Taiwan Sediakan Produk Menstruasi Gratis di Sekolah dan Kampus
Foto: Freepik.
Menstruasi adalah siklus alami periodik pada organ reproduksi perempuan. Bagi sebagian perempuan, menstruasi dapat sangat menyakitkan. Tak sekadar gejolak biologis yang lewat begitu saja, menstruasi memerlukan produk sanitasi setiap bulannya. Untuk meningkatkan akses terhadap produk menstruasi dan mengatasi kemiskinan menstruasi, Taiwan menyediakan produk menstruasi gratis di sekolah, kampus, dan tempat-tempat umum lainnya.
Kemiskinan Menstruasi
Memastikan akses yang adil terhadap produk menstruasi sangat penting untuk mendukung hak-hak reproduksi perempuan. Namun, di berbagai tempat, masih banyak perempuan yang menghadapi kemiskinan menstruasi. Kemiskinan menstruasi adalah kurangnya akses terhadap produk menstruasi, pendidikan menstruasi, hingga fasilitas kebersihan dan pengelolaan limbah. Penyebabnya bisa karena ketidakmampuan membeli atau tidak adanya akses terhadap produk-produk tersebut.
Berbagai negara masih menerapkan “pajak tampon” pada produk-produk menstruasi, menganggapnya sebagai barang yang tidak penting dan memahalkan harganya. Kelompok difabel dan mereka yang tinggal di daerah yang terdampak konflik atau bencana alam mengalami kemiskinan menstruasi yang lebih parah.
Meningkatkan Akses terhadap Produk Menstruasi
Untuk mengakhiri kemiskinan menstruasi, beberapa negara telah mulai menyediakan produk menstruasi gratis. Di Skotlandia, misalnya, produk-produk menstruasi dibagikan secara gratis bagi siapa saja yang membutuhkan. Hal ini mulai berlaku pada 2022.
Beberapa negara lain juga menunjukkan upaya untuk meningkatkan akses terhadap produk-produk menstruasi. Selandia Baru, Jepang, Kenya, Afrika Selatan, dan beberapa negara lainnya secara umum menyediakan produk menstruasi gratis di sekolah. Pada tahun 2018, pemerintah kota Seoul menyediakan perlengkapan sanitasi gratis di sepuluh tempat umum. Kebijakan ini ditingkatkan pada tahun 2021 dimana bantuan tersebut diberikan secara gratis kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan secara nasional.
Produk Menstruasi Gratis di Taiwan
Di Asia Tenggara, Taiwan menyusul langkah tersebut. Upaya Taiwan untuk mengakhiri kemiskinan menstruasi dimulai di Taipei. Sejak November 2022, Taipei Rapid Transit Corporation telah menyediakan produk perawatan menstruasi berdasarkan permintaan di 20 stasiun.
Beberapa waktu berselang, Kementerian Pendidikan Taiwan mengumumkan investasi sebesar 3,18 juta USD dalam penyediaan produk menstruasi. Per 1 Agustus 2023, produk menstruasi gratis tersedia di semua sekolah, perguruan tinggi, dan sepuluh tempat lainnya. Selain perlengkapan fisik di fasilitas pendidikan, pemerintah Taiwan juga menawarkan subsidi dan kupon bagi pelajar berpenghasilan rendah untuk membeli perlengkapan sendiri.
Menurut Kementerian Pendidikan Taiwan, program ini akan bermanfaat bagi sekitar 95.000 pelajar. Perdana Menteri Taiwan Chen Chien-Jen yakin bahwa kebijakan ini, ditambah dengan pendidikan yang tepat mengenai kesehatan menstruasi bagi semua siswa tanpa memandang gender, akan membantu menghilangkan stigma seputar menstruasi dan mengurangi kesulitan, serta mendorong kesetaraan gender.
Selain di sekolah dan universitas, Taiwan juga menyediakan produk menstruasi gratis di tempat-tempat umum berikut:
- Museum Nasional Ilmu Pengetahuan Alam (Taichung)
- Pusat Pendidikan Sains Nasional Taiwan (Taipei)
- Museum Sains dan Teknologi Nasional (Kaohsiung)
- Museum Nasional Akuarium dan Biologi Kelautan (Pingtung)
- Museum Nasional Ilmu dan Teknologi Kelautan (Keelung)
- Radio Pendidikan Nasional di Akademi Nanhai (Taipei)
- Perpustakaan Pusat Nasional (Taipei)
- Perpustakaan Nasional Taiwan (Taipei Baru)
- Perpustakaan Informasi Publik Nasional (Taichung)
- Pusat Pendidikan Seni Nasional Taiwan (Taipei)
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja