Laporan SEA Green Economy 2023 Ungkap Kurangnya Tindakan Dekarbonisasi di Asia Tenggara
Mersing, Malaysia. | Foto: Kishor di Unsplash
“Dekarbonisasi”, “net-zero”, dan “transisi energi” merupakan istilah-istilah yang banyak disebutkan dalam beberapa tahun terakhir. Desakan untuk menurunkan emisi dan membatasi pemanasan global berlangsung di berbagai belahan dunia, termasuk di Asia Tenggara (SEA). Namun, target tak selalu berjalan lurus dengan tindakan. Laporan SEA Green Economy 2023 menunjukkan bagaimana realitas upaya dekarbonisasi di Asia Tenggara.
Laporan SEA Green Economy 2023 disusun oleh Bain & Company, Temasek, GenZero, dan Amazon Web Services. Laporan ini memberikan wawasan dan rekomendasi berdasarkan data dari hasil wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan, dokumen dari pemerintah dan bisnis, serta kesepakatan berbasis Asia Tenggara.
Realitas dan Tantangan
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa meskipun pemerintah negara-negara di Asia Tenggara telah menetapkan target iklim dan dekarbonisasi, tindakan yang dilakukan belum cukup. Delapan dari sepuluh negara di kawasan ini telah menetapkan target netralitas karbon. Namun, laporan tersebut memperkirakan peningkatan konsumsi energi sebesar 42% dari tahun 2020 hingga 2030 berdasarkan kebijakan saat ini.
Saat ini, Asia Tenggara merupakan konsumen energi terbesar keempat di dunia. Laporan tersebut menyebut bahwa Asia Tenggara unik, dengan populasi muda dan kelas menengah mendorong permintaan energi. Selain itu, Asia Tenggara juga masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk sumber energi (80%).
Dekarbonisasi di Asia Tenggara membutuhkan pertumbuhan energi terbarukan yang signifikan. Namun, laporan tersebut menemukan beberapa tantangan di sektor ini, seperti lambatnya persetujuan dan peluncuran infrastruktur, kurangnya daya tarik finansial, dan ketidakpastian regulasi.
Tantangan-tantangan ini menyebabkan penurunan investasi hijau sebesar 7% pada tahun 2022. Sementara sebagian besar dari USD 5,2 miliar berasal dari investor asing (lebih dari setengahnya berasal dari Indonesia dan Singapura), investasi intraregional meningkat dua kali lipat. Sementara itu, pada tahun 2022 terdapat empat kali lipat jumlah bisnis di Asia Tenggara (109) yang menandatangani komitmen Inisiatif Target Berbasis Sains.
Mencapai Dekarbonisasi di Asia Tenggara
Laporan tersebut menawarkan rekomendasi tindakan agar negara-negara Asia Tenggara dapat memenuhi target dan komitmennya. Dale Hardcastle dari Bain & Company mengatakan, “Pemerintah Asia Tenggara perlu berfokus terlebih dahulu pada solusi yang telah terbukti untuk menyeimbangkan permintaan energi yang meningkat sekaligus mengurangi emisi karbon.”
“Regulasi dan investasi harus difokuskan pada penyebaran teknologi yang terbukti dan menguntungkan yang ada di sini saat ini dan dapat berdampak sembari kita menetapkan jalur untuk menghadapi industri yang sulit mereda dengan teknologi dan inovasi baru dalam jangka panjang,” tambahnya .
Pada akhirnya, meningkatkan kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan serta rencana holistik di tingkat industri dan nasional merupakan kunci dekarbonisasi di Asia Tenggara. Laporan tersebut menyarankan beberapa solusi jangka pendek untuk dampak maksimum:
- Letakkan fondasi dengan peningkatan jaringan, efisiensi energi, dan langkah-langkah konservasi.
- Inovasi pembiayaan percontohan, seperti insentif baru untuk pengembangan proyek solusi berbasis alam, mekanisme penghentian penggunaan batu bara, dan pembiayaan campuran.
- Menegakkan kebijakan konservasi alam yang telah berjalan dan mempromosikan pasar karbon.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan