Seoul Luncurkan Climate Card bagi Wisatawan untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan
Foto: Manki Kim di Unsplash.
Penyebaran budaya pop Korea ke seluruh dunia atau dikenal dengan Hallyu telah mendatangkan jutaan wisatawan internasional ke Korea Selatan. Dari beberapa kota dan provinsi yang ada di Korea Selatan, sebagian besar wisatawan datang ke Seoul. Dalam upaya meningkatkan pariwisata sekaligus mempromosikan keberlanjutan, Pemerintah Metropolitan Seoul memperkenalkan Climate Card bagi wisatawan untuk menggunakan transportasi umum tanpa batas.
Target Pariwisata dan Emisi Korea Selatan
Pariwisata Korea Selatan tengah naik daun. Tahun 2023 saja, Negeri Ginseng menyambut sekitar 11 juta pengunjung.
Di sisi lain, Korea Selatan telah mengumumkan komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 40% dari tingkat emisi tahun 2018 pada tahun 2030. Target ini memerlukan perubahan nyata dan kebijakan yang kuat di semua sektor, termasuk transportasi. Pada tahun 2023, sektor transportasi Korea Selatan mengurangi emisinya sebesar 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya, atau sekitar 95 juta ton.
Sementara itu, Pemerintah Metropolitan Seoul berencana mengurangi emisi GRK di wilayah Seoul sebesar 50% dari tingkat emisi tahun 2005 pada tahun 2033. Rencana tersebut terutama menyasar sektor bangunan, transportasi, dan energi.
Climate Card untuk Wisatawan Seoul
Memastikan transportasi umum yang berkualitas untuk semua adalah salah satu cara terbaik berbasis bukti untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan. Dengan Climate Card Tourist Pass, wisatawan di Seoul, baik mancanegara maupun domestik jangka pendek dapat menggunakan transportasi umum tanpa batas. Tiket ini mulai berlaku 1 Juli 2024.
Ada empat pilihan: tiket masuk satu hari, tiket masuk dua hari, tiket masuk tiga hari, dan tiket masuk lima hari. Harganya berkisar antara 5.000 KRW (atau sekitar Rp59 ribu) hingga 15.000 KRW (sekitar Rp178 ribu). Wisatawan dapat membeli tiket tersebut di berbagai tempat, seperti Pusat Informasi Wisatawan di Seoul Tourism Plaza dan Myeongdong, pusat keamanan pelanggan di stasiun kereta bawah tanah di Jalur 1 hingga 8, serta di toserba-toserba di dekat stasiun kereta bawah tanah.
Tiket Climate Card ini juga memberikan keuntungan yang berlaku di beberapa fasilitas budaya dan pertunjukan, seperti diskon 50% untuk masuk ke Seoul Science Center dan Seoul Grand Park. Korea Herald melaporkan bahwa layanan tiket tersebut mengintegrasikan layanan bus air di sepanjang Sungai Han pada bulan Oktober.
Menuju Netralitas Karbon
Selain pariwisata berkelanjutan, Seoul juga telah meningkatkan kualitas udaranya dan berupaya mengurangi emisi melalui berbagai program dan kebijakan. Tiket wisatawan ini sebenarnya adalah versi dari Climate Card yang sudah ada. Selama masa uji coba (Januari–Juni), Climate Card menyediakan akses transportasi umum Seoul dan Seoul Bike selama 30 hari dengan biaya sekitar Rp780 ribu.
Menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP), kualitas udara di Wilayah Ibu Kota Seoul telah meningkat secara signifikan. Dari tahun 2005 hingga 2021, wilayah ini mengalami penurunan rata-rata PM10 (bahan partikulat kasar) tahunan sebesar 30-40%. Namun, emisi karbon dioksida (CO2) meningkat sebesar 26% selama periode tersebut.
“Meskipun penelitian sebelumnya berfokus terutama pada peningkatan kualitas udara, penelitian saat ini bertujuan untuk mencapai manfaat kesehatan dan transisi energi melalui netralitas karbon,” kata Cho Kyeong-doo, Direktur Jenderal Pusat Netralitas Karbon Incheon. “Investasi berkelanjutan untuk mengatasi perubahan iklim dan meningkatkan kualitas udara secara bersamaan akan menjadi hal yang sangat penting di masa depan.”
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan