Perdagangan Spesies Liar Ancam Upaya Konservasi
Kadal monitor air Asia. | Foto: Erik Karits di Unsplash.
Setiap hari, manusia secara teratur mengkonsumsi makanan, obat-obatan, kosmetik, dan produk lainnya yang dibuat atau berasal dari spesies liar. Perdagangan spesies liar merupakan penopangnya. Namun, perdagangan spesies liar juga dapat memperparah krisis keanekaragaman hayati. Untuk mewujudkan perdagangan spesies liar yang berkelanjutan, kita perlu memahami lebih jauh bagaimana dampaknya terhadap upaya konservasi.
Laporan Perdagangan Spesies Liar Dunia
Pada November 2022, Sekretariat CITES menerbitkan Laporan Perdagangan Spesies Liar Dunia untuk pertama kalinya. Laporan ini menyuguhkan wawasan dan analisis perdagangan global menyangkut hampir 40.000 spesies hewan dan tumbuhan.
CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora atau Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah) bermitra dengan berbagai organisasi dan badan PBB dalam membuat laporan ini. Laporan ini memberi kita gambaran tentang perdagangan satwa dan tumbuhan liar, dampak konservasi, nilai finansial, dampak sosial-ekonomi, dan keterkaitan antara perdagangan legal dan ilegal.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 1,3 miliar organisme dan 279 juta kg produk diperdagangkan secara legal antara 2011-2020. Asia dan Eropa merupakan wilayah pengekspor dan pengimpor teratas di dunia. Sementara itu, Asia dan Afrika memiliki estimasi nilai ekspor global tertinggi.
Dampaknya terhadap Konservasi
Perdagangan satwa dan tumbuhan liar dapat menguntungkan bagi manusia dan spesies itu sendiri selama dilakukan secara legal, berkelanjutan, dan adil. Namun jika tidak diatur secara efektif, perdagangan spesies liar dapat menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Laporan tersebut menyatakan bahwa hasilnya bergantung pada faktor biologis, sosial-ekonomi, dan tata kelola.
Berdasarkan tinjauan literatur singkat dalam laporan tersebut, perdagangan spesies liar memberi dampak positif dan negatif terhadap konservasi. Perdagangan liar berdampak terhadap keberlangsungan spesies tersebut, spesies lain, dan habitatnya. Dampak positif meliputi:
- Peningkatan populasi: ini merupakan hal yang paling sering didokumentasikan dan dikaitkan dengan pemulihan dari penurunan karena penangkapan/pemanenan dan perdagangan yang tidak berkelanjutan atau ilegal.
- Stabilisasi populasi: menghentikan penurunan populasi (walaupun tidak meningkatkan).
- Pemeliharaan populasi: mempertahankan populasi meskipun ada perdagangan – umumnya dilaporkan untuk spesies reptil.
- Mengurangi tekanan pada populasi liar: mengurangi ancaman sebagai akibat dari perdagangan legal spesimen yang dibiakkan/diproduksi atau diperbanyak secara artifisial.
Secara keseluruhan, laporan ini mengidentifikasi tiga mekanisme utama yang memberikan hasil positif: perlindungan yang lebih baik, praktik pengelolaan yang lebih baik, dan pengurangan penangkapan dan pemanenan ilegal atau tidak diatur. Tanpa mekanisme ini, perdagangan spesies liar dapat mengakibatkan penurunan populasi di tingkat lokal atau bahkan lebih luas. Mengakali perdagangan legal untuk menutupi perdagangan ilegal, menjual hewan liar sebagai hewan peliharaan, serta penangkapan dan pemanenan berlebihan adalah contoh praktik berbahaya yang umum terjadi di sektor ini.
Perdagangan Spesies Liar Berkelanjutan
Pemanfaatan spesies liar secara berkelanjutan sangat penting dan memungkinkan. Hal ini membutuhkan peraturan yang ketat, pengembangan kebijakan, dan berbagi pengetahuan dari semua pemangku kepentingan, terutama masyarakat adat.
Sekretaris Jenderal CITES Ivonne Higuero mengatakan, “Menurut kami, penting untuk mendokumentasikan skala dan pola perdagangan lainnya sebagaimana halnya nilai perdagangan spesies hewan dan tumbuhan liar dan memperkuat seruan untuk memperbanyak investasi di alam dan mengatasi krisis keanekaragaman hayati”.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja