Kemajuan Australia dalam Pengelolaan Sampah Makanan lewat Program FOGO
Foto: Nareeta Martin di Unsplash.
“Jangan membuang-buang makanan” barangkali menjadi salah satu nasihat yang paling kita ingat sejak kecil. Hari ini, nasihat itu terasa semakin benar lantaran kehilangan dan pemborosan makanan (Food loss and waste) saat ini merupakan salah satu masalah utama dunia. Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, kini tengah berupaya untuk mengatasi persoalan sampah makanan melalui berbagai kebijakan. Di Australia, pengelolaan sampah makanan melalui program Makanan Organik Kebun Organik (Food Organics Garden Organics/FOGO) mengantarkan negara itu selangkah lebih maju.
Masalah multifaset
Sampah makanan merupakan masalah multifaset. Membuang makanan berarti membuang semua sumber daya, energi, dan air yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Makanan yang berakhir di tempat pembuangan sampah akan membusuk dan menghasilkan gas metana, yang berkontribusi pada kenaikan suhu Bumi. Selain itu, hal itu juga memperburuk kerawanan pangan dan membebani sistem pengelolaan sampah.
Laporan Indeks Makanan UNEP memperkirakan bahwa terdapat sekitar 931 juta ton sampah makanan yang dihasilkan pada tahun 2019, dan lebih dari setengahnya berasal dari rumah tangga. Di Australia, sekitar 7,6 juta ton makanan terbuang sia-sia setiap tahunnya. Sampah makanan menyumbang sekitar 3% emisi gas rumah kaca tahunan Australia dan menyebabkan kerugian sekitar $36,6 miliar per tahun.
Mengurangi sampah makanan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia, lingkungan, dan ekonomi. Australia telah menetapkan tujuan untuk mengurangi separuh sampah makanan pada tahun 2030 melalui Peta Jalan Strategi Pengelolaan Sampah Pangan Nasional dan Rencana Aksi Kebijakan Sampah Nasional. Australia menerapkan program FOGO untuk rumah tangga dan bisnis sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah makanan mereka.
Pengelolaan sampah makanan
FOGO merupakan program layanan pengumpulan sampah tepi jalan yang memungkinkan sisa makanan ditambahkan ke tempat sampah kebun. Alih-alih dikirim ke tempat pembuangan sampah (TPA), sampah makanan dikumpulkan dan didaur ulang menjadi kompos dan pembenah tanah.
Secara umum, ada dua jenis layanan pengumpulan sampah organik tepi jalan Australia: pengumpulan Garden Organics (GO) dan FOGO. Sekitar 42% warga memiliki akses ke layanan pengumpulan tepi jalan GO, dan sekitar 32% memiliki akses ke layanan FOGO. Dengan memperkenalkan FOGO ke rumah tangga dan bisnis, pemerintah Australia bermaksud untuk memperluas akses pengelolaan sampah makanan dan mengurangi dampak lingkungan melalui pengomposan.
Konsumsi makanan dengan bijak sangat penting untuk mencegah makanan terbuang atau menjadi sampah. Namun, pengomposan dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak lingkungan dari sampah makanan. Sampah makanan akan memberikan nutrisi ke tanah, yang pada gilirannya dapat memangkas ongkos pupuk dalam produksi pertanian. Pengomposan juga dapat mengurangi potensi pencemaran gas metana dari sampah makanan di tempat pembuangan sampah.
Meningkatkan partisipasi
Awalnya, tujuan untuk memperkenalkan FOGO akan tercapai pada tahun 2023. Namun, target tersebut diundur hingga tahun 2030 karena kurangnya kepemimpinan. Menurut ABC News, saat ini hanya 139 dari 537 pemerintah daerah yang memiliki koleksi FOGO. “Kami ingin melihat lebih banyak upaya dari dewan dan pemerintah negara bagian dan teritori untuk meningkatkan pengumpulan makanan dan sampah organik di pinggir jalan,” kata Menteri Lingkungan Hidup Australia, Tanya Plibersek.
Jutaan orang masih menderita kemiskinan dan kelaparan. Fakta tersebut menjadi salah satu dari sekian banyak alasan mengapa pengurangan sampah makanan sangat penting. Konsumsi dan produksi makanan dengan bijak serta pengelolaan sampah makanan yang tepat sangat penting untuk mengurangi makanan yang terbuang beserta dampaknya. Tentunya, hal ini membutuhkan upaya terus menerus dari pemerintah, organisasi, komunitas, peneliti, dan para pemangku kepentingan terkait lainnya.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan