GRI 101: Keanekaragaman Hayati 2024, Standar Pengungkapan Keanekaragaman Hayati Baru bagi Dunia Usaha
Foto: Tomas Sobek di Unsplash.
Aktivitas manusia telah mengubah planet ini dalam banyak hal. Kegiatan ekonomi, khususnya, menjadi sorotan karena dampaknya terhadap lingkungan, termasuk menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati dan hilangnya ekosistem. Oleh karena itu, diperlukan regulasi untuk memastikan operasi bisnis yang bertanggung jawab. Terkait hal ini, Global Reporting Initiative (GRI) merilis GRI 101: Keanekaragaman Hayati 2024, sebuah standar pengungkapan keanekaragaman hayati yang diperbarui untuk dunia usaha di seluruh dunia.
Dunia Usaha & Keanekaragaman Hayati
Selama berabad-abad, umat manusia memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk berbagai kebutuhan. Banyak produk yang kita gunakan sehari-hari berasal dari tumbuhan dan hewan, termasuk makanan, obat-obatan, pakaian, dan furnitur. Namun, peningkatan populasi manusia dan meningkatnya permintaan akan produk dan jasa telah menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap keanekaragaman hayati.
Seruan untuk menghentikan penurunan keanekaragaman hayati semakin bergema dan setiap pemangku kepentingan di seluruh lapisan masyarakat harus berpartisipasi. Peraturan juga telah dibuat untuk memantau dan mengevaluasi dampak dunia usaha terhadap keanekaragaman hayati. Pada tahun 2016, GRI meluncurkan GRI 304: Keanekaragaman Hayati 2016, yang memberikan serangkaian standar bagi perusahaan untuk melaporkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan terhadap keanekaragaman hayati. Pada tahun 2024, GRI merilis GRI 101: Keanekaragaman Hayati 2024 sebagai versi terbaru dari pengungkapan standar keanekaragaman hayati.
GRI 101: Keanekaragaman Hayati 2024
GRI 101: Keanekaragaman Hayati 2024 dikembangkan oleh komite teknis yang melibatkan para pakar dan praktisi multi-stakeholder dari masyarakat sipil, institusi, dunia usaha, dan buruh. Standar ini bertujuan untuk mendorong organisasi agar mengungkapkan secara publik dampak paling signifikan mereka terhadap keanekaragaman hayati dan cara mereka mengatasinya, sehingga mendukung pelaporan keberlanjutan dan akuntabilitas perusahaan.
Standar baru ini dibangun berdasarkan kerangka utama global mengenai keanekaragaman hayati, termasuk Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, yang bertujuan agar keanekaragaman hayati dihargai, dilestarikan, dipulihkan, dan digunakan secara bijaksana. Terdapat beberapa perubahan penting dalam GRI 101: Keanekaragaman Hayati 2024, beberapa di antaranya:
- Memfasilitasi pelaporan dampak menyeluruh di seluruh rantai pasok, di mana dampak terhadap keanekaragaman hayati berpotensi tidak dilaporkan.
- Menekankan pelaporan dampak yang spesifik berdasarkan lokasi, termasuk negara dan yurisdiksi, dengan informasi rinci tentang tempat dan ukuran lokasi operasional.
- Memperkenalkan pengungkapan baru mengenai penyebab langsung penurunan keanekaragaman hayati, termasuk penggunaan lahan, perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, polusi, dan spesies invasif.
- Menambahkan persyaratan baru untuk melaporkan dampak terhadap masyarakat. Hal ini mencakup dampak terhadap komunitas lokal dan Masyarakat Adat, serta bagaimana dunia usaha melibatkan pemangku kepentingan dalam proses restorasi ekosistem.
Meningkatkan Akuntabilitas Keanekaragaman Hayati
Dunia usaha punya peran penting dalam membentuk operasi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Selama dua tahun ke depan, standar GRI 101: Keanekaragaman Hayati 2024 akan menjalani masa percontohan dengan pengguna awal sebelum diterapkan secara resmi pada 1 Januari 2026. Standar baru ini diharapkan dapat berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan akuntabilitas dunia usaha terhadap keanekaragaman hayati.
“Standar GRI yang diperbarui merupakan standar baru bagi transparansi mengenai dampak keanekaragaman hayati. Hal ini akan mendukung pelaporan yang terperinci dan spesifik lokasinya, baik dalam operasi organisasi maupun di seluruh rantai pasoknya, sehingga memastikan para pemangku kepentingan dapat menilai bagaimana dampak terhadap keanekaragaman hayati dimitigasi dan dikurangi. Mengidentifikasi dan mengelola dampak paling signifikan dari sebuah organisasi sangat penting untuk memahami ketergantungan dan risiko,” kata Carol Adams, Ketua Dewan Standar Keberlanjutan Global (GSSB) GRI.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional