KTT Iklim Afrika 2023: Peluang pembangunan ekonomi dalam upaya dekarbonisasi global
Foto: United Nations.
Seluruh dunia merasakan dampak perubahan iklim. Namun, penting untuk menyadari bahwa mereka yang berkontribusi paling sedikit terhadap perubahan iklim sering kali adalah pihak yang paling terdampak, termasuk negara-negara di benua Afrika. Sementara itu, benua tersebut juga memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap aksi iklim. Pada September 2023, pemimpin negara-negara Afrika berkumpul dalam KTT Iklim Afrika (Africa Climate Summit) untuk pertama kalinya.
Fokus pada Peluang
“Kita hadir di sini bukan untuk mengumpulkan kesedihan,” kata Presiden Republik Kenya, William Samoei Ruto.
Negara-negara di Afrika mengalami dampak perubahan iklim yang parah seperti kekeringan, desertifikasi, dan cuaca ekstrem, yang berujung pada pengungsian warganya, krisis pangan, dan kelangkaan air. Secara umum, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 di Afrika. Saat ini, sekitar 400 juta orang tidak memiliki akses ke air bersih untuk minum, 600 juta orang tidak memiliki akses listrik, dan 700 juta orang masih tanpa fasilitas sanitasi yang layak.
Terlepas dari segala tantangannya, negara-negara Afrika memilih untuk fokus kepada peluang yang ada. Mereka mengklaim siap untuk berkontribusi kepada aksi iklim global dan upaya-upaya dekarbonisasi.
Mohamed Adow, pendiri dan direktur Power Shift Africa, mengatakan, “Kita mempunyai energi bersih dan terbarukan yang berlimpah, dan sangat penting bagi kita untuk memanfaatkannya untuk mendukung kesejahteraan di masa depan. Namun untuk mewujudkannya, Afrika membutuhkan pendanaan dari negara-negara yang menjadi kaya karena penderitaan yang kita alami.”
KTT Iklim Afrika 2023
Diselenggarakan oleh Uni Afrika, KTT Iklim Afrika 2023 adalah konferensi iklim pertama di benua tersebut. Konferensi ini mengundang pemimpin negara-negara Afrika, organisasi antarpemerintah, sektor swasta, komunitas lokal, dan pelaku aksi iklim lainnya untuk berkumpul di Kenyatta International Convention Centre di Nairobi, Kenya.
Mulai dari 4–6 September, KTT Iklim Afrika 2023 menyediakan platform untuk mewartakan, mendiskusikan, dan membagikan informasi tentang cara-cara mengakselerasi pembangunan ekonomi di Afrika dan berkontribusi terhadap upaya dekarbonisasi global. Semua pembahasan ini nantinya akan menghasilkan Deklarasi Nairobi.
Deklarasi Nairobi menyatakan tujuan negara-negara Afrika untuk melewati pembangunan industrial tradisional dan fokus kepada pertumbuhan ekonomi hijau. Deklarasi tersebut menyebutkan “transisi energi berkeadilan dan pembangkitan energi terbarukan untuk aktivitas industrial, praktik-praktik cerdas iklim dan pertanian restoratif, serta perlindungan penting dan peningkatan terhadap alam dan keanekaragaman hayati.”
Dalam dokumen tersebut, para pemimpin negara Afrika juga menyerukan kebutuhan akan pembiayaan aksi iklim. Diperkirakan, sekitar 40% sumber energi terbarukan Bumi ada di negara-negara Afrika. Namun, hanya 2% dari total 3 triliun USD investasi global untuk energi terbarukan masuk ke benua itu. Berangkat dari hal ini, negara-negara Afrika menyerukan kebutuhan akan mekanisme pembiayaan global yang melibatkan lebih banyak pendanaan, pajak tertarget, dan pembiayaan dengan risiko tinggi yang lebih tinggi dan lebih murah.
Melihat ke Depan
Deklarasi Nairobi adalah tumpuan negara-negara Afrika dalam berkontribusi dan memposisikan diri di prosesi perubahan iklim global, termasuk dalam COP28 dan acara-acara mendatang. Dokumen tersebut juga berisi peringatan dan tuntutan untuk mengakselerasi inisiatif-inisiatif yang sedang berlangsung, termasuk Dana Loss and Damage dari COP27, Inisiatif Bridgetown, Agenda Accra-Marrakech, Stimulus TPB, dan Pakta Baru Pembiayaan Global dari KTT Paris.
Deklarasi Nairobi juga menyatakan bahwa KTT Iklim Afrika akan menjadi acara dua tahun sekali. KTT ini akan menjadi tempat untuk “menetapkan visi baru benua Afrika dengan mempertimbangkan perkembangan iklim global dan isu-isu pembangunan.”
Penerjemah: Kresentia Madina
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit