Mengulik Masalah Susut dan Sisa Pangan di Asia Tenggara
Foto: Freepik.
Makanan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Selain untuk bertahan hidup, makanan juga telah menjadi budaya di seluruh dunia, dan menjadi sumber kebahagiaan. Namun, tanpa kita sangka, urusan makanan ternyata cukup rumit. Sebagian besar produksi dan konsumsi makanan secara global telah menimbulkan berbagai masalah, seperti kehilangan makanan dan sampah makanan. Untuk itu, ada beberapa hal khusus yang perlu diperhatikan dalam upaya memahami dan mengatasi masalah kehilangan dan sampah makanan (food loss and waste) di Asia Tenggara.
Tanpa pengelolaan sampah yang baik, sebagian besar makanan yang terbuang akan berakhir di tempat pembuangan sampah dan membusuk di sana. Metana yang dilepaskan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca empat kali lebih banyak dibandingkan penerbangan tahunan. Selain itu, food loss and waste juga berarti sia-sianya sumber daya yang dikerahkan untuk memproduksi makanan—terutama melalui pertanian. Kerugian ekonomi juga cukup besar akibat food loss and waste.
Melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 12 Target 3, komunitas dunia telah berkomitmen untuk mengurangi separuh sampah makanan dan mengurangi kehilangan makanan di seluruh rantai pasok.
Food Loss and Waste di Asia Tenggara
Menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP), 931 juta metrik ton makanan diperkirakan terbuang setiap tahunnya. Jumlah tersebut mestinya cukup untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan di dunia sebanyak dua kali lipat.
Dalam skala global, sekitar 61% sampah makanan itu berasal dari rumah tangga. Hal tersebut juga terjadi di Asia Tenggara, dengan rata-rata setiap orang membuang 82 kg makanan di tingkat rumah tangga dalam satu tahun. Namun, terdapat perbedaan mencolok dalam sistem pangan mengenai food loss and waste di Asia Tenggara.
Sampah makanan (food waste) adalah makanan yang terbuang di tingkat ritel dan konsumen. Hal ini mencakup sisa makanan yang dibuang, bahan-bahan kedaluwarsa di dapur dan lemari es orang-orang, kue-kue yang tidak terjual dari toko roti, produk-produk yang tidak terjual dari toko kelontong, dan banyak lagi lainnya.
Sedangkan kehilangan makanan (food loss) terjadi lebih awal dalam rantai sebelum mencapai pasar atau konsumen. Food loss mencakup kerugian pascapanen, termasuk saat tahap pengolahan, penyimpanan, dan pengiriman.
Sampah makanan (food waste) lebih banyak terjadi di negara maju atau wilayah berpendapatan tinggi, termasuk Asia Tenggara. Namun kehilangan pangan (food loss) masih menjadi masalah serius di daerah pedesaan. Pada tahun 2021, 13,2% makanan di dunia hilang di antara proses panen dan pengiriman ke pengecer/konsumen. Di Asia, lebih dari 40% kehilangan dan sampah makanan terjadi pada tahap pascapanen.
Misalnya, diperkirakan 19% biji-bijian serealia hilang di Thailand, dengan kehilangan terbesar terjadi selama tahap penanganan dan penyimpanan. Di Filipina, proses pengeringan beras mengakibatkan kerugian sekitar 33%.
Tantangan
Sistem pascapanen terutama ada di tingkat produsen atau produsen pangan. Oleh karena itu, hilangnya pangan di Asia Tenggara berkaitan erat dengan sektor pertanian, tempat sebagian besar makanan berasal. Berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan hilangnya makanan di Asia Tenggara:
- Perubahan iklim – Pertanian bergantung pada kondisi lingkungan kecuali dilakukan di dalam ruangan dengan iklim terkendali dan menggunakan teknologi canggih. Dengan meningkatnya suhu global, musim yang tidak dapat diprediksi, dan cuaca ekstrem, perubahan iklim mengganggu stabilitas produksi pangan.
- Keuangan – Sebagian besar produksi pangan di Asia Tenggara dimiliki oleh petani skala kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan. Meskipun agroteknologi dapat mengurangi banyak risiko pascapanen, masih banyak petani skala kecil yang tidak mampu menanggungnya.
- Standar pasar – Pengecer dan konsumen berpenghasilan menengah ke atas sering kali menghindari produk yang ‘jelek’. Permintaan standar ini menyebabkan para petani dan produsen lain membuang produk mereka yang tidak sempurna namun sebetulnya masih layak dimakan.
Menuju Sistem Pangan yang Lebih Berkelanjutan
Mengatasi masalah food loss and waste di Asia Tenggara memerlukan partisipasi seluruh pemangku kepentingan di seluruh sistem pangan. Karena porsi terbesar berasal dari tingkat rumah tangga, konsumen individu mesti mengubah perilaku terhadap makanan. Tentunya, diperlukan intervensi dari pemangku kepentingan lainnya untuk membantu menciptakan perubahan perilaku tersebut.
Survei yang dilakukan BlackBox, sebuah firma riset asal Singapura, mengungkapkan bahwa kebanyakan orang bersedia mengubah kebiasaan makan mereka ke arah yang lebih baik. Namun, hanya 6% hingga 13% yang sudah menerapkan konsumerisme pangan yang berkelanjutan.

Menurut analisis McKinsey, “Mengurangi [kehilangan hasil panen pascapanen] di Asia Tenggara sebesar 40% setara dengan memperoleh hasil pangan dari 1,8 juta hektare lahan.” Berfokus pada produsen pangan, terutama petani, dapat menjadi kunci untuk mengurangi kehilangan makanan secara signifikan.
Mengembangkan kebijakan dan program yang dapat meningkatkan kapasitas produsen pangan dan mendidik mereka mengenai praktik terbaik pertanian yang mencakup pengetahuan adat serta inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi terkini juga dapat langkah yang bagus. Penting juga untuk menciptakan sistem pembiayaan yang adil dan inklusif untuk membantu petani kecil mendapatkan apa yang mereka butuhkan agar lebih efisien dan berkelanjutan.
Selain itu, Laporan Pembangunan Berkelanjutan Global tahun 2023 menyarankan perlunya “beralih ke sistem pertanian regeneratif, ekologis, dan multifungsi yang melindungi kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati.” Laporan tersebut juga merekomendasikan pentingnya “meningkatkan praktik agroekologi, meningkatkan kualitas koneksi ke pasar konsumen, memperkuat pengolahan pertanian pangan oleh pengusaha lokal, membangun tata kelola yang lebih terbuka dan inklusif, dan membangun kapasitas para pelaku sistem pangan.”
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat