Mengatasi Tantangan dalam Implementasi Adaptasi Berbasis Ekosistem (EbA)
Hutan Mangrove di Pulau Munroe, India. | Foto: Cymatics .in di Unsplash.
Perubahan iklim berdampak pada semua sektor industri, mulai dari pertanian hingga konstruksi. Oleh karena itu, semua sektor harus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Berbagai strategi adaptasi tengah dikembangkan untuk mencari langkah yang efektif, berkeadilan, dan terukur dalam mencapai ketahanan iklim, salah satunya Adaptasi Berbasis Ekosistem. Namun, implementasi EbA yang memadai masih menjadi tantangan.
Adaptasi Berbasis Ekosistem (EbA)
Adaptasi berbasis ekosistem (Ecosystem-based adaptation/EbA) adalah strategi ketahanan iklim yang berpusat pada solusi berbasis alam dan layanan ekosistem. Sederhananya, EbA mencakup pemulihan, konservasi, dan pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan yang akan mengurangi dampak perubahan iklim terhadap manusia dan lingkungan, seperti gelombang panas, badai, dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya.
Beberapa contohnya adalah bagaimana hutan mangrove menjadi benteng pertahanan dari banjir alam dan bagaimana lahan basah perkotaan menjadi sistem pengelolaan air alami yang juga membantu dalam mencegah banjir. Meskipun telah terbukti efektif, EbA masih sulit untuk diimplementasikan secara luas.
Tantangan dalam Implementasi EbA
Tantangan utama dalam implementasi EbA adalah sifat perubahan iklim yang terus berkembang. Pemanasan global dan perubahan iklim telah menyebabkan perubahan yang begitu cepat, mendadak, dan menyeluruh terhadap keadaan di Bumi. Oleh karena itu, kunci untuk mengatasinya adalah menciptakan program dan kebijakan adaptasi iklim yang dapat mengimbangi kecepatan tersebut. Selain itu, tantangan lain yang sering terjadi dalam implementasi EbA meliputi:
- Kesenjangan pengetahuan dan prinsip-prinsip yang saling bertentangan: Akses terhadap pengetahuan dan informasi, terutama di tingkat lokal, masih terbatas. Kesenjangan antara EbA dan tradisi juga ikut berperan. Misalnya, sebagian orang masih enggan mencoba pendekatan baru karena ikatan spiritual dengan praktik atau area tertentu.
- Kepentingan jangka pendek versus jangka panjang: Pada kenyataannya, daya tarik kepentingan ekonomi jangka pendek sering kali mengalahkan manfaat jangka panjang dari sebuah praktik baru. Ini adalah hal yang dapat dimengerti bagi orang-orang dengan kebutuhan pendapatan langsung, tetapi sayangnya pemerintah dan sektor swasta juga cenderung mengabaikan pendekatan berwawasan ke depan demi keuntungan atau laba politik.
- Kegagalan integrasi dan pelibatan: Terkadang, pendekatan EbA terlalu terfokus secara sempit, mengabaikan hubungan antara konservasi dan kebutuhan ekonomi. Pendekatan top-down yang gagal melibatkan masyarakat lokal—yang merupakan pemangku kepentingan utama—juga menjadi penyebabnya.
- Kesenjangan gender dan dinamika sosial: Studi kasus mengungkapkan bahwa perempuan lebih terbuka terhadap pengetahuan baru, pelatihan, dan praktik baru. Namun, pengambilan keputusan utamanya tetap berada di tangan laki-laki. Mereka yang lebih muda atau berpendidikan tinggi lebih reseptif, tetapi juga lebih mungkin untuk mengejar peluang profesional lainnya.
- Pendanaan terbatas: Akses ke pendanaan dan mekanisme pembiayaan yang terbatas, terutama bagi praktisi petani kecil, menghambat penerapan dan upaya peningkatan skala EbA.
Strategi dan Rekomendasi
Berdasarkan tantangan tersebut, berikut beberapa strategi utama yang direkomendasikan untuk memperlancar implementasi EbA:
- Menyiapkan upaya pendidikan yang luas bagi para praktisi, komunitas lokal, dan pemerintah daerah. Selain data dan informasi, pengetahuan yang dapat ditindaklanjuti akan berguna bagi para pengguna utama. Selain itu, pengetahuan, kebijaksanaan, dan praktik dari lapangan juga harus dibawa ke tingkat global untuk membuka inovasi baru.
- Mengatasi kebutuhan infrastruktur untuk informasi dan peralatan. Hal ini akan membantu membuka jalan bagi adaptasi yang lebih luas dan mengurangi risiko semakin dalamnya kesenjangan akibat akses yang tidak merata terhadap sumber daya dasar.
- Memberikan bantuan keuangan serta mendukung pilihan mata pencaharian bagi para pengguna utama. Hal ini dapat mengatasi hambatan ekonomi dan memungkinkan lebih banyak pemangku kepentingan di semua tingkatan untuk bereksperimen dengan pendekatan baru.
- Melibatkan Masyarakat Adat dan komunitas lokal dari tahap perencanaan dan perancangan hingga implementasi dan pemantauan untuk lebih memahami kebutuhan mereka, menjembatani kesenjangan sistem pengetahuan, dan meningkatkan pengumpulan data real-time di lapangan.
- Menganalisis dinamika kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) di area sasaran dan mengintegrasikan temuan dalam perancangan dan implementasi inisiatif EbA. Hal ini akan membantu memastikan hasil yang efektif dan inklusif.
- Mengalihkan dan merevitalisasi pendanaan, subsidi, dan mekanisme pembiayaan yang ada untuk mendorong dan memberi insentif bagi implementasi EbA. Melibatkan sektor swasta dan memulai kemitraan publik-swasta untuk EbA juga penting.
- Memastikan kebijakan yang kohesif di seluruh kementerian dan lembaga pemerintah, termasuk integrasi dengan perencanaan di tingkat nasional dan daerah, untuk solusi EbA. Kebijakan juga harus memungkinkan dan mendorong komunitas lokal untuk memimpin dan menciptakan perubahan dari bawah.
Mengarusutamakan Adaptasi Berbasis Ekosistem
Selain penerapan yang tepat dan efektif, menjaga adaptasi berbasis ekosistem jangka panjang juga penting. Program EbA harus fleksibel dan berkelanjutan serta tidak diganti sembarangan, terutama dengan program atau kebijakan yang merugikan.
Selain itu, dalam upaya mengarusutamakan adaptasi berbasis ekosistem, penting untuk dipahami bahwa kesehatan ekosistem saja bukanlah satu-satunya solusi. Dengan kata lain, implementasi EbA tidak dapat dilakukan secara terpisah, melainkan harus menjadi aspek yang terintegrasi dalam strategi adaptasi iklim yang menyeluruh, beriringan dengan solusi rekayasa (abu-abu), pendekatan hibrida, serta langkah-langkah sosial dan transformasi struktural.
Editor: Lalita Fitrianti
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan