Mengatasi Krisis Global dan Meningkatkan Ekonomi dengan Restorasi Hutan
Foto: Syahrin Seth di Unsplash.
Hutan menutupi lebih dari empat miliar hektare permukaan bumi. Sebagai sistem ekologi yang mendukung kehidupan di Bumi dengan menyerap karbon, hutan menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati dan menopang kesehatan dan kesejahteraan manusia. Karenanya, restorasi hutan sangat penting di tengah berbagai krisis yang melanda dunia.
Kondisi hutan saat ini
Secara global, kawasan hutan mengalami penyusutan. Laporan penting Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bertajuk Keadaan Hutan Dunia 2022 memaparkan kondisi hutan saat ini di seluruh dunia dan memberikan solusi untuk meningkatkan sistem pertanian.
Diperkirakan 420 juta hektare hutan mengalami deforestasi antara tahun 1990-2020. Deforestasi didefinisikan sebagai “konversi hutan menjadi lahan lain, baik yang disebabkan oleh manusia atau bukan.” Aktivitas manusia, kebakaran hutan, dan bencana yang berkaitan dengan iklim, merupakan segelintir penyebab degradasi hutan.
Pandemi COVID-19 juga turut memengaruhi rantai nilai dan perdagangan hutan, menambah angka kemiskinan ekstrem sebanyak 124 juta orang. Mengingat masyarakat dan dunia sangat bergantung pada hutan, restorasi hutan menjadi sangat penting untuk menghentikan krisis dan meningkatkan ekonomi.
Tiga solusi
Dalam menghadapi berbagai ancaman global, dunia membutuhkan solusi hemat yang dapat diterapkan dalam skala besar. Laporan tersebut memaparkan tiga solusi berbasis hutan untuk mengatasi masalah mendesak dunia saat ini:
- Menghentikan deforestasi dan memelihara hutan dianggap hemat biaya untuk menghindari emisi sekitar 3,6 gigaton CO2 per tahun antara tahun 2020 dan 2050.
- Memulihkan lahan dan memperluas agroforestri dapat berguna untuk 1,5 miliar ha hutan yang terdegradasi, meningkatkan 1 miliar ha produktivitas pertanian, dan menghilangkan 0,9–1,5 gigaton emisi CO2 setiap tahun dari atmosfer antara tahun 2020 dan 2050.
- Memanfaatkan hutan secara berkelanjutan dan membangun rantai nilai hijau dapat membantu memenuhi permintaan akan kebutuhan di masa depan, yang diperkirakan akan mencapai 190 miliar ton pada tahun 2060 dan menciptakan ekonomi yang berkelanjutan.
Mulai dengan restorasi hutan
Restorasi hutan merupakan upaya skala besar yang membutuhkan kolaborasi semua pemangku kepentingan terkait, termasuk pengambil kebijakan, masyarakat lokal, dan bisnis. Laporan tersebut menyatakan bahwa upaya sinergis antara ketiga jalur tersebut dapat memberi keuntungan untuk berbagai sektor, termasuk ketahanan iklim, pemulihan lingkungan, dan potensi pembangunan lokal yang berkelanjutan.
Laporan tersebut diakhiri dengan saran-saran untuk memulai langkah awal yang dapat diambil:
- Alokasikan dana untuk kebijakan pekerjaan hijau (green jobs) dan berkelanjutan jangka panjang dan mobilisasi investasi sektor swasta.
- Berdayakan dan beri insentif kepada aktor dan masyarakat lokal untuk memimpin langkah restorasi hutan.
- Tingkatkan kesadaran akan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan serta manfaat ekonomi dan lingkungannya melalui dialog kebijakan.
- Maksimalkan sinergi antara tiga jalur dalam kebijakan pertanian, kehutanan, lingkungan, dan kebijakan lainnya, serta minimalkan trade-off.
—
Artikel ini diterbitkan untuk memperingati Hari Hutan Internasional pada tanggal 21 Maret. Baca laporan selengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan