Gelombang Panas Ekstrem Ancam Kota-Kota di Dunia
Foto oleh Dan-Cristian Pădureț di Unsplash
Memang benar: dunia kita semakin panas. Bagi manusia, gelombang panas mungkin merupakan gejala perubahan iklim yang paling dapat dirasakan karena memengaruhi kita secara langsung. Pada hari pertama Hari Aksi Suhu Panas sedunia pada 14 Juni, kota-kota di seluruh dunia menerima peringatan untuk bersiap menghadapi gelombang panas ekstrem.
Panas menyengat
Saat ini ada kemungkinan 50% suhu global mencapai 1.5 °C di atas level pra-industri dalam lima tahun ke depan. Untuk diketahui, suhu dalam satu dekade terakhir ini (2011-2020) lebih tinggi daripada sebelumnya, menurut Laporan IPCC yang dirilis pada Agustus 2021.
Akibatnya, gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, lebih lama, lebih panas, dan lebih mematikan, terutama di perkotaan. Suhu panas pada awal musim panas dan lonjakan suhu yang mengancam jiwa di AS, India, Pakistan, Asia Timur, dan Eropa selatan hanyalah permulaan.
Gelombang panas dapat menyebabkan banyak penyakit yang berhubungan dengan panas dan bahkan kematian. Pekerja lapangan, mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, orang lanjut usia, balita, orang dengan difabilitas, dan orang-orang dengan kondisi bawaan adalah yang paling terdampak.
Namun, bahaya tersebut dapat dicegah.
“Gelombang panas adalah pembunuh senyap dari perubahan iklim, tetapi tidak semestinya begitu,” kata Francesco Rocca, Presiden Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Hari Aksi Suhu Panas
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit (IFRC) adalah jaringan humanitarian terbesar, beranggotakan 192 Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Nasional dan hampir 15 juta relawan di seluruh dunia.
Pada 14 Juni, IFRC meluncurkan Hari Aksi Suhu Panas untuk meningkatkan kesadaran tentang pengurangan dampak buruk dari gelombang panas ekstrem. Berdasarkan rilis pers, IFRC bermitra dengan C40 Cities “dalam rangka mengajak para pejabat kota, perencana kota, dan penduduk kota di setiap wilayah di dunia untuk bersiap menghadapi gelombang panas yang lebih berbahaya dan mematikan.”
“Sebagian besar gelombang panas diperkirakan berhari-hari atau berminggu-minggu sebelumnya, memberikan cukup waktu untuk bertindak lebih awal, dan menginformasikan serta melindungi kelompok paling rentan. Kabar baiknya, ada tindakan sederhana dan murah yang dapat dilakukan pihak berwenang untuk mencegah kematian yang tidak semestinya terjadi akibat suhu panas,” ujar Rocca.
Sumber Rujukan dan Kerangka
Di seluruh dunia, Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit dan Jaringan C40 Cool Cities mendukung kota-kota untuk bersiap menghadapi gelombang panas. Dukungan itu berupa rancangan aksi menghadapi suhu panas, kampanye kesadaran publik, layanan kesehatan, dan kajian terkait suhu panas.
Berikut adalah sumber rujukan bagi perencana kota dan pemerintah pejabat untuk diadopsi dan ditingkatkan: ·
- Urban Cooling Toolbox dari C40 untuk menurunkan suhu perkotaan dan mengurangi dampak dari efek suhu panas perkotaan.·
- Heat Resilient Cities Benefit Tool dari C40 untuk membantu mengukur manfaat kesehatan, ekonomi, dan lingkungan dari tindakan adaptasi.
- Heat Wave Guide for Cities dan Urban Action Kit dari IFRC untuk mengantisipasi dan merancang persiapan menghadapi gelombang panas ekstrem dan mengurangi risiko mematikan.
- Beating the Heat: A Sustainable Cooling Handbook for Cities dari UNEP dan Cool Coalition yang diluncurkan pada helatan COP26 dengan 80 studi kasus dan contoh pendukung.
Sayangnya, pada titik ini, gelombang panas tidak dapat dihindari. Namun, dengan lonjakan suhu yang lebih ekstrem di cakrawala, kota-kota mesti bersiap melindungi warganya dari risiko gelombang panas perkotaan yang sesungguhnya dapat dicegah.
Penerjemah: Gayatri WM
Editor: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan