Kebangkitan Ekonomi Filipina yang Lebih Tangguh Pascapandemi COVID-19
Foto oleh Karolina Grabowska di Pexels.
Pandemi COVID-19 menimbulkan banyak krisis, salah satunya krisis ekonomi. Beberapa negara berjuang untuk bangkit kembali setelah hampir tiga tahun menghadapi pembatasan kegiatan. Baru-baru ini, Bank Dunia menyetujui pendanaan untuk mendukung ketahanan sektor keuangan dan memperkuat pemulihan di Filipina.
Jungkir balik ekonomi Filipina
Pandemi COVID-19 memukul keras kita semua. Filipina jatuh ke dalam jurang resesi pada tahun 2020 akibat pandemi, dengan penurunan PDB sebesar 9,6% per tahun. Hal ini sangat kontras dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat di tahun-tahun sebelumnya.
Ronald U. Mendoza, seorang profesor di Universitas Ateneo de Manila, mengemukakan dua alasan di balik kejatuhan ekonomi negara tersebut. Pertama, model ekonomi Filipina, yang dibangun berdasarkan mobilitas masyarakat, tampak lebih rentan terhadap wabah penyakit. Kedua, pemerintah Filipina berjuang untuk mengatasi wabah dan memperkuat sistem kesehatannya dengan lockdown yang berkepanjangan.
Untungnya, tahun 2022 adalah tahun pemulihan bagi Filipina. Laporan Bank Dunia yang dirilis pada Desember 2022 menyebutkan bahwa ekonomi Filipina diproyeksikan tumbuh sebesar 7,2% pada tahun 2022 sebelum stabil menjadi rata-rata pertumbuhan 5,7% pada tahun 2023. Selanjutnya, Bank Dunia baru-baru ini menyetujui pendanaan untuk pemulihan pembiayaan kebijakan Filipina untuk mendukung lebih jauh ketahanan dan keberlanjutan ekonomi negara tersebut.
Ketahanan ekonomi Filipina
Ekonomi yang tangguh merupakan fondasi yang kuat untuk kehidupan yang lebih baik. Di tengah pemanasan Bumi dan masa depan yang semakin tidak dapat diprediksi, instrumen keuangan yang inklusif untuk ketahanan terhadap bencana menjadi semakin penting. Saat ini, hanya 51% warga berusia 15 tahun ke atas yang memiliki akun transaksi di Filipina. Pada 40% populasi terbawah, hanya 34% orang dewasa yang memiliki akun.
Di bawah program Pembiayaan Kebijakan Pembangunan Reformasi Sektor Keuangan Kedua Filipina, dana US$600 juta akan mendukung tiga bidang reformasi kebijakan:
- Stabilitas, integritas, dan ketahanan sektor keuangan
- Inklusi keuangan bagi individu dan perusahaan, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)
- Pendanaan risiko iklim dan bencana untuk membantu melindungi keluarga Filipina dari dampak perubahan iklim dan bencana alam.
Beberapa hal penting dari program ini meliputi integrasi risiko iklim dan lingkungan dalam kerangka manajemen risiko lembaga keuangan dan mendorong investasi hijau dari sektor swasta. Program ini juga bertujuan untuk mempromosikan layanan keuangan yang inovatif dengan memanfaatkan teknologi digital.
“Tindakan kebijakan yang memperkuat stabilitas sektor keuangan – termasuk bank dan perusahaan asuransi – akan membantu keluarga, bisnis, dan investor Filipina bertahan dari gejolak keuangan dan meningkatkan ketahanan mereka dengan memastikan bahwa masalah di lembaga keuangan ini terdeteksi pada tahap awal tanpa gangguan ekonomi yang parah,” kata Ndiamé Diop, Direktur Perwakilan Bank Dunia untuk Brunei, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut