Ahli Ingatkan Bahaya Memprioritaskan Pasar Karbon di Atas Konservasi Ekosistem
Foto: Freepik.
Krisis iklim memaksa kita melakukan dekarbonisasi dengan cepat. Sebagian pelaku bisnis dan pemerintah telah berupaya mengimbangi emisi karbon mereka dengan menanam pohon untuk ‘menangkap’ karbon dan belakangan muncul pasar karbon. Di tengah meningkatnya tren pasar karbon, para ahli ekologi memperingatkan kita akan bahaya memprioritaskan penanaman pohon untuk kepentingan pasar karbon di atas keanekaragaman hayati dan konservasi ekosistem.
Menanam Pohon untuk Penangkapan Karbon
Secara umum, aktivitas manusia menghasilkan emisi gas rumah kaca yang membuat Bumi menjadi panas. Bisnis merupakan kontributor terbesar. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan global mulai memanfaatkan carbon-offset (penebusan karbon) untuk mencapai tujuan net-zero mereka. Shell, Google, dan Microsoft termasuk di antaranya. Di Asia, GoTo memiliki program GoGreener, dengan menanam pohon untuk mengimbangi emisi operasionalnya.
Secara teori, carbon-offset akan membantu mengurangi emisi, menjadikan planet ini lebih hijau, dan menghasilkan manfaat ekonomi yang besar. Namun, efektivitas carbon-offset masih diperdebatkan. Beberapa pihak mewaspadai greenwashing, karena banyak perusahaan yang berpartisipasi tanpa adanya rencana berarti untuk mengubah praktik bisnis mereka.
Jesús Aguirre-Gutiérrez, ahli ekologi di Universitas Oxford, melihat potensi bahaya dari praktik ini. Katanya, “Kami melakukan banyak penelitian lapangan di daerah tropis untuk meneliti apa yang terjadi dengan perubahan iklim, dan kami telah melihat sendiri peningkatan pesat dalam perkebunan ini: jati, tumbuhan runjung, dan kayu putih, hanya satu atau dua spesies.”
“Skema ini merupakan kemenangan bagi perusahaan yang menanam pohon-pohon itu, namun tidak bagi keanekaragaman hayati. Ini adalah fenomena awal, yang akan menjadi lebih serius ke depannya,” dia memperingatkan.
Pasar Karbon vs Pelestarian Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem?
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Trends in Ecology & Evolution, hutan utuh memberikan kemungkinan terbesar untuk memaksimalkan penangkapan karbon serta keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Hutan utuh adalah lanskap alami ekosistem hutan yang luas untuk mendukung dan memelihara seluruh keanekaragaman hayati asli. Di kawasan ini tidak terdapat aktivitas manusia atau fragmentasi habitat yang signifikan. Hutan alami juga memiliki struktur vertikal yang kompleks, termasuk tumbuhan bawah yang kaya nutrisi, yang dapat menyimpan banyak cadangan karbon.
Edited FI: CARBON-MARKET-S2.webp
Alt-text: potret bentang hutan dari atas
Caption: Plantation in East Kalimantan, Indonesia. | Foto: Barkah Wibowo di Unsplash.
Sementara itu, penelitian tersebut menyatakan bahwa banyak skema carbon offset memanfaatkan perkebunan monokultur biomassa kayu. Kawasan yang digunakan untuk pasar karbon seringkali memiliki keanekaragaman hayati yang lebih sedikit dibandingkan ekosistem hutan alami. Para ahli ekologi memperingatkan bahwa praktik seperti ini akan memusnahkan tumbuhan dan hewan asli, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Thomas Crowther, seorang profesor ekologi di ETH Zurich, berpendapat, “Secara historis, kita menghargai bagian-bagian [alam] yang kita gunakan untuk makanan, kayu, obat-obatan, dan lain-lain, namun sekarang kita melakukan hal yang sama dengan karbon. ”
Konservasi Ekosistem Mesti Jadi Prioritas
Dalam penelitian tersebut, para ahli ekologi menyimpulkan bahwa mempertahankan fungsi ekosistem asli harus diprioritaskan di atas proyek penangkapan karbon. Mereka menulis, “Kebijakan saat ini dan yang baru tidak boleh mendorong degradasi ekosistem melalui penanaman pohon dengan pandangan sempit mengenai penangkapan karbon. Secara keseluruhan, kami berpendapat bahwa, selain kebutuhan nyata untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil, kita harus mengalihkan fokus ke konservasi dan pemulihan ekosistem.”
Pasar karbon masih seumuran jagung. Sebagian besar operasinya juga masih belum diatur. Untuk itu, perlu ada peraturan yang tegas dari pemerintah untuk memastikan semua proyek penangkapan karbon juga memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati asli, fungsi ekosistem, dan masyarakat lokal. Selain itu, bisnis dan organisasi kredit karbon harus menilai secara tepat dampak holistik dari praktik mereka sebelum dan sesudahnya.
Dekarbonisasi merupakan kebutuhan yang mendesak. Manfaat kuantitatif dari pasar karbon mungkin lebih baik dibandingkan manfaat kualitatif dan jangka panjang dari konservasi ekosistem. Namun kedua kategori tersebut penting, dan jalan menuju keberlanjutan memerlukan pertimbangan dari dan terhadap semua aspek kehidupan – energi, alam, kemanusiaan, kemakmuran, dan semua hal lainnya.
Editor: Lalita Fitrianti
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest