Laporan UNICEF Ungkap Kondisi Anak-Anak di Dunia saat Ini
Foto: Seth Doyle di Unsplash.
Prinsip “Tidak Meninggalkan Siapapun” harus menjadi inti dari setiap inisiatif pembangunan berkelanjutan. Hal ini termasuk mengembangkan lingkungan yang mendukung bagi anak-anak sebagai salah satu kelompok rentan. Seiring perubahan dunia dan munculnya berbagai krisis, bagaimana kondisi anak-anak di dunia saat ini?
Kondisi Anak-anak di Dunia
Setiap anak berhak atas lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung dalam tumbuh kembangnya. Hal ini mencakup nutrisi yang cukup, pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang mudah diakses, dan jaring pengaman yang tepat untuk melawan kemiskinan. Sayangnya, pemenuhan hak-hak tersebut masih menjadi tantangan di berbagai belahan dunia. Sekitar 333 juta anak masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, sementara 78 juta anak tidak bersekolah.
Pada Januari 2024, UNICEF menerbitkan laporan berjudul “Prospek Anak-anak pada Tahun 2024: Kerjasama di Dunia yang Terfragmentasi”. Laporan tersebut mengungkap berbagai tren utama yang mempengaruhi perkembangan anak-anak pada tahun 2024 dan seterusnya.
Kematian Ribuan Anak dan Berbagai Temuan Utama Lainnya
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah mengalami berbagai perubahan ekonomi dan politik. Laporan tersebut menyatakan bahwa pergeseran geopolitik dan meningkatnya risiko konflik mengancam perkembangan, kelangsungan hidup, dan kesejahteraan anak-anak.
Sebagai contoh, lebih dari 10.000 anak telah terbunuh sejak Oktober 2023 hingga Januari 2024 akibat serangan udara dan kekerasan Israel di Gaza, Palestina. Antara tahun 2005 hingga 2022, UNICEF mengkonfirmasi 315.000 kekerasan berat terhadap anak-anak dalam konflik, termasuk kekerasan seksual, penculikan, dan penganiayaan. Melemahnya hubungan multilateral antarnegara juga menghambat upaya kolektif untuk melindungi anak-anak dan mengakhiri konflik.
Menurut laporan tersebut, pembatasan perdagangan dan ketimpangan ekonomi juga mempengaruhi perkembangan dan kesejahteraan anak-anak. Pembatasan perdagangan tercermin dalam lonjakan harga di pasar makanan global, yang meningkatkan risiko kekurangan gizi pada anak-anak. Mengutip analisis UNICEF, laporan tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 2 juta bayi yang baru lahir di 127 negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko mengalami stunting akibat kenaikan harga pangan yang disebabkan oleh perang Rusia-Ukraina.
Selain itu, perubahan iklim dan dampak yang diakibatkannya juga mempengaruhi anak-anak. Laporan tersebut menyebut risiko kesehatan akibat El-Nino, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, dan kelangkaan air sebagai beberapa faktor terkait perubahan iklim yang mempengaruhi anak-anak. Misalnya, kematian akibat malaria meningkat 8% antara tahun 2019 hingga 2021, yang sebagian besar dipengaruhi oleh peningkatan suhu dan pola curah hujan yang tidak menentu akibat perubahan iklim. Selain itu, perlindungan hak-hak anak di tengah perkembangan teknologi dan transisi energi juga menjadi sorotan di tengah upaya penghapusan eksploitasi anak.
Dibutuhkan Sinergi dan Kerja Sama Global
Laporan tersebut diakhiri dengan empat skenario yang mengeksplorasi bagaimana dunia dapat berubah dari tahun 2024 hingga 2050 berdasarkan tingkat kerja sama geopolitik dan ekonomi serta tingkat kemajuan teknologi. Skenario-skenario tersebut menyoroti pentingnya sinergi global terhadap perkembangan anak, karena dapat meningkatkan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan. Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa dunia yang terpecah akan menghadirkan masa depan yang suram bagi anak-anak. Oleh karena itu, laporan tersebut menyerukan kerja sama dan kebijakan global untuk melindungi dan meningkatkan pemenuhan hak, keselamatan, dan kesejahteraan anak.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar dan Busra Aulya
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut