Isu Utama dan Pembelajaran Jurnalisme Iklim di Asia Tenggara
Foto: Freepik.
Saat ini, informasi menyebar dengan begitu cepat. Di tengah perkembangan yang terjadi, jurnalisme iklim muncul sebagai salah satu bentuk ilmu komunikasi, sebuah jalan untuk menyebarkan pengetahuan dan informasi mengenai krisis iklim. Namun, menyebarkan informasi mengenai iklim tidak mudah. Inisiatif ClimateXchange membagikan wawasan kunci mengenai isu dan pembelajaran seputar jurnalisme iklim di Asia Tenggara.
Keterkaitan & Keterlibatan Khalayak
Asia Tenggara termasuk salah satu kawasan yang paling rentan terhadap krisis iklim. Karena itu, jurnalis memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang akurat dan faktual mengenai krisis iklim kepada publik. Dalam laporan perdana Wawasan Jurnalisme Iklim Global: Asia Tenggara, ClimateXchange berbagi wawasan utama mengenai jurnalisme iklim di Asia Tenggara. Adapun ClimateXchange adalah inisiatif andalan Syli, sebuah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk mendukung jurnalisme yang digerakkan oleh misi.Berdasarkan sesi konferensi KnowledgeXchange yang dihadiri oleh redaksi media dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, laporan tersebut mengidentifikasi keterkaitan (relatability) sebagai salah satu isu di dalam jurnalisme iklim. Selama ini, ada jarak antara informasi iklim dengan khalayak karena kurangnya kolaborasi regional, jargon yang sulit dipahami, dan rendahnya keterlibatan audiens.
Dalam hal keterlibatan audiens, jurnalis juga mendapat tantangan dari platform digital yang terus berkembang. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mempertahankan perhatian audiens di seluruh platform, mengelola konten di berbagai saluran, dan memanfaatkan data yang tepat.
Dilema Kebebasan Pers & Pendanaan
Kebebasan pers merupakan aspek fundamental dari hak asasi manusia. Sayangnya, jurnalis iklim masih menghadapi risiko hukum saat melaporkan perkembangan mengenai perubahan iklim. Pada tahun 2021, Eco-Business melaporkan bahwa kasus hukum perubahan iklim di Asia meningkat sebanyak 185% sejak 2018. Berdasarkan laporan ClimateXchange, jurnalis iklim di Asia Tenggara seringkali bingung antara menyoroti urgensi informasi iklim atau tetap ‘netral’ untuk menghindari dampak hukum.
Laporan tersebut juga mencatat adanya dilema terkait pendanaan. Situasi menjadi semakin rumit dengan adanya risiko konflik antara menjaga integritas narasi dengan mengikuti kepentingan pengiklan dan perusahaan. Jurnalisme iklim masih memerlukan pengembangan skema pendanaan berkelanjutan yang dapat menjaga transparansi dan integritas sekaligus menjamin kestabilan finansial.
Jurnalisme Iklim yang Aman dan Berkelanjutan
Krisis iklim terus berlanjut, dan masyarakat berhak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Jurnalisme iklim berperan penting dalam menyalurkan informasi kepada publik secara akurat dan jujur. Karena itu, bidang ini harus berkembang.
Membangun dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan jurnalis mengenai krisis iklim, lanskap digital, dan kemampuan menyampaikan cerita sangat penting dalam menjembatani kesenjangan minat dan keterlibatan antara informasi dan audiens. Perusahaan, pengiklan, dan seluruh pemangku kepentingan utama juga perlu mengintegrasikan aspek keberlanjutan dalam beroperasi guna mendukung jurnalisme iklim yang aman, transparan, dan berkelanjutan.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar dan Titis Fitriani
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional