Tiada Lagi Kerja Paksa dan Pekerja Anak di Industri Kapas Uzbekistan
Foto oleh Quang Nguyen Vinh di Pexels.
Uzbekistan adalah produsen kapas terbesar ke-8 di dunia. Namun, industri kapas negara itu memiliki sejarah kerja paksa yang kelam. Baru dalam beberapa tahun terakhir negara tersebut mengakhiri kerja paksa sistemik dan meniadakan pekerja anak.
Sejarah kelam
Saban tahun, hampir dua juta orang di Uzbekistan direkrut saat musim panen kapas. Mereka akan menggarap sekitar 1,06 juta hektare perkebunan kapas yang menghasilkan 3,8 juta bal kapas. Namun, sebagian besar dari orang-orang tersebut dipaksa oleh pemerintah untuk melakukan pekerjaan di bawah kondisi yang kejam.
Menurut Human Rights Watch, pemerintah Uzbekistan selama ini memaksa anak-anak berusia sembilan tahun untuk ikut serta dalam pekerjaan panen kapas. Pada tahun 2012, pekerjaan tersebut dialihkan ke anak-anak yang lebih berumur (remaja) dan orang dewasa setelah menerima kritik internasional. Namun, hal itu tidak menghapus fakta bahwa pihak berwenang negara tersebut telah memberlakukan kerja paksa sistemik pada industri kapas.
Uzbek Cotton Pledge (Ikrar Kapas Uzbekistan) adalah salah satu bentuk perlawanan yang paling menonjol terhadap kerja paksa negara. Ikrar tersebut dicetuskan oleh Cotton Campaign dan mitranya, mendorong merek dan pengecer untuk tidak menggunakan produksi kapas Uzbekistan selama tenaga kerja yang dipaksa negara masih ada. Pada akhirnya, ikrar tersebut ditandatangani oleh 331 merek dan pengecer.
Titik balik
Dalam beberapa tahun terakhir, situasi mulai berkembang menjadi lebih baik. Sejak Ikrar Kapas Uzbekistan diluncurkan pada 2011, pemerintah Uzbekistan berada di bawah tekanan internasional untuk mulai mereformasi industri kapas. Selain itu, Organisasi Buruh Internasional (ILO) juga memulai pemantauan pihak ketiga pada tahun 2014 untuk memastikan akuntabilitas pemerintah.
Tahun 2021 menjadi titik balik bagi industri kapas Uzbekistan. Laporan Pemantauan Pihak Ketiga ILO tahun 2021 mengungkapkan bahwa buruh yang dipaksa negara tidak lagi ditemukan saat panen kapas. Sebanyak 99% orang yang terlibat dalam panen kapas bergabung, dan hanya 1% yang menjadi sasaran paksaan. Berdasarkan wawancara dengan 11.000 pemetik kapas, sebagian besar menyetujui perbaikan kondisi dalam hal kebersihan, makanan, transportasi, dan fasilitas lainnya mulai tahun 2020. Laporan tersebut juga mencatat kenaikan upah yang signifikan sejak tahun 2015.
“Kami bekerja tanpa lelah untuk mengubah pemikiran dan perilaku melalui kampanye peningkatan kesadaran tentang hak-hak buruh. Kami mengkriminalisasi pekerja anak dan kerja paksa. Kami meningkatkan pengawasan ketenagakerjaan kami, dan kami terlibat dalam dialog dengan masyarakat sipil untuk mengidentifikasi kesamaan dan solusi,” kata Tanzila Narbaeva, Ketua Senat Uzbekistan dan Ketua Komisi Nasional untuk Memerangi Kerja Paksa dan Perdagangan Manusia.
Masa depan yang lebih cerah
Awal tahun ini, Cotton Campaign mencabut boikot terhadap kapas Uzbekistan setelah pemberantasan kerja paksa sistemik dan pekerja anak. Namun, tugas belum selesai. Senantiasa melindungi hak-hak buruh, mendirikan serikat pekerja, dan menyeimbangkan hubungan antara perusahaan dan pekerja masih menjadi PR yang belum tuntas. Menghapuskan kerja paksa sistemik dan pekerja anak di industri kapas Uzbekistan membuka pintu kemungkinan reformasi menuju praktik kerja yang etis dan berkelanjutan di industri lain di seluruh dunia.
Penerjemah & Editor: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan