Intervensi Perubahan Perilaku Konsumen untuk Kurangi Sampah Makanan
Foto: Freepik.
Sistem pangan merupakan hal yang kompleks dan penuh dengan kontradiksi. Produksi makanan menyebabkan kerusakan lingkungan. Namun, lebih dari 800 juta orang menghadapi kelaparan, dan sekitar 931 juta ton makanan mungkin terbuang sia-sia. Intervensi diperlukan untuk membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan, termasuk mengubah perilaku konsumen untuk mengurangi sampah makanan.
Sampah Makanan dan Perubahan Perilaku
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan cetak biru untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi manusia dan planet Bumi. Dari 17 Tujuan (Goals), Tujuan 12 target 3 berfokus pada kehilangan dan pemborosan makanan. Singkatnya, mengurangi kehilangan dan pemborosan makanan akan memangkas biaya, meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, menurunkan tekanan pada sumber daya alam, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Menurut Laporan Indeks Sampah Makanan UNEP, 61% sampah makanan pada tahun 2019 berasal dari rumah tangga. Artinya, untuk mengatasi masalah ini, harus ada perubahan di tingkat konsumen. Namun, bukan berarti hal itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab konsumen secara individu. Semua aktor dalam sistem pangan memiliki peran dan mesti berkolaborasi untuk menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan dan berarti.

Ilmu Perilaku merupakan studi berbasis bukti tentang bagaimana orang membuat keputusan dan mengapa mereka menerapkan perilaku tertentu. Menggabungkan disiplin ilmu perilaku dengan pemahaman sistem pangan dan perilaku makanan dapat menjadi kunci untuk menentukan di mana dan bagaimana membuat dampak terbesar.
Kesadaran akan Sampah Makanan versus Intervensi
Champions 12.3 merilis panduan untuk membantu aktor kunci dalam sistem pangan mengetahui bagaimana mereka dapat membantu konsumen mengurangi sampah makanan melalui perubahan perilaku. Pembuat kebijakan, bisnis makanan, bisnis non-makanan, organisasi nirlaba, pendidik, dan influencer lainnya dapat berpartisipasi dalam berbagai tahap: mengembangkan kebijakan, meningkatkan kesadaran, intervensi, kolaborasi, dan penelitian & evaluasi. Panduan ini merupakan hasil lokakarya yang diselenggarakan oleh World Resources Institute (WRI) dengan para ahli sampah makanan dan perubahan perilaku global.
Lalu, apa perbedaan “intervensi” dengan “meningkatkan kesadaran”? Intervensi berfokus pada mendorong dan mengarahkan konsumen secara aktif untuk mengambil tindakan yang mengubah perilaku mereka. Menurut panduan tersebut, menggabungkan ilmu perilaku dan prinsip-prinsip EAST (Easy, Attractive, Social and Timely/Mudah, Menarik, Sosial dan Tepat Waktu) akan menciptakan intervensi yang efektif.

Intervensi Sampah Makanan
Ada banyak jenis dan contoh intervensi sampah makanan. Di bawah ini adalah beberapa di antaranya:
- Restrukturisasi Lingkungan (Fisik & Sosial)
Keputusan sering dibuat secara tidak sadar dengan bantuan konteks. Mengubah konteks fisik seputar makanan termasuk menghapus beberapa pilihan dan menjadikan perilaku yang disukai sebagai pilihan termudah atau bawan. Secara sosial, hal ini melibatkan normalisasi perilaku dengan memberitahukan bahwa semua orang melakukannya.
Contoh: menjual produk segar dalam bentuk terbuka (tidak dikemas sebelumnya); tidak lagi menggunakan nampan di kafetaria universitas; menyediakan piring yang lebih kecil; membuat wadah penyimpanan makanan transparan sehingga sisa makanan terlihat.
- Insentif & Dorongan
Ini tentang membuat keputusan makanan berkelanjutan menarik dan diinginkan. Strategi ini termasuk memberikan hadiah, menghilangkan hasil yang dianggap berisiko & tidak menyenangkan, dan menawarkan solusi sederhana. Membuat manfaat & konsekuensi terlihat dan dirasakan juga penting. Penting juga untuk diingat bahwa setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda: menyelamatkan planet, harga, waktu, citra, dan sebagainya.
Contoh: menyimpan buku harian sampah makanan digital atau manual; menggunakan tempat sampah pintar untuk menimbang dan menganalisis sampah makanan; menghapus label ‘baik dikonsumsi sebelum’ (best before …) dan ‘digunakan oleh’ untuk beberapa makanan; mengenakan biaya tambahan untuk makanan yang tidak termakan di restoran.
- Pelatihan
Kebanyakan orang ingin berubah. Memberikan keterampilan untuk memungkinkan perubahan itu akan mendorong perilaku pengelolaan makanan yang positif dan mendorong orang untuk lebih terlibat dalam menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Contoh: membuat konten tentang resep, keterampilan memasak, dan teknik menggunakan sisa makanan dan bahan yang tersedia; memanfaatkan jangkauan perusahaan multinasional melalui komunikasi merek dan kampanye.
- Pemberdayaan (Kemampuan & Peluang)
Manusia umumnya memiliki kebiasaan. Menghentikan kebiasaan makan yang buruk dan menciptakan yang baru memerlukan kemudahan agar orang-orang tertarik. Strategi ini meliputi kemampuan seseorang (alat, informasi) dan kesempatan (waktu, uang) untuk melakukannya.
Contoh: menyediakan ukuran porsi; aplikasi seluler yang menghubungkan konsumen dengan surplus makanan dari restoran dan toko; meningkatkan kualitas hidup dengan menaikkan upah; organisasi berbasis karyawan besar bekerja dengan karyawan mereka untuk memulai kebiasaan makanan baru di tempat kerja.
- Panutan
Orang lebih cenderung responsif ketika pesan disampaikan oleh seseorang yang mereka percayai, kagumi, atau orang yang seperti mereka. Tokoh publik, selebritas, dan influencer yang menunjukkan perilaku pengelolaan makanan yang baik dapat membantu memengaruhi orang-orang untuk melakukan hal serupa. Selain itu, menciptakan norma sosial baru yang menunjukkan bahwa setiap orang melakukan sesuatu juga bisa menjadi pendorong yang efisien.
Contoh: membuat kampanye dan gerakan media sosial sederhana; memanfaatkan duta selebritas; berkolaborasi dengan tokoh masyarakat yang dihormati, sesepuh, dan pemuda untuk perubahan lokal.
—
Baca panduan lengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan