETP) juga disebut-sebut sebagai tantangan dalam meningkatkan proyek-proyek ini.
Menghapus Batubara
Dengan prospek yang melimpah di kawasan ini, ASEAN mesti memanfaatkan potensinya untuk mencapai, bahkan melampaui, target kapasitas energi terbarukan sebesar 35%. Pada saat yang sama, negara-negara anggota ASEAN mesti mengambil langkah tegas dan berkomitmen untuk mengakhiri penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil seraya meningkatkan kebijakan dan mekanisme insentif untuk mendukung proyek energi terbarukan.
“Seiring upaya dunia untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan sebanyak tiga kali lipat pada tahun 2030, pemerintah perlu mempermudah penerapan tenaga angin dan surya secara online. Beralih ke energi terbarukan dari batu bara dan gas akan menghemat waktu dan uang negara menuju masa depan energi yang bersih,” kata Janna Smith, peneliti di Global Energy Monitor.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan