Potret Kemiskinan Anak di Selandia Baru
Foto: Tormius di Unsplash.
Pendidikan, nutrisi, dan layanan kesehatan yang berkualitas dapat mendukung anak-anak untuk berkembang dengan baik. Namun, masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan dukungan tersebut dalam hidupnya. Jutaan anak di seluruh dunia masih hidup dalam kemiskinan, termasuk di Selandia Baru. Bahkan, kemiskinan anak di negara tersebut tetap ajek dari Juni 2022.
Lebih dari 1 Miliar Anak Hidup dalam Kemiskinan
Kemiskinan anak mengacu pada kondisi di mana anak-anak dibesarkan dalam rumah tangga miskin. UNICEF memperkirakan bahwa lebih dari 1 miliar anak di seluruh dunia hidup dalam kemiskinan multidimensi, yang berarti mereka kekurangan kebutuhan dasar seperti makanan, sanitasi, tempat tinggal yang layak, perawatan kesehatan, dan pendidikan berkualitas.
Hidup dalam kemiskinan dapat berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak. Berbagai bukti menunjukkan bahwa kemiskinan kemungkinan besar akan berdampak negatif pada perkembangan kognitif, perilaku sosial, dan kesehatan anak-anak.
Kemiskinan anak memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orang dewasa atau orang tua mereka. Sebuah penelitian menemukan bahwa anak-anak yang lahir dan besar dalam kemiskinan membutuhkan waktu 4-5 generasi untuk mencapai tingkat pendapatan rata-rata nasional. Oleh karena itu, pengentasan kemiskinan anak sangat penting untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di seluruh dunia.
Kemiskinan Anak di Selandia Baru
Pemerintah Selandia Baru merilis Undang-Undang Penanggulangan Kemiskinan Anak pada tahun 2018 untuk mengurangi separuh kemiskinan anak di negara tersebut. Undang-undang tersebut mewajibkan pemerintah untuk menetapkan target 10 tahun dan 3 tahun pada serangkaian tindakan yang ditentukan, membuat laporan tahunan, laporan anggaran, dan laporan indikator terkait kemiskinan anak.
Secara umum, kemiskinan anak di Selandia Baru memang telah berkurang sejak 2018. Akan tetapi, statistik dari Juni 2022 tidak menunjukkan perubahan dari tahun sebelumnya. Berhubung adanya pembatasan kegiatan karena Pandemi COVID-19, pemerintah hanya melakukan wawancara tatap muka dengan 8.900 rumah tangga, jauh dari target awal sebanyak 20.000. Berikut hasilnya:
- 12% anak tinggal di rumah tangga berpenghasilan rendah dengan kurang dari 50% pendapatan rata-rata sebelum biaya perumahan.
- 15,4% anak tinggal di rumah tangga berpenghasilan rendah dengan kurang dari 50% pendapatan rata-rata setelah biaya perumahan.
- 10,3% anak tinggal di rumah tangga mengalami kesulitan materi, yang berarti mereka tidak mampu membeli setidaknya enam dari 17 kebutuhan pokok, seperti makanan yang cukup dan pakaian hangat.
Survei tersebut juga mengungkap bahwa statistik anak-anak tamariki Māori dan Pasifik tetap ajek dari tahun lalu. Namun, seperti dilansir The Guardian, Pemerintah Selandia Baru menganggap tren statis tersebut “menggembirakan” di tengah berbagai krisis seperti kenaikan biaya hidup, Pandemi COVID-19, dan inflasi.
“Ini adalah situasi yang menantang, tetapi angka kemiskinan anak yang tetap stabil tahun ini sangat menggembirakan. Ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah yang menargetkan anak-anak dan keluarga terbukti ampuh, meskipun terjadi pandemi dan masa ekonomi yang sulit,” kata Jan Tinetti, Menteri Penanggulangan Kemiskinan Anak Selandia Baru.
Perlu Perbaikan
Tidak ada anak yang boleh hidup dalam kemiskinan. Untuk itu, diperlukan langkah tegas dan mendesak untuk mengentaskan kemiskinan anak dan memastikan generasi masa depan dapat berkembang dengan baik. Untuk mendorong langkah ke arah sana, Kelompok Aksi Kemiskinan Anak (CPAG) mendesak Pemerintah Selandia Baru untuk sepenuhnya mengadopsi 42 rekomendasi laporan Februari 2019 dari Kelompok Penasihat Ahli Kesejahteraan yang ditunjuk pemerintah.
“Ini adalah situasi yang mengerikan. Masa depan anak-anak yang mendekam dalam kemiskinan ini sungguh suram. Masa depan negara juga terancam oleh kondisi ini akibat kita tidak berinvestasi pada anak-anak,” kata Profesor Emeritus dan juru bicara kesehatan CPAG Innes Asher.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest