Singapura-AS Jalin Kemitraan untuk Bangun Koridor Pelayaran Ramah Lingkungan
Foto: Hanson Lu di Unsplash.
Industri pelayaran memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi karena memungkinkan sirkulasi barang untuk memenuhi pasokan dan permintaan global. Namun, sektor ini juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dunia. Terkait hal ini, Singapura dan Amerika Serikat berkolaborasi untuk membangun koridor pelayaran ramah lingkungan demi mendukung dekarbonisasi dalam industri pelayaran.
Koridor Pelayaran Ramah Lingkungan
Pelayaran internasional menyumbang 2% (706 Mt) emisi CO2 global pada tahun 2022. Angka tersebut kembali meningkat dan hampir mencapai tingkat sebelum pandemi COVID-19 setelah mengalami penurunan pada tahun 2020 karena pembatasan mobilitas. Meskipun saat ini relatif kecil, angka tersebut dapat meningkat menjadi 17% pada tahun 2050 jika tidak ada peraturan yang tegas.
Pada tahun 2023, Organisasi Maritim Internasional meluncurkan strategi untuk mengurangi setidaknya 40% emisi pelayaran internasional pada tahun 2030. Upaya dekarbonisasi industri pelayaran memerlukan kolaborasi internasional, salah satunya dengan menerapkan koridor pelayaran ramah lingkungan. Sistem ini harus mendukung program pengurangan emisi dan mengukur implementasinya. Hal ini mencakup penyebaran kapal tanpa emisi karbon dan penerapan kebijakan serta intervensi yang dilakukan oleh aktor-aktor publik dan swasta dalam industri ini.
Strategi Kemitraan
Pada COP27, Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA), Pelabuhan Los Angeles (POLA), dan Pelabuhan Long Beach (POLB) mengumumkan rencana kolaborasi untuk membangun Koridor Pelayaran Ramah Lingkungan dan Digital (GDSC). Didukung oleh C40 Cities, kemitraan ini bertujuan untuk mempercepat upaya dekarbonisasi dan penerapan solusi teknologi digital dalam industri maritim. Pada COP28, tiga pelabuhan tersebut merilis Strategi Kemitraan untuk Koridor Pelayaran Ramah Lingkungan dan Digital.
Koridor Pelayaran Ramah Lingkungan ini akan membentang sepanjang 14.000 kilometer melintasi Samudera Pasifik. MPA, POLA, POLB, dan C40 Cities akan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan rantai nilai dari sektor bahan bakar dan maritim untuk mencapai beberapa tujuan:
- Mendorong upaya untuk mencapai emisi gas rumah kaca nol bersih untuk kapal-kapal yang singgah di Pelabuhan Singapura, Pelabuhan Los Angeles, dan Pelabuhan Long Beach sedini mungkin.
- Membangun konsensus seputar praktik dan standar pelayaran ramah lingkungan.
- Mempercepat pengembangan dan penerapan teknologi dan solusi digital untuk mendukung efisiensi, ketahanan, dan dekarbonisasi rantai pasokan, serta mengurangi biaya dan meningkatkan keandalan pergerakan kargo.
- Bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk meningkatkan penggunaan teknologi, bahan bakar, dan sumber energi dengan emisi nol dan mendekati nol.
“Strategi yang kami kembangkan di sini dapat digunakan sebagai peta jalan bagi jaringan pelabuhan dan perusahaan rantai pasok yang lebih besar untuk berinvestasi dalam program, teknologi, perangkat lunak, dan infrastruktur guna mendekarbonisasi perdagangan internasional di mana pun,” kata Mario Cordero, CEO Pelabuhan Long Beach.
Langkah Selanjutnya
Menyusul peluncuran Strategi Kemitraan tersebut, ketiga pelabuhan dan C40 Cities telah melakukan penelitian untuk memperkirakan jumlah bahan bakar yang mendekati nol dan tanpa emisi yang diperlukan untuk arus perdagangan dan lalu lintas kapal antara Singapura, Los Angeles, dan Long Beach. Selain itu, organisasi-organisasi tersebut juga akan mulai melibatkan pemangku kepentingan utama dari rantai nilai pelayaran dan pasokan bahan bakar untuk mendukung implementasi GDSC. Penerapan koridor pelayaran ramah lingkungan diharapkan menjadi langkah maju menuju industri pelayaran berkelanjutan.
“Pelayaran ramah lingkungan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi karena tidak ada satu pun pemangku kepentingan yang mampu bergerak maju kecuali mereka tahu bahwa pemangku kepentingan lain mungkin akan mengikuti jejaknya,” kata Mark Watts, Direktur Eksekutif C40 Cities.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan