Mountain Partnership: Mengatasi Tantangan Ekosistem dan Masyarakat Pegunungan
Foto oleh Piotr Burzynski di Unsplash.
Pegunungan merupakan pilar penting bagi ekosistem dan sumber mata pencaharian di Bumi. Perlu tindakan konkret agar pegunungan dapat terus menopang kehidupan dan tidak rusak akibat perubahan iklim.
Kerusakan Gunung
Sekitar 27% permukaan Bumi merupakan pegunungan. Sebagian orang mendaki gunung untuk menghilangkan stres, dan sebagian lainnya menetap dan membentuk masyarakat di lereng gunung. Ekosistem gunung merupakan rumah bagi berbagai spesies hewan dan tumbuhan serta menyediakan kita kayu, air minum, dan udara bersih. Singkatnya, gunung sangat penting.
Sayangnya, gunung juga rawan terhadap kerusakan. Perubahan iklim dan perilaku manusia telah membuat gunung sangat rentan dan tidak sehat, yang pada gilirannya berdampak pada kehidupan di Bumi yang sangat bergantung padanya.
Berdasarkan usulan pemerintah Kirgistan, tahun 2022 dicanangkan oleh PBB sebagai Tahun Pembangunan Gunung Berkelanjutan Internasional. Kebetulan, tahun ini juga menandai Pertemuan Global Mountain Partnership Keenam, yang diadakan setiap empat tahun sekali.
Mengambil tema “Masalah Pegunungan: Gagasan untuk Aksi/Pembangunan Aliansi untuk Pegunungan yang Tangguh”, pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh ekosistem dan masyarakat pegunungan.
Empat tantangan
Mountain Partnership didirikan oleh Pemerintah Italia dan Swiss, FAO PBB, dan UNEP pada tahun 2002. Anggotanya adalah pemerintah negara-negara dunia dan organisasi internasional yang peduli terhadap keberlanjutan gunung.
Pertemuan keenam dimulai pada 26-29 September 2022. Pada tanggal 27, empat sesi panel membahas tantangan yang berbeda terkait pegunungan. Intisarinya sebagai berikut:
- Aksi iklim: mengenali dampak perubahan iklim pada komunitas dan wilayah pegunungan dan kebutuhan untuk meningkatkan adaptasi dan mengambil tindakan dari tingkat lokal hingga internasional.
- Restorasi dan perlindungan ekosistem: menampilkan contoh proyek yang berhasil melalui kemitraan swasta-publik, insentif yang dipimpin pemerintah, dan kerangka kerja hukum, dan menyoroti area perkembangan penting yang diperlukan untuk kemajuan berkelanjutan.
- Membangun ekosistem pegunungan yang berkelanjutan: membahas poin-poin produktivitas pertanian pegunungan, pariwisata, pemberdayaan perempuan pegunungan, dan kompleksitas kemitraan multipihak.
- Peluang pembiayaan: membahas pentingnya integrasi lintas sektor dan menekankan bahwa investasi memerlukan perspektif jangka panjang yang mencakup pembiayaan inovatif.
Aksi lima tahun ke depan
Menyusul usulan tahun lalu, Kirgistan membahas kembali perlunya rencana aksi. Menurut Nurlan Aitmurzaev, Utusan Khusus Presiden Republik Kirgistan untuk Masalah Gunung, tujuan utamanya adalah mendeklarasikan 2023-2027 sebagai “Lima Tahun Aksi untuk Pembangunan Kawasan Pegunungan” dengan fokus pada implementasi dana pembangunan, pengembangan program, dan pendirian universitas gunung global.
Sesi panel juga diadakan untuk membahas tindakan masa depan yang diperlukan untuk keberlanjutan gunung, dengan ringkasan sebagai berikut:
- Kerja sama lintas-batas: membahas pendekatan dan peluang untuk mengelola kawasan pegunungan lintas-batas dan peran jaringan lintas-batas dalam memastikan keanekaragaman hayati dan konservasi budaya.
- Aliansi, advokasi, proses, dan konvensi PBB: menggarisbawahi perlunya koalisi internasional yang fleksibel untuk pegunungan di bawah Konvensi PBB dan pentingnya mengarusutamakan wacana internasional tentang pegunungan ke dalam sistem PBB.
- Sains dan pengetahuan untuk kebijakan: menyoroti pentingnya integrasi komunitas lokal ke dalam perspektif ilmiah, menjembatani kesenjangan melalui praktik komunitas, dan mengubah relasi kekuasaan melalui penelitian yang dipimpin oleh masyarakat adat.
- Inovasi, infrastruktur, dan konektivitas digital: menggarisbawahi aspek inovasi, termasuk integrasi lintas-sektor, dampak sosial terhadap perempuan dan desa, serta upaya aliansi multi-stakeholder dan internasional.
Baca rangkuman laporan lengkap pertemuan tersebut di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut