Memperkuat Ketahanan untuk Pengurangan Risiko Bencana di Tengah Berbagai Krisis
Foto: Greg Johnson di Unsplash.
Bumi bergerak dinamis dan berubah bentuk secara konstan. Bencana alam seperti erosi hingga gempa bumi dan tsunami, dapat terjadi tiba-tiba. Risiko dan bahaya bencana alam semakin diperparah oleh berbagai krisis dunia saat ini, seperti perubahan iklim, peperangan dan konflik, dan krisis ekonomi. Dalam hal ini, ketahanan untuk pengurangan risiko bencana menjadi sangat penting.
Laporan Penilaian Global PBB tentang Pengurangan Risiko Bencana (GAR 2023) memaparkan cara menilai kemajuan pembangunan berkelanjutan melalui risiko dan ketahanan dalam perubahan iklim. Kantor Pengurangan Risiko Bencana Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDRR) menghasilkan laporan ini melalui kerja sama dengan para ahli dari sejumlah Badan PBB.
Mengapa Ketahanan Penting
Bencana berdampak pada manusia dalam berbagai bentuk. Bencana yang terjadi secara tiba-tiba sering kali membuat masyarakat tidak berdaya dan kewalahan saat berusaha mencari bantuan dan tempat yang aman. Untungnya, pengurangan dan manajemen risiko bencana telah berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan. Namun, ketimpangan ketahanan masih terjadi di banyak aspek pembangunan berkelanjutan.
Laporan GAR 2023 mengurai kondisi ketahanan dalam tiga aspek keberlanjutan: manusia (ketahanan sosial), planet (ketahanan lingkungan), dan kemakmuran (ketahanan ekonomi). Meskipun setiap elemen memiliki definisi ketahanan masing-masing, semuanya berakar pada kemampuan untuk “menahan risiko, dan pulih dari bencana, dengan cara yang transformatif dan melangkah ke depan.”
Ketahanan menjadi penting karena dapat memungkinkan cara-cara yang lebih kuat, efektif, dan berkelanjutan dalam merespons krisis dan bencana, terutama dalam polikrisis yang terjadi saat ini. Tanpa struktur yang berketahanan, negara-negara di dunia mungkin akan melakukan respons reaktif dengan sedikit atau bahkan tidak ada waktu sama sekali untuk melakukan adaptasi, yang selanjutnya dapat memperburuk kerentanan.
Ketahanan untuk Pengurangan Risiko Bencana
Intinya, laporan tersebut memaparkan bahwa peningkatan risiko dan kerentanan terhadap bencana dapat menghambat kemajuan SDG di seluruh tujuan. Mengingat aspek-aspek keberlanjutan saling berhubungan dan berkaitan, defisit ketahanan pada satu aspek dapat berdampak pada aspek lainnya.
Akses terhadap sistem peringatan dini adalah salah satu kesenjangan yang diidentifikasi dalam laporan ini. Laporan tersebut menyebutkan bahwa jumlah bencana yang tercatat telah meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir, sebagian disebabkan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Meskipun sebagian besar negara dengan tingkat paparan bahaya terbesar telah memiliki sistem peringatan dini, 62 juta orang yang terkena dampak langsung bencana dalam dua dekade terakhir masih tinggal di negara-negara yang tidak memiliki sistem peringatan dini yang memadai.
Hal lain yang disoroti dalam laporan tersebut adalah bahaya dan kerugian akibat tekanan panas. Ketika dunia semakin panas, menciptakan jaring pengaman bagi pekerja selama gelombang panas sangatlah penting untuk menjamin kesejahteraan pekerja dan mencegah kemiskinan. Hal ini terutama berlaku bagi pekerja informal dan pekerja luar ruangan.
Aspek-aspek di atas merupakan dua dari sepuluh defisit ketahanan yang diidentifikasi dalam laporan tersebut. Sepuluh kesenjangan tersebut dikelompokkan berdasarkan tiga aspek keberlanjutan yang dinilai dalam laporan:
- Manusia: akses terhadap sistem peringatan dini bencana, peningkatan risiko kekeringan dan kerawanan pangan, pengungsian paksa, dan hasil pendidikan yang negatif
- Planet: peningkatan tekanan air dan pertumbuhan populasi, peningkatan degradasi lahan dan hilangnya keanekaragaman hayati, peningkatan tekanan panas dan konsumsi energi, serta peningkatan polusi udara dan kematian
- Kemakmuran: peningkatan risiko banjir dan urbanisasi, peningkatan suhu panas dan kemiskinan, serta risiko perubahan iklim terhadap infrastruktur pesisir.
Yang Mesti Dilakukan
Pengurangan risiko bencana merupakan bagian integral dari pembangunan dan aksi kemanusiaan. Ketika risiko dan bahaya semakin tinggi akibat berbagai krisis, memperkuat ketahanan dalam pembangunan berkelanjutan menjadi kunci untuk menciptakan kemajuan yang adil dimana tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Laporan GAR 2023 menyerukan investasi dan adaptasi yang lebih terfokus dan ditingkatkan untuk ketahanan dari sektor publik dan swasta, terutama di negara-negara yang paling rentan. Laporan tersebut memaparkan empat elemen kunci untuk meningkatkan ketahanan dalam pembangunan berkelanjutan:
- Memahami konteks tentang siapa yang membutuhkan ketahanan dan dari apa sebelum mengembangkan strategi pengurangan dan pengelolaan risiko bencana.
- Menyadari bahwa sistem saling berhubungan dalam memutuskan strategi apa yang diperlukan dan di mana memprioritaskan investasi.
- Melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat dan memobilisasi tindakan kolektif demi ketahanan.
- Membangun keterampilan dan kapasitas untuk ketahanan dengan memfasilitasi pembelajaran dan eksperimen, membangun keragaman dan redundansi, dan memastikan semua aktor bekerja secara kolaboratif untuk mengatasi serangkaian tantangan yang umum.
“Perubahan diperlukan untuk membalikkan sistem yang menimbulkan risiko dan membangun ketahanan sebagai landasan pembangunan berkelanjutan. Dan untuk memandu perubahan ini, negara-negara di dunia dan mitra pembangunan perlu melihat lebih dari satu indikator SDG dan mempertimbangkan dampak keseluruhan terhadap manusia, planet bumi, dan kesejahteraan,” kata Mami Mizutori, Kepala Kantor Pengurangan Risiko Bencana PBB.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan