Pentingnya Perubahan Perilaku dalam Mengelola Sampah Rumah Tangga
Foto: Firre Jue di Unsplash.
Urbanisasi telah mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Di Asia, dimana perekonomian berkembang pesat, sekitar 3,4 miliar orang diperkirakan akan tinggal di wilayah perkotaan pada tahun 2050; dan sebagai konsekuensinya, sampah perkotaan akan semakin menumpuk. Untuk mengatasi sampah perkotaan, diperlukan penanganan menyeluruh pada semua tingkatan, termasuk rumah tangga. Namun, perubahan perilaku terkait sampah rumah tangga merupakan hal yang rumit untuk diwujudkan.
Akumulasi Sampah Perkotaan dan Mismanajemen
Laporan UNEP memperkirakan bahwa dalam kurun waktu 2020 hingga 2050, sampah padat perkotaan akan meningkat dari 2,1 miliar ton menjadi 3,8 miliar ton per tahun. Celakanya, sebagian besar sampah tersebut tidak akan terolah, sedangkan yang didaur ulang atau diubah menjadi energi tidak sampai 1 miliar ton jumlahnya.
Di antara negara-negara ASEAN, Singapura menghasilkan sampah perkotaan per kapita terbanyak, yakni 3,8kg/hari. Namun, Thailand diprediksi akan menjadi penghasil sampah terbesar pada tahun 2025. Sampah organik di Thailand, seperti sampah makanan, menyumbang proporsi tertinggi yaitu sekitar 64%. Plastik menempati urutan kedua (17,6%), dengan peningkatan yang mengkhawatirkan sebesar 7–8% per tahun.
Selain itu, kesalahan pengelolaan sampah merupakan masalah yang lazim terjadi di Asia. Pembakaran terbuka secara terbuka dan meluapnya TPA yang mengakibatkan polusi udara, tanah, air, dan laut yang parah. telah menjadi pemandangan yang lazim kita jumpai. Selain merusak lingkungan, polusi juga berdampak negatif terhadap kesehatan manusia.
Studi Kasus Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Bangkok
Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Stockholm Environment Institute (SEI) mengkaji pengelolaan sampah di dua distrik Bangkok, Bang Kapi dan Khlong Toei. Dua distrik ini masing-masing menghasilkan lebih dari 114.000 dan 99.000 ton sampah, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional Bangkok yang menghasilkan 68.319 ton sampah. Penelitian tersebut mensurvei pekerja sampah informal, toko barang rongsokan, dan rumah tangga untuk memahami perspektif material, sosial, dan perilaku yang relevan dalam pengelolaan sampah.
Dalam konteks sampah rumah tangga, 83% sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik seperti sampah makanan, namun hanya 11% yang dikomposkan. Terkait perilaku pengelolaan sampah rumah tangga, 92% responden setuju bahwa “pemilahan sampah rumah tangga harus dilakukan oleh semua orang”; namun dalam tataran tindakan, tingkat pemilahan sampah aktual hanya 25%.
Motif Utama
Motif ekonomi menjadi sebagai salah satu faktor kunci dalam pemilahan sampah rumah tangga, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. Banyak rumah tangga berpenghasilan rendah memilah sampah mereka dan menjualnya untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Faktor kunci lainnya tanggung jawab kolektif. Rasa tanggung jawab bermasyarakat yang kuat menjadi alasan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga yang baik. Di sisi lain, masyarakat merasa putus asa karena kurangnya dukungan dari pemerintah atau ketika mereka melihat orang lain tidak menjalankan tugasnya. Seorang responden rumah tangga mengatakan, “Saya bersedia melakukan upaya ini (memilah sampah), namun harus ada tindakan dari pihak pengelola sampah. Kalau tidak, tindakan pada level individu akan terasa mengecewakan.”
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa bagi kelompok sosial-ekonomi bawah dan menengah di Bangkok, isu perubahan iklim dan degradasi lingkungan tidak relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari dan mungkin menjadi pendorong perilaku yang tidak efektif.
Mendorong Perubahan Perilaku
Hambatan utama terkait perilaku pengelolaan sampah rumah tangga yang baik, khususnya pemilahan dan daur ulang, adalah kurangnya waktu, kesempatan, fasilitas, informasi, dan insentif lainnya. Selain itu, ketidakpercayaan terhadap sistem dan pemangku kepentingan masalah sampah juga menghambat kesediaan individu untuk terlibat dalam upaya ini.
Sejauh ini, sebagian besar upaya daur ulang di Bangkok dan kota-kota serupa lainnya dilakukan oleh sektor swasta. Meskipun cukup membantu, namun upaya dari sektor swasta saja tidak akan cukup untuk mendukung perubahan perilaku yang bermakna dan mencapai ekonomi sirkular.
Oleh karena itu, pemerintah dan para pembuat kebijakan bertanggung jawab untuk menciptakan keadaan yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku. Mengatur industri, membuat sistem pengelolaan sampah sirkular, dan menerapkan insentif, pajak, dan denda adalah beberapa cara untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah perkotaan yang efisien. Dalam hal ini, pekerja sampah informal mesti diakui sebagai aktor penting dan diberdayakan, semisal dengan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan.
Selain itu, kampanye pendidikan dan program pelatihan juga perlu untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan dalam pengelolaan sampah, seperti membuat kompos, menggunakan kembali material sampah, dan menghasilkan pendapatan dari pemilahan sampah. Hal ini akan sangat membantu bagi rumah tangga berpendapatan rendah hingga menengah.
Terakhir, meningkatkan kesadaran akan perubahan iklim dan pentingnya melestarikan lingkungan akan bermanfaat bagi perubahan norma jangka panjang. Pendekatan ini perlu menjadi arus utama, khususnya di kalangan kaum muda dan semua orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan