Mengatasi Krisis dengan Solidaritas, Keberlanjutan, dan Sains pada Sidang Umum PBB ke-77
Presiden Majelis Umum PBB ke-77 Csaba Kőrösi. | Foto oleh Twitter Resmi Presiden UNGA.
Tahun ini menandai sesi ke-77 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada pekan diplomatik tersibuk di markas besar PBB itu, Presiden Majelis Umum PBB yang baru terpilih, Csaba Kőrösi dari Hungaria, mengemukakan “Solusi melalui Solidaritas, Keberlanjutan, dan Sains” sebagai panduan bagi majelis untuk bergerak maju.
Krisis Global & Kurangnya Kepercayaan
Majelis Umum PBB (UNGA) adalah pertemuan tingkat tinggi tahunan di mana negara-negara anggota PBB berkumpul untuk membahas berbagai masalah internasional dalam forum multilateral. UNGA tahun ini dibuka pada 13 September dan menghadirkan serangkaian acara seperti Debat Umum, Konferensi Transformasi Pendidikan, Momen SDG PBB, dan berbagai diskusi tentang dunia saat ini.
Dunia telah menghadapi banyak krisis dalam beberapa tahun terakhir, beberapa di antaranya belum pernah terjadi sebelumnya. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres membuka konferensi pers dengan membahas banjir di Pakistan yang “tiga kali lipat luas seluruh negara saya, Portugal.” Perang Rusia-Ukraina, kelaparan global, krisis biaya hidup, dan kemunduran perkembangan hak-hak perempuan disebut-sebut sebagai masalah mendesak yang membutuhkan tanggapan segera dari para pemimpin dunia.
Guterres lebih lanjut menyoroti kurangnya solidaritas antarnegara. “Saat retakan semakin dalam dan kepercayaan menguap, kita perlu bersama-sama mencari solusi,” ia menambahkan. Misi membangun kepercayaan digaungkan oleh Presiden Majelis Umum yang baru terpilih Csaba Kőrösi dengan moto “Solusi melalui Solidaritas, Keberlanjutan, dan Sains.”
Sains & Solusi
Sebagai badan perwakilan PBB, kepercayaan harus dibangun dengan kuat di dalam dan di luar Majelis Umum. Solidaritas, keberlanjutan, dan sains dianggap sebagai aspek penting oleh Presiden Kőrösi dalam membangun kepercayaan dan menemukan solusi untuk memitigasi krisis dunia.
Peran sains ditekankan untuk memberikan bukti kuat bagi proses pengambilan keputusan negara-negara anggota. “Kita ingin membangun dan melakukan konsultasi rutin dengan institusi berbasis sains, dengan lembaga berbasis agama, dengan komunitas bisnis, dan dengan lembaga keuangan untuk memberi nasihat kepada kita tentang bagaimana mereka menghadapi pertanyaan yang sangat rumit yang muncul dalam agenda negara-negara anggota. Dan bukan hanya untuk mencapai mufakat, tetapi untuk memastikan bahwa saran mereka, nasihat mereka dapat dan harus sampai kepada Negara-negara Anggota,” kata Kőrösi.
Selain memusatkan peran ilmu pengetahuan, Presiden juga berencana untuk secara rutin mengadakan pertemuan informal antar duta besar untuk mendapatkan wawasan yang lebih baik tentang tantangan dunia saat ini, pendekatan ilmiah yang dapat diambil, dan kebutuhan masing-masing negara. Obrolan api unggun ini diharapkan dapat membantu membangun kepercayaan antar anggota.
Tantangan & Transformasi
PBB memiliki peran dan tanggung jawab yang luar biasa dalam menghadapi masalah-masalah dunia yang mendesak. Dengan visi baru yang ditetapkan, Sidang Majelis Umum ke-77 diharapkan dapat berkembang dalam mengatasi tantangan-tantangan yang berlangsung sejak sidang ke-76. Memperjuangkan perdamaian dunia, menekankan hak asasi manusia, dan memajukan pembangunan berkelanjutan memerlukan transformasi dan solusi yang sah yang hanya dapat dimungkinkan melalui dialog terbuka bersama pemangku kepentingan terkait.
“Menanggapi tantangan umat manusia yang paling mendesak menuntut kita untuk bekerja sama, dan menghidupkan kembali multilateralisme yang inklusif, berjejaring, dan efektif serta fokus pada apa yang menyatukan kita,” kata Kőrösi.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat