Program MIKE Pantau Pembunuhan Gajah untuk Mendukung Konservasi Gajah Asia
14 Maret 2024
Foto: Penny Ash di Pixabay.
Sejak dahulu, gajah Asia dihormati sebagai simbol budaya. Mereka memainkan peran penting dalam ekosistem, antara lain sebagai penyebar biji-bijian, menjaga vegetasi dan habitatnya, serta menjadi daya tarik pariwisata. Sayangnya, populasi gajah Asia terus menurun dan kini terancam punah berdasarkan Daftar Merah IUCN. Merespons keadaan ini, Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora yang Terancam Punah (CITES) meluncurkan Program Monitoring of the Illegal Killing of Elephants (MIKE) untuk mendukung konservasi gajah Asia.
Ancaman terhadap Gajah Asia
Gajah Asia merupakan mamalia darat terbesar di benua Asia. Mereka dapat ditemui di Bangladesh, Bhutan, India, Nepal, Sri Lanka, Kamboja, Tiongkok, Indonesia (Kalimantan dan Sumatra), Laos, Malaysia (Semenanjung Malaysia dan Sabah), Myanmar, Thailand, dan Vietnam, dengan perkiraan luas wilayah jelajah mencapai 486.800 km2.
Di hutan dan padang rumput yang merupakan habitat mereka, gajah Asia membantu menjaga keseimbangan dengan menyebarkan benih dan mencegah pertumbuhan berlebih dengan cara memakannya. Ukuran tubuh mereka menciptakan jalur di hutan lebat saat mereka melakukan perjalanan, memberikan akses jalan bagi satwa liar lainnya.
Ancaman utama terhadap gajah Asia adalah fragmentasi dan hilangnya habitat, konflik dengan manusia, serta perburuan dan perdagangan ilegal. Dengan ancaman-ancaman tersebut, populasi Gajah Asia diasumsikan mengalami penurunan setidaknya 50% dalam tiga generasi terakhir.
Program MIKE
Program MIKE adalah sistem berbasis lokasi yang memantau tren jumlah gajah yang dibunuh secara ilegal. Program ini didukung oleh organisasi lain, seperti Uni Internasional untuk Konservasi (IUCN) Asia, yang memberikan dukungan terhadap Program MIKE di Indonesia, Laos, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Pada 30–31 Januari 2024, negara-negara wilayah jelajah gajah Asia dan organisasi terkait menggelar pertemuan di Hua Hin, Thailand, untuk menyampaikan perkembangan mereka dalam penerapan Program MIKE. Selama tiga tahun terakhir, Program MIKE dan IUCN telah menyediakan data dan informasi yang dapat diandalkan untuk membantu negara-negara di wilayah jelajah dalam upaya konservasi gajah Asia. Data mengenai penyebab kematian gajah dapat membantu dalam mendapatkan pemahaman mengenai ancaman dan menemukan faktor penyebab konflik manusia-gajah.
Program MIKE juga berfokus pada pengembangan kapasitas lokasi. Program ini menawarkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung penegakan hukum terhadap satwa liar, sebuah alat evaluasi untuk membantu memahami status upaya penegakan hukum terhadap satwa liar, menentukan bidang-bidang utama dimana investasi dapat ditargetkan, dan memantau kemajuan dalam memperkuat kapasitas penegakan hukum terhadap satwa liar.
Meningkatkan Sumber Daya
Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan, perlu lebih banyak sumber daya untuk melindungi populasi gajah Asia yang mengalami penurunan. Masa depan spesies ini akan bergantung pada mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan ilegal, perdagangan, dan aktivitas penyelundupan. Pendanaan jangka panjang yang menyeimbangkan antara pelestarian mata pencaharian masyarakat dan konservasi gajah sangat penting untuk memastikan hidup berdampingan secara sehat antara manusia dan hewan di suatu wilayah.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
-
Nazalea Kusuma
Prayul is a Reporter at Green Network Asia. She graduated from Adi Buana University with a bachelor's degree in Biology.
-
Prayul Sartika
-
Prayul Sartika
-
Prayul Sartika
-
Prayul Sartika

Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah