Ancaman dan Dampak Spesies Asing Invasif terhadap Lingkungan dan Manusia
Foto: Canva.
Invasi alien mungkin terdengar layaknya sesuatu yang ada dalam film Sci-Fi. Kenyataannya, invasi alien juga terjadi dalam kehidupan nyata di Bumi. Semakin mudah manusia melakukan perjalanan keliling dunia, semakin besar kemungkinan tumbuhan dan hewan terbawa dari lingkungan aslinya ke lingkungan yang baru, dan menjadikan mereka spesies asing. Sekilas mungkin tidak ada masalah, namun sebuah laporan yang diluncurkan oleh Platform Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES) mengungkap ancaman serius spesies asing invasif dan cara mengatasinya.
Spesies Asing Invasif
Menurut IPBES, “invasi biologis” merupakan perpindahan atau pergerakan suatu spesies di luar jangkauan alaminya. Hal ini dapat terjadi secara sengaja maupun tanpa disengaja, baik karena aktivitas manusia maupun kejadian alam. Ketika hal itu terjadi, spesies pendatang baru akan menjadi “spesies asing”. IPBES mencatat terdapat lebih dari 37.000 lingkungan spesies asing di seluruh dunia, yang kini jumlahnya meningkat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Invasi biologis memang jarang terjadi, tetapi spesies asing memiliki peluang untuk menetap di lingkungan barunya dan menyebar. Ketika suatu spesies asing telah menghasilkan populasi yang mampu bertahan hidup, spesies tersebut diklasifikasikan sebagai “spesies asing yang mapan”.
Selain itu, ada juga yang disebut “spesies asing invasif”. Spesies ini adalah klasifikasi spesies asing yang menyebar dan berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati, yang pada gilirannya juga berdampak terhadap lingkungan. Invasi spesies asing diakui sebagai salah satu dari lima pendorong utama perubahan alam, di samping alih fungsi lahan dan laut, eksploitasi organisme, perubahan iklim, dan polusi.
Laporan Penilaian

Terdapat lebih dari 3.500 spesies asing invasif yang berbahaya secara global. Mereka telah menjadi ancaman serius bagi manusia, keanekaragaman hayati, dan ekosistem. Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal menargetkan untuk mengurangi perkembangan spesies asing invasif prioritas setidaknya sebesar 50% pada tahun 2030.
IPBES merilis Laporan Penilaian Spesies Asing Invasif dan Pengendaliannya pada September 2023. Laporan ini memerlukan waktu penyelesaian selama empat setengah tahun oleh 86 ahli dari 49 negara. Dalam siaran pers dikatakan bahwa laporan tersebut mengacu pada lebih dari 13.000 referensi, termasuk kontribusi yang sangat signifikan dari Masyarakat Adat dan komunitas lokal.
“Ini merupakan komitmen yang penting namun juga sangat ambisius. Laporan IPBES memberikan bukti, alat, dan opsi untuk membantu mewujudkan komitmen ini,” kata Sekretaris Eksekutif IPBES Dr. Anne Larigauderie.
Temuan Utama
Dampak invasi biologis bersifat global. Secara geografis, penyebarannya 34% dari benua Amerika, 31% dari Eropa dan Asia Tengah, 25% dari Asia Pasifik, dan 7% dari Afrika. Memang, tidak semua spesies asing lantas menjadi invasif. Akan tetapi, meskipun banyak spesies yang diperkenalkan dengan niat baik untuk memberi manfaat bagi manusia, dampak negatif dari spesies asing sangat besar, dan terkadang berakibat fatal.
“Spesies asing invasif telah menjadi faktor utama dalam 60% kepunahan, dan satu-satunya penyebab 16% kepunahan hewan dan tumbuhan global yang kami catat, dan setidaknya 218 spesies asing ini bertanggung jawab atas lebih dari 1.200 kepunahan lokal. Kenyataannya, 85% dampak invasi biologis terhadap spesies asli bersifat negatif,” kata Anibal Pauchard, salah satu pemimpin Laporan Penilaian.
Masyarakat yang mempunyai ketergantungan langsung terhadap alam, seperti Masyarakat Adat dan komunitas lokal, menghadapi risiko yang lebih besar. Laporan tersebut menemukan bahwa lebih dari 2.300 spesies asing yang invasif di lahan yang dikelola Masyarakat Adat, menjadi ancaman terhadap kualitas hidup dan bahkan identitas budaya mereka.

Beberapa contoh spesies asing invasif dan dampaknya adalah:
- Tiram Pasifik (Magallana gigas) yang mengacaukan ekosistem dengan mengubah habitatnya, sehingga mempengaruhi spesies asli.
- Kerang palsu Karibia (Mytilopsis sallei) yang merusak pasokan makanan untuk sumber daya perikanan lokal yang penting di India.
- Beberapa spesies nyamuk seperti Aedes albopictus dan Aedes aegyptii yang menyebarkan penyakit malaria, Zika, dan West Nile Fever.
- Eceng gondok (Pontederia crassipes), spesies yang paling tersebar luas di dunia, menyebabkan berkurangnya jumlah ikan nila di Danau Victoria, sehingga merusak penghidupan masyarakat lokal.
Selain berdampak buruk terhadap alam dan manusia, spesies asing invasif juga menimbulkan dampak ekonomi global yang sangat besar. Pada tahun 2019, jumlahnya melebihi $423 miliar. Laporan tersebut memperingatkan bahwa keadaannya mungkin akan menjadi lebih buruk.
“Perekonomian global yang bergerak cepat, alih fungsi lahan dan laut yang semakin intensif dan meluas, serta perubahan demografi kemungkinan besar akan menyebabkan peningkatan spesies asing invasif di seluruh dunia. Bahkan tanpa masuknya spesies asing baru, spesies asing yang sudah ada akan terus memperluas wilayah jelajahnya dan menyebar ke negara dan wilayah baru. Perubahan iklim akan memperburuk situasi,” Helen Roy, salah satu pemimpin Laporan Penilaian memperingatkan.
Perlu Pengendalian
Pemerintahan nasional di seluruh dunia perlu meningkatkan aksi terhadap ancaman spesies asing invasif. Laporan tersebut menemukan bahwa meskipun 80% negara memiliki target terkait pengelolaan spesies asing invasif, hanya 17% yang memiliki undang-undang atau peraturan yang secara khusus menangani masalah ini.
“Kabar baiknya adalah, untuk hampir setiap konteks dan situasi, terdapat alat manajemen, opsi tata kelola, dan tindakan tertarget yang benar-benar berhasil,” kata Pauchard. “Pencegahan jelas merupakan pilihan terbaik dan paling hemat biaya – namun pemberantasan, pembendungan, dan pengendalian juga efektif dalam konteks tertentu. Restorasi ekosistem juga dapat meningkatkan hasil tindakan pengelolaan dan meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap spesies asing yang invasif di masa depan.”
Laporan ini mengeksplorasi pilihan-pilihan utama untuk mengelola spesies asing yang invasif. Salah satunya adalah sistem tata kelola terintegrasi yang terangkum sebagai berikut:

Semua upaya untuk mengatasi meningkatnya ancaman spesies asing invasif memerlukan kolaborasi yang kuat, adil, dan inklusif. Para ilmuwan, pakar, pembuat kebijakan, dunia usaha, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat lintas batas harus saling melibatkan satu sama lain untuk membuat dan melaksanakan rencana aksi yang diperlukan untuk mengendalikan spesies asing yang invasif secara global.
Baca laporannya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan