Global Ecosystems Atlas untuk Pemetaan Data Keanekaragaman Hayati yang Harmonis
Foto: Andrei Mike di Unsplash.
Kita telah mendengar, menyaksikan, dan merasakan langsung bagaimana lingkungan mengalami kerusakan akibat eksploitasi berlebihan. Berbagai strategi dalam skala yang beragam juga telah dilakukan untuk mencegah degradasi lebih lanjut, namun data yang tersegmentasi dan tidak komprehensif seringkali menjadi penghambat. Pada COP16, Group on Earth Observations (GEO) meluncurkan Atlas Ekosistem Global (Global Ecosystems Atlas), yang bertujuan untuk membantu pemetaan dan pemantauan data keanekaragaman hayati dan ekosistem.
Hilangnya Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem
Manusia sangat bergantung pada keanekaragaman hayati dan ekosistem untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari makanan hingga obat-obatan. Sayangnya, ketergantungan ini tidak disertai dengan upaya yang sepadan untuk melindungi dan melestarikan alam, sehingga menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati dan kerusakan ekosistem.
Berbagai strategi telah diterapkan untuk merespons keadaan ini, mulai dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan hingga Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal. Pemerintah negara-negara di dunia dan komunitas lokal juga telah menerapkan mekanisme konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati, terutama untuk spesies asli di negara masing-masing. Namun, kurangnya data yang harmonis dan komprehensif seringkali menyulitkan pemahaman mengenai kondisi nyata keanekaragaman hayati dan ekosistem di lapangan.
Global Ecosystems Atlas
Pada Konferensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP16), Group on Earth Observations (GEO) meluncurkan bukti konsep Global Ecosystems Atlas. Atlas ini adalah alat pemetaan dan pemantauan yang dapat memberikan visualisasi ekosistem dunia, yang dikembangkan dengan menggabungkan peta ekosistem yang ada dan yang baru untuk mengisi kesenjangan data. Atlas ini menyediakan data yang divalidasi secara ilmiah dan selaras dengan Tipologi Ekosistem Global IUCN.
Data yang lebih baik dan selaras mengenai keanekaragaman hayati dan ekosistem dapat menghasilkan intervensi yang lebih strategis. Sebagai contoh, Afrika Selatan dan Mozambik telah mencapai kemajuan dalam memetakan keanekaragaman hayati dan ekosistem mereka. Dengan menggunakan Altas Ekosistem Global, kedua negara tersebut dapat menemukan persamaan dan hubungan antara ekosistem mereka meskipun memiliki karakteristik yang berbeda, dan saling belajar satu sama lain.
Selain itu, Atlas ini juga menunjukkan kesenjangan pemetaan antarnegara, sehingga mendorong upaya kolektif untuk meningkatkan akurasi dan harmonisasi data di luar tingkat nasional.
“Meningkatnya tiga krisis planet yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi lahan memerlukan tindakan segera dan efektif. Untuk memastikan bahwa tindakan yang tepat dilakukan di lokasi yang tepat, diperlukan data yang lebih baik mengenai luas dan kondisi ekosistem,” kata Astrid Schomaker, Sekretaris Eksekutif Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati.
Harmonisasi Data untuk Kolaborasi
Tanpa tindakan untuk menghentikan dan membalikkan penurunan keanekaragaman hayati dan ekosistem, dampak yang akan muncul akan sangat luas; dan kita bahkan mungkin telah mengalaminya sekarang. Oleh karena itu, tindakan yang efektif dan mendesak sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Atlas Ekosistem Global dapat membantu para pemangku kepentingan utama dalam membuat keputusan yang tepat untuk mendukung keberlanjutan ekosistem dan mengelola risiko dari aktivitas manusia. Kolaborasi lintas sektor dan antarnegara melalui harmonisasi data dapat membantu meningkatkan dan memperluas skala inisiatif yang ada agar lebih strategis bagi semua pihak.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan