Upaya Menutup Kesenjangan Gender Global Menurut World Economic Forum
Foto oleh Christina @ wocintechchat.com dari Unsplash
Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan merupakan salah satu topik utama dalam pembangunan berkelanjutan. Meningkatkan kesejahteraan perempuan dalam dunia kerja akan membawa perempuan mencapai standar hidup yang lebih baik bagi individu dan keluarga mereka, dan perjuangan untuk hal ini telah berlangsung selama lebih dari satu abad. Namun, kesenjangan upah berbasis gender merupakan masalah yang masih berlanjut hingga hari ini.
Meski begitu, bukan berarti tidak ada kemajuan dalam mengurangi kesenjangan tersebut. Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) baru saja merilis Laporan Kesenjangan Gender Global 2022, yang menyoroti kemajuan, analisis, dan saran untuk menutup kesenjangan gender dalam angkatan kerja.
Peningkatan 0,2%
World Economic Forum pertama kali menerbitkan laporan ini pada tahun 2006 untuk mengevaluasi kemajuan dalam upaya menutup kesenjangan gender dalam angkatan kerja. Tahun ini, laporan tersebut menyuguhkan evaluasi lintas-negara di 145 negara berdasarkan empat dimensi utama: Partisipasi dan Peluang Ekonomi, Pencapaian Pendidikan, Kesehatan dan Kelangsungan Hidup, dan Pemberdayaan Politik.
Pada tahun 2022, kemajuan dalam menutup kesenjangan gender global telah mencapai 68,1%, meningkat 0,2% dari tahun sebelumnya. Dengan pencapaian ini, laporan tersebut menyatakan bahwa kesenjangan gender global diperkirakan akan tertutup sepenuhnya dalam 132 tahun. Meskipun tren menunjukkan peningkatan dari perkiraan tahun lalu (136 tahun), itu masih jauh lebih lambat dari perkiraan tahun 2020, yakni 100 tahun.
Dibandingkan tahun lalu, dua dari empat dimensi menunjukkan peningkatan. Sub-indeks Partisipasi dan Peluang Ekonomi meningkat dari 58,7% menjadi 60,3%, dan sub-indeks Kesehatan dan Kelangsungan Hidup dari 95,7% menjadi 95,8%. Sub-indeks Pencapaian Pendidikan turun dari 95,2% menjadi 94,4%, sementara Pemberdayaan Politik tetap sama, yakni 22%.
Peringkat yang didominasi Barat
Dari 145 negara, wilayah Amerika Utara dan Eropa memimpin dengan angka kesenjangan gender tertutup masing-masing 76,9% dan 76,6%. Adapun Islandia bertengger di puncak dengan angka 90,8%.
Sementara itu, negara-negara Asia dan Afrika masih mendominasi peringkat setengah ke bawah. Jika dilihat berdasarkan wilayah, persentase penutupan kesenjangan gender terendah dipegang oleh negara-negara Asia Selatan, dengan angka rata-rata 62,3%. Laporan itu juga menyebutkan bahwa terjadi stagnasi di delapan negara yang disurvei.
Meskipun lebih banyak perempuan yang beranjak ke posisi yang lebih baik di tangga karir mereka, laporan tersebut menyebut bahwa banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan tren ini. Misalnya, harapan masyarakat, kebijakan pemberi kerja, lingkungan hukum, dan ketersediaan perawatan.
Laporan lebih lanjut menganalisis bahwa kesenjangan gender saat ini mengancam menculnya krisis karena proyeksi yang semakin dalam dari krisis biaya hidup saat ini, yang akan memengaruhi perempuan dengan tidak proporsional. Transformasi teknologi, kondisi sosial ekonomi, konflik, dan perubahan iklim juga masih diperhitungkan sebagai elemen yang mempengaruhi kesenjangan gender yang ada.
Langkah pertama yang penting
“Tindakan kolektif, terkoordinasi, dan komprehensif akan diperlukan untuk menciptakan perbaikan berkelanjutan dan menghentikan risiko pembalikan. Sebagai dasar tindakan, pemantauan yang ketat dan terus-menerus terhadap kesenjangan gender adalah langkah pertama yang penting,” kata Managing Director WEF, Saadia Zahidi.
Selain pemantauan, Laporan Kesenjangan Gender Global WEF juga memberikan wawasan tentang bagaimana menutupi ketimpangan gender saat ini melalui tindakan kolektif dan individu dari pembuat kebijakan dan pelaku bisnis menuju pekerjaan yang lebih berkelanjutan dan layak.
Penerjemah & Editor: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan