Ikhtisar Keberlanjutan Digital dalam Bisnis di Kawasan Asia Pasifik
Foto oleh Alex Kotliarskyi di Unsplash
Dapatkah Anda membayangkan apa jadinya hidup tanpa teknologi? Peralihan menuju produk dan layanan digital kurun dekade terakhir telah mengubah banyak aspek kehidupan kita, termasuk situasi kehidupan, pendidikan, dan transportasi.
Namun, bagaimana transformasi digital dapat membawa kita lebih dekat menuju keberlanjutan? Sebuah laporan bersama yang dirilis oleh Tata Consultancy Services (TSC) dan Center of Digital Enterprise (CODE) di Business School Universitas Auckland tentang Digital Sustainability Index mengungkapkan bagaimana bisnis di kawasan Asia Pasifik menggunakan sarana digital untuk mencapai keberlanjutan.
Apa itu Keberlanjutan Digital?
Keberlanjutan Digital menyangkut bagaimana kita menggunakan sumber daya digital untuk memaksimalkan kontribusi kita terhadap keberlanjutan. TSC dan CODE percaya bahwa transformasi digital adalah kunci untuk mempercepat pencapaian keberlanjutan, terutama ketika diterapkan ke dalam bisnis.
Indeks Keberlanjutan Digital adalah laporan pertama yang melacak bagaimana bisnis di kawasan Asia Pasifik memanfaatkan sumber daya digital untuk mewujudkan tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Tujuan kami adalah memulai percakapan yang sungguh-sungguh tentang konvergensi transformasi digital dan keberlanjutan bagi bisnis yang sesuai dengan masa depan serta orang-orang dan planet kita,” kata Girish Ramachandran, Presiden TSC.
Laporan tersebut didasarkan pada survei yang menyasar para eksekutif level-C dari 195 perusahaan di Australia, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, Korea Selatan, dan Jepang. Empat tema penting digunakan untuk menggali wawasan yang berharga:
- Orientasi: Penggerak untuk mengejar Keberlanjutan Digital
- Digital: Kematangan digital bisnis
- Kemitraan: Ekosistem mitra dan pendukung
- Tata kelola: Mekanisme tata kelola internal yang terlibat dalam Keberlanjutan Digital
Temuan Utama
Sebanyak 87% perusahaan setuju bahwa Keberlanjutan Digital membuat merek mereka dapat bersaing di pasar. Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut juga mengakui aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan bisnis mereka, meskipun tingkat prioritasnya berbeda-beda di setiap negara.
Namun, konsep ini bukannya berjalan mulus begitu saja. Laporan tersebut mengungkap bahwa kurangnya justifikasi yang jelas (ROI) untuk berinvestasi dalam alat keberlanjutan disebut sebagai tiga penghambat teratas dalam penerapan Keberlanjutan Digital. Australia dan Selandia Baru menyebut bahwa anggaran yang terbatas menjadi penghambat utama mereka; sementara itu, Singapura dan Filipina berjuang dengan kurangnya keahlian internal. Kondisi semacam itu perlu diperbaiki agar perusahaan memiliki ruang untuk berinovasi.
Dalam kemitraan, 87% perusahaan mencari mitra strategis dalam Keberlanjutan Digital. Untuk menciptakan kontribusi yang berdampak, semua pemangku kepentingan terkait harus memahami misi dan tujuan keberlanjutan perusahaan.
Masa Depan Keberlanjutan Digital
Perkembangan dunia digital memungkinkan kita untuk membayangkan kembali bagaimana kita menjalankan sesuatu, termasuk bisnis. Saat kita perlahan bangkit dari dampak COVID-19, semakin terlihat bahwa model bisnis perlu menerapkan keberlanjutan sebagai salah satu lensa inti untuk memastikannya berumur panjang. Laporan Indeks Keberlanjutan Digital menunjukkan betapa upaya untuk meningkatkan upaya keberlanjutan digital memerlukan tujuan yang jelas, pengukuran yang tepat, dan ekosistem yang dapat mendorong peningkatan ini dalam jangka panjang.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Editor: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan