Inovasi Kelambu Berinsektisida Baru untuk Pencegahan Malaria
Foto: Seyemon di Flickr.
Nyamuk merupakan serangga yang mengganggu dan bahkan dapat mengancam nyawa. Serangga ini dapat menyebarkan penyakit, termasuk malaria. Selama ini, berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas malaria, namun penyakit ini masih saja muncul. Terkait hal ini, Proyek New Nets yang dipimpin oleh Innovative Vector Control Consortium (IVCC), menghadirkan inovasi kelambu untuk pencegahan malaria.
Malaria yang Semakin Ganas
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium, sejenis parasit yang biasanya dibawa oleh nyamuk Anopheles. Pada Agustus 2023, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap bahwa kemajuan selama puluhan tahun dalam bidang malaria telah mengalami kemunduran di 13 negara.
Selain kesenjangan layanan kesehatan global, perubahan iklim juga memperburuk keadaan. Ketika perubahan iklim meningkatkan frekuensi kejadian cuaca ekstrem, suhu tinggi, banjir, dan angin topan terjadi dimana-mana. Kondisi ini sangat mendukung bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Meskipun pengobatan, vaksin, dan tindakan pencegahan lainnya telah dikembangkan, kasus malaria di seluruh dunia terus meningkat. Dalam lima tahun, jumlahnya meningkat dari 219 juta kasus pada tahun 2017 menjadi hampir 250 juta pada tahun 2022. Menurut perkiraan WHO, ada lebih dari 600.000 kematian akibat malaria pada tahun 2022, dengan 80% di antaranya merupakan balita.
Kelambu Proyek New Nets
Meskipun masa pakai produk terbatas dan menimbulkan masalah limbah, kelambu yang diberi insektisida piretroid telah menjadi perlindungan terhadap nyamuk yang direkomendasikan sejak tahun 1990-an. Sayangnya, nyamuk kini semakin kebal terhadap bahan kimia yang terdapat dalam kelambu berinsektisida standar.
Terkait hal ini, Proyek New Nets menghadirkan inovasi dua jenis kelambu yang diberi kombinasi insektisida baru. Yang pertama adalah jaring Interceptor G2 BASF, yang menggabungkan piretroid dan klorfenapyr. Dan yang kedua adalah jaring Royal Guard DCT yang menggunakan kombinasi piretroid-piriproksifen.
Proyek New Nets menyelesaikan dua uji klinis dan lima studi percontohan di 17 negara di Afrika sub-Sahara, dimana terjadi 90% kasus malaria. Dilaporkan, kelambu baru ini meningkatkan pengendalian malaria sebesar 20–50% dibandingkan dengan kelambu berinsektisida standar.
Proyek ini juga melakukan penilaian efektivitas biaya jaringnya dari tahun 2018 hingga 2022. Dengan harga masing-masing $2,94, jaring Interceptor G2 membutuhkan tambahan $0,66–$3,56. Namun, hal ini akan menghemat sistem kesehatan nasional senilai hampir $30 juta.
Upaya Pencegahan Malaria
Kelambu khusus piretroid telah menjadi alat pencegahan malaria sejak tahun 2005. Pada tahun 2017, WHO mulai merekomendasikan kelambu piretroid-PBO sebagai respons terhadap nyamuk yang kebal. Kemudian, pada Maret 2023, WHO mengeluarkan berbagai rekomendasi untuk jaring piretroid-klorfenapyr dan piretroid-piriproksifen dari Proyek New Nets. Pada tahun 2024, 20 negara Afrika meluncurkan vaksin malaria pertama, yakni RTS,S.
“Temuan Proyek New Nets menunjukkan nilai investasi pada alat-alat canggih dalam memerangi malaria,” kata Michael Charles, CEO RBM Partnership to End Malaria. “Kami selalu mengatakan bahwa tidak ada obat mujarab untuk memberantas penyakit malaria, dan kami tidak bisa hanya mengandalkan intervensi tunggal, melainkan berinvestasi pada serangkaian alat, yang jika digabungkan, akan memberikan dampak terbesar dalam mengalahkan penyakit ini.”
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan