Menghubungkan Bidang-Bidang Hutan yang Terpisah di Semenanjung Malaysia
Foto oleh Zainal Azrin Mohamad Saari di Unsplash
Hutan menyediakan napas bagi kehidupan. Menyebut hutan sebagai paru-paru bumi bukannya tanpa alasan; hutan memegang kendali untuk dekarbonisasi, pelestarian keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim.
Pemerintah Malaysia baru-baru ini meluncurkan rencana konservasi hutan bernama Central Forest Spine Master Plan (CFSMP). Proyek ini bertujuan untuk menghubungkan bidang-bidang hutan di Semenanjung Malaysia yang saat ini terpisah karena deforestasi.
Central Forest Spine
Lebih dari separuh wilayah Malaysia adalah hutan. Di Semenanjung Malaysia, hutan-hutan itu disebut Tulang Punggung Hutan Sentral/Central Forest Spine (CFS). Area ini dibagi menjadi empat kompleks, dengan total area seluas 5,3 juta hektare di delapan negara bagian. Namun, hingga 2019, Semenanjung Malaysia telah kehilangan 245.566 hektare hutannya akibat deforestasi dan pengelolaan yang tidak tepat.
Sesuai namanya, CFS mendukung planet ini dengan menjadi suaka bagi hewan-hewan yang terancam punah, menyimpan karbon, melestarikan sumber daya alam, dan memproduksi komoditas. Menyadari pentingnya hutan sebagai aset nasional, pemerintah Malaysia meluncurkan Central Forest Spine Master Plan (CFSMP) pada tahun 2010. Program bertujuan untuk melestarikan CFS dengan menghubungkan kembali kawasan-kawasan hutan yang terpisah.
Pada Juli 2022, CFSMP diadopsi oleh pemerintah sebagai pedoman perencanaan dan pengelolaan hutan di Semenanjung Malaysia. Program tersebut disetujui pada 20 Juli dalam Rapat ke-40 Dewan Perencanaan Fisik Nasional yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob
Menyambungkan melalui Penghubung
Menghubungkan hutan yang terpisah sangat penting untuk melestarikan Central Forest Spine. Salah satu caranya adalah melalui penghubung, yaitu koridor yang menghubungkan hutan-hutan tersebut. Rencana induk menemukan 37 hubungan vital yang menghubungkan bagian utara dan selatan semenanjung.
Proyek ini mengungkap dua jenis penghubung: Penghubung Primer dan Penghubung Sekunder. Penghubung primer adalah koridor yang menghubungkan hutan yang terpisah, memungkinkan satwa liar dan setiap komponen biologis di hutan dapat bergerak bebas. Membangun & meluncurkan kembali Penghubung Primer akan membutuhkan pembebasan lahan dan membangun jembatan layang.
Sementara itu, Penghubung Sekunder dimanfaatkan sebagai batu loncatan untuk menghubungkan petak-petak kecil hutan yang direstorasi yang terlalu jauh satu sama lain. Saluran air dan aliran sungai adalah contoh Penghubung Sekunder yang memungkinkan hewan kecil dan besar berpindah-pindah antar tempat.
Jalan Lebih Cerah Menuju Kelestarian Hutan
Tahun ini, perjalanan kelestarian hutan Malaysia telah melangkah ke jalan yang lebih cerah. Pada bulan yang sama dengan waktu peluncuran CFSMP, pemerintah Malaysia juga meloloskan Undang-Undang Kehutanan Nasional (Amandemen) 2022. Amandemen tersebut mencakup aturan dan hukuman yang lebih ketat untuk pelanggaran terhadap cagar hutan dan beberapa ketentuan baru lainnya. Perubahan ini menandakan satu langkah maju dalam menghadapi perubahan iklim dan menciptakan masa depan yang berkelanjutan untuk semua.
Editor & Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan