Pentingnya Investasi dalam Pengelolaan Sampah Plastik untuk Kurangi Emisi
Foto: tanvi sharma di Unsplash.
Setiap hari, aktivitas manusia menghasilkan sampah dan tidak semuanya dikelola dengan baik, termasuk sampah plastik. Akibatnya, lingkungan kita menjadi tercemar. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh The Circulate Initiative mengungkap bahwa investasi dalam pengelolaan dan daur ulang sampah plastik yang tepat dapat mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan di Asia Tenggara dan India.
Kalkulator PLACES oleh The Circulate Initiative
Plastik memang praktis dan memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, banyaknya sampah plastik yang terakumulasi di darat dan laut menunjukkan bahwa kita terlalu bergantung pada plastik. Data Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan bahwa hanya 9% sampah plastik yang didaur ulang secara global pada tahun 2022. Kebanyakan sampah plastik masih dibuang ke tempat pembuangan sampah, yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.
Saat ini, pengelolaan sampah plastik yang tepat dan bertanggung jawab sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan.
Dalam penelitiannya, The Circulate Initiative berkolaborasi dengan Singapore Institute of Manufacturing Technology (SIMTech), sebuah lembaga penelitian milik Agency for Science, Technology, and Research (A*STAR), untuk mengembangkan kalkulator dampak iklim akses terbuka bernama Kalkulator Penilaian Siklus Hidup Plastik untuk Lingkungan dan Masyarakat (PLACES). Kalkulator ini digunakan untuk melacak emisi gas rumah kaca (GRK), konsumsi energi dan air dari pengelolaan sampah plastik, dan solusi daur ulang di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Wawasan Penting
Dengan memanfaatkan kalkulator PLACES, The Circulate Initiative menerbitkan penelitian berjudul “Manfaat iklim dari pengelolaan sampah plastik di India dan Asia Tenggara.” Penelitian ini menyoroti bagaimana investasi dalam pengelolaan dan daur ulang sampah plastik yang tepat dapat mengurangi GRK secara signifikan di enam negara: India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Tingkat mismanajemen sampah plastik di negara-negara tersebut berkisar antara 50%-75%.
Penelitian tersebut menawarkan empat wawasan utama, yaitu:
- Mendaur ulang seluruh sampah plastik yang salah kelola di enam negara tersebut dapat mengurangi emisi GRK sebesar 229 juta ton pada tahun 2030.
- Mengalihkan satu ton sampah plastik dari pembakaran terbuka ke pengumpulan dan daur ulang yang benar dapat mencegah lebih dari tiga ton emisi GRK.
- Memilih solusi pemulihan dan daur ulang sampah plastik sesuai dengan target daur ulang tahun 2030 yang telah ditetapkan oleh enam negara dibanding pendekatan insinerasi yang disertai dengan pengolahan sampah menjadi energi dapat menghindari sekitar 2 juta ton emisi.
- Memenuhi target daur ulang nasional di enam negara tersebut dapat menghasilkan pengurangan emisi GRK global akibat plastik pada akhir masa pakainya sebesar 10% pada tahun 2030.
Investasi dalam Pengelolaan Sampah Plastik
Pengelolaan sampah sangat penting untuk membatasi suhu Bumi agar tidak melampaui ambang batas 1,5°C. Oleh karena itu, berinvestasi pada pengelolaan sampah plastik yang tepat, efektif, dan bertanggung jawab dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap mitigasi perubahan iklim. Tentu saja, hal ini harus dibarengi dengan peningkatan regulasi dan infrastruktur pengelolaan sampah plastik serta produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab dari perusahaan dan konsumen. Kalkulator PLACES oleh The Circulate Initiative dapat menjadi alat berharga bagi para pengambil keputusan untuk menghitung dampak dan implikasi dari intervensi, kebijakan, dan peraturan mereka terkait pengelolaan sampah plastik.
Baca laporan penelitian The Circulate Initiative selengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan