Penurunan Populasi Burung Mencerminkan Kondisi Lingkungan Kita
Foto oleh Mohan Murugesan di Unsplash.
Burung merupakan salah satu hewan yang kita jumpai sehari-hari. Tapi tahukah Anda bahwa burung mengalami penurunan populasi di seluruh dunia? Di balik penurunan keanekaragaman hayati, menurunnya populasi burung juga mencerminkan keadaan lingkungan kita yang rusak.
Mengapa burung penting?
Sebuah laporan oleh BirdLife International berjudul “Keadaan Burung Dunia 2022” menyuguhkan wawasan tentang krisis populasi burung dan solusi yang diperlukan. BirdLife International adalah kemitraan global dari 119 organisasi non-pemerintah dengan tujuan bersama untuk melestarikan burung dan habitatnya.
Burung dapat berperan sebagai barometer kesehatan lingkungan. Ini karena burung peka terhadap perubahan lingkungan, belum lagi mereka adalah spesies yang dipelajari dengan sangat baik dengan taksonomi yang relatif diketahui dengan baik dan stabil. Saat ini, ada lebih dari 11.000 spesies burung hidup di seluruh dunia, dan kebanyakan burung dapat diidentifikasi melalui pengamatan saja.
Seperti spesies lain, burung memiliki tempat mereka sendiri di ekosistem. Mereka bertindak sebagai predator, penyerbuk, penyebar benih, pemakan bangkai, dan pembangun ekosistem, bersama hewan-hewan lainnya. Mengamati, mendengar, dan berinteraksi dengan burung juga baik bagi kesehatan manusia. Studi menunjukkan bahwa burung juga dapat menghilangkan depresi, kecemasan, dan stres pada manusia.
Mengapa populasi burung menurun?
Sekitar 187 spesies burung diduga punah sejak tahun 1500. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 49% spesies burung (5.421) di seluruh dunia mengalami penurunan populasi. Indonesia menduduki puncak daftar negara dengan jumlah spesies burung yang terancam punah paling banyak secara global, yakni 162 spesies. Lebih lanjut, laporan tersebut mencatat bahwa spesies burung yang hidup di daerah tropis lebih terancam daripada yang hidup di daerah beriklim sedang.
Ancaman yang saat ini paling berdampak terhadap spesies burung yang terancam punah secara global adalah:
- Ekspansi dan intensifikasi pertanian (1.026 spesies, 73%)
- Penebangan (710 spesies, 50%)
- Spesies invasif dan spesies yang bermasalah lainnya (567 spesies, 40%)
- Perburuan (529 spesies, 38%)
- Perubahan iklim (479 spesies, 34%)
Baik habitat maupun burung mengalami dampak yang signifikan. Konversi dan degradasi habitat, tingkat kematian burung, penurunan reproduksi, dan peningkatan persaingan ditengarai sebagai efek yang disebabkan oleh ancaman di atas, di mana sebagian besar spesies lebih rentan terkena dampak lebih dari satu ancaman.
Apa langkah selanjutnya?
Untungnya, laporan itu menyebut bahwa solusinya ada. Laporan tersebut memaparkan daftar tindakan untuk membantu pemulihan spesies dan habitat burung yang terancam. Daftar lengkap tindakan yang direkomendasikan melibatkan aktor lintas pemangku kepentingan dan lintas-sektor, karena kolaborasi dan komitmen sangat penting. Di antaranya adalah:
- Melindungi dan mengelola kawasan penting secara efektif untuk burung dan keanekaragaman hayati lainnya.
- Melestarikan kawasan-kawasan penting melalui praktik pengelolaan berkelanjutan yang telah lama diterapkan oleh masyarakat adat atau masyarakat lokal.
- Mencegah eksploitasi berlebihan dan pembunuhan burung secara ilegal melalui undang-undang nasional dan internasional yang kuat yang didukung oleh penegakan, pemantauan, dan keterlibatan yang efektif dengan berbagai pemangku kepentingan.
- Meminimalkan dampak infrastruktur energi melalui pemetaan sensitivitas unggas untuk mengurangi benturan antara satwa liar dan pengembangan energi terbarukan.
- Mengarusutamakan keanekaragaman hayati di masyarakat dengan meningkatkan investasi dalam konservasi untuk memastikan bahwa alam terintegrasi secara luas ke dalam kebijakan publik dan proses pengambilan keputusan dan perencanaan.
Baca laporan lengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional