Jaringan Kolaboratif WHO untuk Transformasi Digital Kesehatan
Foto: National Cancer Institute di Unsplash.
Teknologi digital telah merambah ke berbagai aspek kehidupan. Di sektor kesehatan, potensi teknologi digital dimanfaatkan untuk mendukung akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Terkait hal ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan Global Initiative on Digital Health untuk mendukung transformasi digital kesehatan di seluruh negara.
Transformasi Digital Kesehatan
Sistem layanan kesehatan yang tepat dan mudah diakses merupakan hal mendasar bagi masyarakat. Prevalensi penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular dan kanker, meningkat seiring berjalannya waktu, menandakan adanya kebutuhan mendesak untuk menjembatani kesenjangan layanan kesehatan dan mendukung cakupan kesehatan semesta.
Potensi teknologi digital untuk meningkatkan kualitas dan akses layanan kesehatan telah lama diakui. Sejak tahun 2005, WHO telah mengadopsi berbagai resolusi untuk mengembangkan infrastruktur, kebijakan, dan mekanisme digital kesehatan yang diperlukan. Pada tahun 2020, WHO mengadopsi peta jalan Strategi Global Kesehatan Digital 2020–2025 untuk mendukung negara-negara yang menerapkan teknologi kesehatan digital dan mewujudkan kesehatan untuk semua.
Untuk lebih mendukung implementasi peta jalan tersebut, WHO meluncurkan Global Initiative on Digital Health (GIDH) pada 20 Februari 2024.
Platform Kolaborasi WHO
GIDH dimaksudkan sebagai platform untuk membangun jaringan antar negara dan memperkuat kerja sama internasional untuk transformasi digital kesehatan. Meskipun teknologi digital memiliki banyak potensi untuk mendukung cakupan kesehatan semesta (UHC), penerapannya tidak serta merta tanpa tantangan. Misalnya, setiap negara memiliki tingkat kematangan infrastruktur digital, informasi, dan teknologi yang berbeda-beda. Kurangnya sumber daya, pendanaan, dan kebijakan pendukung terkait perlindungan digital juga membuat transformasi digital kesehatan di suatu negara menjadi kurang efektif.
Dalam hal ini, negara-negara anggota WHO bertujuan untuk membangun sistem dan aplikasi kesehatan digital nasional alih-alih inisiatif yang berfokus pada produk. Selain itu, mereka juga akan mendukung kompetensi nasional melalui peningkatan kapasitas untuk membantu petugas layanan kesehatan mempertahankan dan beradaptasi dengan sistem.
GIDH akan berfokus pada beberapa bidang inti berikut:
- Menilai dan memprioritaskan kebutuhan negara akan transformasi digital kesehatan yang berkelanjutan.
- Meningkatkan keselarasan sumber daya digital kesehatan di tingkat negara dan prioritas yang tidak didanai.
- Mendukung percepatan pencapaian tujuan strategis Strategi Global Kesehatan Digital 2020-2025.
- Membangun kapasitas dan upaya untuk mendorong pengembangan, pemeliharaan, dan adaptasi teknologi digital kesehatan sesuai dengan kebutuhan lokal yang terus berubah.
Layanan Kesehatan untuk Semua
Sistem layanan kesehatan yang berkualitas dan mudah diakses adalah kunci untuk menciptakan dunia di mana setiap orang dapat menjalani hidup sehat. GIDH diharapkan akan mendorong lebih banyak kolaborasi antarnegara untuk memajukan transformasi digital kesehatan yang efektif dan dapat menjawab kebutuhan unik setiap negara. Tentu saja, transformasi ini harus berjalan seiring dengan upaya menghapus kesenjangan digital dan meningkatkan keamanan siber di berbagai negara.
“Masa depan digital kesehatan yang direncanakan dengan hati-hati adalah masa depan dimana sistem dapat berkomunikasi satu sama lain – mengurangi beban pekerja dan orang-orang yang mereka layani,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan