Kelanjutan Transisi Energi Bersih di Hawaii setelah Batubara Ditinggalkan
Nā Pua Magani, kincir angin di Kahuku, Hawaii. | Foto oleh AES.
Ketika bumi terus memanas, perubahan adalah perihal kelangsungan dan perkembangan hidup. Dunia sedang mengalami transformasi, termasuk sektor energi di Hawaii. Pada September 2022, Hawaii bebas dari pembangkit listrik tenaga batubara.
Transisi Energi Hawaii
Transisi energi Hawaii bermula pada tahun 2008 dengan peluncuran Hawaii Clean Energy Initiative (HCEI). HCEI memperbarui komitmennya terkait energi bersih pada tahun 2014 dengan menetapkan tujuan ambisius untuk menggunakan 100% energi terbarukan pada tahun 2045. Kemudian, pada tahun 2020, Legislatif Hawaii meloloskan undang-undang yang melarang penggunaan batubara untuk produksi energi pada awal tahun 2023.
Tahun ini, negara bagian kepulauan itu mengambil langkah besar dalam transisi energi bersih. Hawaii menerima pengiriman batubara terakhirnya dari Indonesia pada bulan Juli dan akhirnya menutup pembangkit listrik tenaga batubara terakhirnya di Oahu, AES, pada 1 September.
Kabar Baik, Kabar Buruk
Data dari tahun 2020 mengungkapkan bahwa batubara hanya menghasilkan 20% listrik di AS tetapi merupakan sumber 54% emisi karbon dari sektor energi. Menghapus pembangkit listrik tenaga batubara Hawaii berarti menghilangkan 1,5 juta metrik ton gas rumah kaca setiap tahun. Namun karena masalah perizinan, kontrak, dan rantai pasok, sektor energi terbarukan belum siap menggantikan semuanya.
Akibatnya, Hawaii beralih menggunakan minyak lebih banyak. Minyak memang merupakan sumber energi utama Hawaii, menghasilkan hampir dua pertiga dari listrik negara bagian itu pada tahun 2021, menurut Administrasi Informasi Energi AS. Hanya sekitar 19% yang berasal dari sumber terbarukan.
Celah dalam persiapan ini mengakibatkan penduduk Hawaii, terutama di Oahu, akan membayar tagihan listrik yang lebih tinggi mulai Oktober. Kenaikan diprediksi 4%. “Apa yang kami lakukan … adalah transisi dari bahan bakar fosil termurah ke bahan bakar fosil paling mahal,” kata Senator Glenn Wakai.
Tegas dan Kompleks
Tak goyah, Hawaii tetap akan melanjutkan proyek energi terbarukan. Pembangkit listrik tenaga surya dan penyimpanan skala utilitas pertama Oahu mulai online pada bulan Agustus. Kemudian, 19 proyek lagi akan menyusul untuk menambah lebih dari 400 MW kapasitas surya di seluruh pulau Hawaii dalam dua tahun ke depan.
AES, pembangkit listrik tenaga batubara terakhir di Hawaii, juga menggarap ladang tenaga surya di seluruh negara bagian dengan kapasitas pembangkit tenaga surya dan angin lebih dari 300MW yang sedang beroperasi atau sedang dikembangkan. Leonardo Moreno, Presiden Divisi Energi Bersih AES, mengatakan energi terbarukan semakin murah. Dia menambahkan, “Saya membayangkan masa depan di mana energi sangat, sangat murah, berlimpah, dan terbarukan.”
Pada COP26, 23 negara membuat komitmen baru untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga batubara dan mendukung transisi energi bersih. Yang pasti, ini adalah proses yang kompleks. Namun, Hawaii bertekad untuk mengambil langkah tegas dalam transisi ke energi bersih karena pulau-pulau dan masyarakatnya telah merasakan dampak perubahan iklim.
“Jika tidak demikian, kita akan tenggelam,” kata Scott Glenn, Chief Energy Officer Hawaii.
Penerjemah & Editor: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan