Mengakhiri Kesenjangan Pelayanan Kanker di Asia Tenggara
8 Februari 2024
Foto: National Cancer Institute di Unsplash.
Asia Tenggara merupakan rumah bagi lebih dari 680 juta penduduk dengan sejarah dan budaya yang kaya. Terlepas dari pertumbuhan dinamis yang sedang berlangsung di wilayah ini, kesenjangan pelayanan bagi penderita kanker masih menjadi tantangan. Hal ini mencakup kesenjangan dalam risiko kanker, skrining, akses pelayanan, dan tingkat kelangsungan hidup. Lalu, apa saja faktor yang menyebabkan kesenjangan pelayanan kanker di Asia Tenggara?
Kanker di Asia Tenggara
Kanker adalah penyebab kematian kedua setelah penyakit kardiovaskular. Kanker terjadi ketika sel-sel abnormal tumbuh secara tidak terkendali di organ atau jaringan tubuh mana pun, menyerang bagian lain dari organ atau tubuh. Pada tahun 2020, WHO Wilayah Asia Tenggara memperkirakan terdapat 1,4 juta kematian yang disebabkan kanker dan 2,2 juta kasus baru di wilayah tersebut.
Sebuah penelitian menunjukkan bagaimana identitas seseorang mempengaruhi akses mereka ke pelayanan kanker. Identitas ini bersifat lintas sektor, yang melibatkan ras/etnis, agama, jenis kelamin, dan identitas gender, serta letak geografi, bahasa, dan garis keturunan. Studi keterkaitan yang kompleks ini menegaskan bahwa faktor penentu sosial dalam kesehatan saling berhubungan.
Kesenjangan Pelayanan Kanker Antarsektor
Kesenjangan geografis dan sosio-ekonomi di Asia Tenggara berperan besar dalam membentuk kesenjangan pelayanan kanker yang mengkhawatirkan di Asia Tenggara. Negara-negara berkembang di kawasan ini menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, terutama di daerah pedesaan. Hanya ada sejumlah tenaga profesional dan peralatan medis yang berspesialisasi pada pengobatan kanker, seperti di Filipina, di mana hanya ada 0,71 ahli onkologi untuk setiap 100.000 penduduk Filipina. Seringkali, pasien kanker harus mencari pengobatan di luar negeri karena kurangnya fasilitas yang memadai di negara asalnya.
Selain itu, gender, kepercayaan, dan etnis merupakan beberapa aspek sosial budaya yang mempengaruhi pelayanan kanker. Pada tahun 2018, terdapat lebih dari 60% kematian pada perempuan yang menderita kanker serviks di antara 90% kematian global di negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah di wilayah ini. Perempuan masih mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kanker karena berbagai bentuk diskriminasi gender, seperti misogini, stereotip, dan ekspektasi peran gender.
Selain itu, prevalensi nilai-nilai tradisional Asia di kalangan masyarakat di Asia Tenggara, yang ditandai dengan konservatisme dan kolektivisme, juga turut menyebabkan kesenjangan pelayanan kanker dan menjadi penghalang untuk mengakses layanan kesehatan dan menerima dukungan sosial atau negara.
Kelompok agama yang berbeda sering mengalami kesenjangan dalam layanan kanker, karena agama, budaya, etnis, dan geografi saling berkaitan erat. Sebagai contoh, sebuah penelitian menemukan bahwa pada tahun 2007, hanya 30% perempuan Muslim yang dilaporkan memanfaatkan program pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dari pemerintah, dibandingkan dengan 41% perempuan Buddha di Thailand Selatan. Kesenjangan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti terbatasnya kesadaran akan metode pemeriksaan, keyakinan fatalistik, dan tingkat literasi kesehatan yang berbeda-beda. Beberapa kelompok lebih memilih paranormal penyembuh daripada menjalani terapi kanker modern.
Lebih lanjut, latar belakang etnis yang berbeda juga dapat menghambat pelayanan kanker. Di Singapura, misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa komunitas Melayu memiliki kemungkinan lebih rendah untuk melakukan skrining kanker dibandingkan dengan penduduk etnis Tionghoa, sedangkan para pekerja migran di negara ini menghadapi hambatan dalam mengakses layanan kesehatan umum, sehingga menghambat akses mereka ke pelayanan kanker.

Strategi yang Diterapkan
Mengatasi kesenjangan pelayanan kanker sangat penting untuk mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif untuk semua. Beberapa praktik telah diterapkan oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk mengatasi tantangan tersebut, seperti Singapura, Filipina, Myanmar, Malaysia, dan Thailand.
Pada tahun 2023, Singapura mewajibkan perusahaan untuk menyediakan asuransi kesehatan bagi pekerja migran, yang mencerminkan upaya lintas sektoral yang luas untuk mempromosikan kesetaraan kesehatan. Melalui Undang-Undang Pengendalian Kanker Terpadu Nasional tahun 2019, Filipina mendirikan pusat kanker komprehensif berskala nasional melalui kemitraan publik-swasta, yang bertujuan untuk mendistribusikan akses ke pelayanan spesialis.
Sementara itu, Myanmar secara aktif berpartisipasi dalam inisiatif global City Cancer Challenge, yang bertujuan untuk memperkuat pelayanan kanker di negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah melalui solusi yang dikembangkan secara lokal. Lalu, Malaysia mengimplementasikan berbagai proyek, termasuk kampanye Beat Prostate Cancer, untuk mengedukasi masyarakat; sementara Thailand meluncurkan kampanye Cancer Anywhere untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya kanker.
Secara keseluruhan, perjalanan untuk mengakhiri kesenjangan pelayanan kanker di Asia Tenggara masih panjang. Ini merupakan masalah kompleks dan membutuhkan partisipasi dari semua pemangku kepentingan. Mengakui dan mengangkat suara berbagai kelompok dalam penelitian, praktik klinis, dan kebijakan kesehatan penting untuk mengakui dan mengatasi kesenjangan sosial-ekonomi di kawasan ini. Selain itu, memahami keyakinan agama dan budaya di wilayah tersebut, mengatasi ketimpangan, meningkatkan literasi kesehatan, dan mengurangi biaya perawatan merupakan hal yang sangat penting. Mempertimbangkan identitas dan latar belakang unik dari setiap penduduk sangat penting untuk menciptakan sistem layanan kesehatan yang tidak meninggalkan siapapun.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar dan Busra Aulya
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Dandy is a Reporter at Green Network Asia. He is currently studying undergraduate program of Materials Engineering at Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS).
-
Dandy Rheznandya
-
Dandy Rheznandya
-
Dandy Rheznandya
-
Dandy Rheznandya
Madina is the Assistant Manager of Stakeholder Engagement at Green Network Asia. She holds a bachelor’s degree in English Studies from Universitas Indonesia. As part of the GNA In-House Team, she supports the organization's multi-stakeholder engagement across international organizations, governments, businesses, civil society, and grassroots communities through digital publications, events, capacity building, and research.
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina
-
Kresentia Madina

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut