Mendorong Ekonomi Biru Berkelanjutan dengan Blue SEA Finance Hub
Foto: Brian Yurasits di Unsplash.
Sebagai kawasan maritim, masyarakat Asia Tenggara sangat bergantung pada laut untuk mencapai kesejahteraan ekonomi dan sosial. Namun sayangnya, ekosistem laut di kawasan ini dirundung berbagai masalah seperti polusi plastik, kerusakan habitat, hingga eksploitasi berlebihan keanekaragaman hayati laut. Sebagai upaya untuk mendukung laut yang sehat dan mewujudkan ekonomi biru yang berkelanjutan di Asia Tenggara, Bank Pembangunan Asia (ADB) meluncurkan Blue SEA Finance Hub.
Masalah Laut di Asia Tenggara
Negara-negara ASEAN memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Indonesia, misalnya, memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km, dan Filipina 33.900 km. Laut sangat berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat dan perekonomian negara melalui pertanian, pariwisata, dan perdagangan.
Namun, negara-negara ASEAN masih berjuang melawan polusi plastik. Lebih dari 31 juta ton sampah plastik dihasilkan setiap tahunnya di enam negara ASEAN, dan sebagian besar berakhir di laut dan berdampak pada keanekaragaman hayati laut. Masalah lainnya adalah eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan dan tantangan yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Blue SEA Finance Hub
Pada November 2021, Bank Pembangunan Asia meluncurkan Blue SEA Finance Hub untuk mendukung pemanfaatan laut yang berkelanjutan. Hub ini memiliki dua tujuan utama: mempercepat pengembangan proyek-proyek biru untuk meningkatkan keberlanjutan ekosistem laut dan mempercepat aliran pendanaan dari sumber-sumber publik dan swasta untuk proyek-proyek tersebut.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Blue SEA Finance Hub berupaya mengidentifikasi dan menyusun pendanaan proyek kesehatan laut untuk menarik pendanaan. Hub ini juga akan berfokus pada peningkatan kapasitas pemerintah dan badan usaha milik negara di seluruh negara ASEAN mengenai kerangka kerja, pendekatan, dan mekanisme pendanaan proyek terkait kelautan. Selain itu, meningkatkan UMKM dengan teknologi atau layanan yang relevan juga menjadi prioritas.
Sebagai bagian dari program ini, ADB menyetujui pinjaman sebesar $500 juta pada Mei 2024 untuk mendukung Indonesia dalam mengurangi polusi plastik di laut. Proyek ini sejalan dengan rencana nasional untuk mengurangi aliran plastik ke laut sebesar 70% pada tahun 2025, yang menargetkan pengelolaan sampah di hilir, produksi sampah plastik di hulu, dan reformasi sistem secara keseluruhan.
Mendorong Pemanfaatan Laut yang Berkelanjutan
Blue SEA Finance Hub merupakan bagian dari misi ADB yang lebih besar untuk mewujudkan laut yang sehat dan ekonomi biru yang berkelanjutan. Dalam hal ini, lembaga jasa keuangan punya tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam melestarikan ekosistem dan memobilisasi pendanaan untuk hal-hal yang paling penting. Pada akhirnya, mendukung praktik penggunaan dan pengelolaan laut yang berkelanjutan harus melibatkan pendekatan multi-stakeholder baik pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan