Dampak Kesehatan Perubahan Iklim yang Kian Mengkhawatirkan
Foto: Marcelo Leal di Unsplash.
Perubahan iklim tidak hanya menimbulkan dampak terhadap Bumi dan lingkungan, tetapi juga mempengaruhi kesehatan kita. Di tingkat global, perubahan iklim telah berdampak besar pada sistem layanan kesehatan, dan memaksa banyak orang untuk meningkatkan upaya dalam mempersiapkan dan memitigasi risiko yang semakin besar. Terkait hal ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lancet Countdown menemukan bahwa perubahan iklim telah menimbulkan dampak kesehatan yang kian mengkhawatirkan.
Meningkatnya Dampak Kesehatan Perubahan Iklim
Selepas Perjanjian Paris pada tahun 2015, Lancet Countdown memantau perkembangan, dampak, dan peluang di sektor kesehatan yang berkaitan dengan perjanjian tersebut. Penelitian mereka pada 2024, yang dikembangkan oleh 122 peneliti dari badan-badan PBB dan lembaga akademik di seluruh dunia, mengungkap temuan paling mengkhawatirkan dari hasil pemantauan selama delapan tahun.
Jumlah orang yang mengalami ancaman menyangkut kesejahteraan, kesehatan, dan kelangsungan hidup akibat krisis iklim mencapai rekor tertinggi. Misalnya, angka kematian akibat cuaca panas pada orang berusia di atas 65 tahun meningkat sebesar 167% dibandingkan tahun 1990-an. Tanpa kenaikan suhu, angkanya akan mencapai 65%. Paparan panas juga mempengaruhi kualitas tidur orang-orang secara signifikan, yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka.
Selain itu, kejadian cuaca ekstrem yang mengancam nyawa telah menempatkan lebih banyak orang dalam risiko. Dalam rentang tahun 1981 hingga 2010, frekuensi kekeringan dan gelombang panas yang meningkat menyebabkan 151 juta orang menderita kerawanan pangan pada tingkat sedang hingga parah di 124 negara. Penelitian tersebut mencatat bahwa angka tersebut, yang dinilai pada tahun 2022, merupakan angka tertinggi yang pernah tercatat.
Sementara itu, perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu juga meningkatkan penyebaran penyakit menular mematikan, termasuk demam berdarah dengue dan malaria, bahkan ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak terkena dampak.
Aksi yang Tertunda
Meskipun hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan telah diakui dan dimitigasi sampai batas tertentu, penelitian tersebut menemukan bahwa aksi yang tertunda semakin memperparah risiko kesehatan yang dihadapi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak negara di dunia yang belum siap menghadapi dampak perubahan iklim.
“Hanya 68% negara yang melaporkan penerapan kapasitas manajemen darurat kesehatan yang diwajibkan secara hukum pada tahun 2023, dan hanya 35% negara yang melaporkan kepemilikan sistem peringatan dini kesehatan untuk penyakit yang berhubungan dengan panas, sedangkan 10% negara melakukannya karena kondisi mental dan psikososial,” demikian menurut laporan tersebut. Kurangnya sumber daya finansial menjadi hambatan besar dalam isu ini.
Selain itu, praktik industri padat karbon dan lambatnya penerapan energi terbarukan juga memicu dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Penelitian tersebut mencatat bahwa pada tahun 2023 emisi CO2 global terkait energi mencapai titik tertinggi sepanjang masa, sehingga semakin memperburuk krisis iklim. Pada saat yang sama, sejumlah besar penduduk dunia masih kekurangan energi yang terjangkau, aman, dan bersih, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kesehatan, dan kesejahteraan mereka.
Perlu Dukungan Lintas Sektor
Tanpa adanya komitmen untuk mengatasinya, perubahan iklim akan terus membawa dampak kesehatan yang semakin besar dan luas terhadap masyarakat dunia. Oleh karena itu, mencegah dampak buruk perubahan iklim terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat memerlukan dukungan dan kemauan dari para pelaku utama di berbagai sektor. Pertumbuhan investasi yang pesat, kepemimpinan yang terpercaya, dan keterlibatan berkelanjutan dari para profesional kesehatan dalam pengambilan keputusan terkait perubahan iklim akan menjadi tindakan penting untuk meminimalkan dampak dan risiko kesehatan dari krisis iklim secara bertahap.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan